Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Kembalikan kunci mobilku


Selepas kepergian Nanda dan Mama Lisa, Kia membawa Bisma duduk diruang tv menonton sembari memberinya obat dan vitamin seperti biasa. Kia mengecek semua obat yang ada itu satu persatu, menyesuaikan antara botol dan isinya.


"Sayang, kok lama?" tanya Bisma.


"Ehmm, Mas... Siapa yang beliin obat ini?" tanya Kia yang menemukan kejanggalan dari obat yang ada. Terlebih pada vitamin mata Bisma saat rupa di difoto amat berbeda dengan apa yang ada saat ini.


''Daksa, Sayang... Kenapa? Ada yang aneh?" tanya Bisma balik. Kiapun menjelaskan semuanya mengenai kejanggalan obat itu dan memita maaf karena baru memperhatikannya saat ini. Smua karena obat itu sudah akan habis dan besok adalah jadwal kontrol Bisma ke Rumah Sakit, dan Kia perdana yang akan mengantarnya. Bisma adalah orang yang tak suka penasaran, hingga Ia langsung menelpon Daksa saat itu juga dengan bantuan Kia.


"Hah... Beda? Bagaimana bisa, Bis? Bahkan sejak aku merawatmu, obat itu masih sama dan tak ada yang berbeda." jelas Daksa padanya, yang bahkan Ia menyebut semua nama dari obat itu karena memang telah sangat hafal semuanya bahkan bentuk dan warnanya.


"Atau... Ada yang diam diam merubahnya? Tapi sejak kapan?" lirih Daksa dari arah sana. Ia pun tengah berfikir keras dan mencerna semuanya dengan kepala yang dingin saat ini. 


"Maaf... Kia lalai,"


"He, sayang... Sudahlah, tak ada yang perlu disalahkan saat ini. Simpan, dan malam ini aku tak perlu minum obatku karena besok kita akan minta obat baru." 


"Ngga papa?" tanya Kia, yang agak ragu jika Bisma tak meminum obatnya. 


"Hey... Aku tak akan mati hanya karena tak minum obat. Lagipula ada kau,"


"Hah... Gimana?" Kia menelengkan kepala untuk mempertegas pertanyaannyaa untuk Bisma. Ucapan itu terdengar kurang jelas dan mengganggu fokusnya saat ini.


"Tak apa... Aku tak bicara apapun, Sayang. Hanya besok kita akan minta obat baru pada Dokter,"


"Maaas! Kalu ngga bilang, Kia gelitikin nih..." ancam Kia dan langsung menggelitik pinggan Bisma. Namun, Bisma hanya tersenyum seperti tak memiliki rasa geli ditubuhnya. Tangan Kia berpindah pada ketiak, bawah lengan, dan yang lain yang mungkin menimbulkan geli tapi Bisma tetap datar dan hanya melengkungkan senyum jahatanya.


"Aku itu ngga gelian, tapi aku tahu jika kamu penggeli. Hahhahaha!" tawa Bisma terdengar mengerikan, meraih pinggang Kia dan mengeglitikinya hingga Kia menjerit kegelian. Bahkan Kia meringkuk meminta ampun agar Bisma melepaskannya karena lemas. Saat Bisma melepas itu, Kia kini tengah berada dalam kungkungannya, dengan tatapan mata dan hembusan napas yang saling beradu diantara keduanya.


Kreeek!! Pintu kamar Jinan terbuka. Ia keluar dengan wajah sinis menatap keduanya disana. Kia langsung beranjak duduk dan merapikan diri karena takut jika Surya akan ikut keluar bersamanya. Ia juga segera merapikan Bisma yang cukup acak-acakan dengan lipstiknya yag sedikit menempel diwajah tampan itu.


"Ngga inget tempat... Kalau mau mesraan itu dikamar, jangan disini. Ngga sadar dirumah ini banyak orang? Mentang pengantin baru." cebiknya kesal.


"Kau, Jinan?" panggil Bisma. Kia berbisik bahwa itu benar Jinan dan tengah menuju dapur utnuk mengambil minuman, dan mengatakan lagi jika Jinan berbalik lagi menuju kamarnya saat ini.


"Jinan... Kakak mau bicara,"


"Besok aja, ini udah malam."


"Jinan!" kali ini suara Bisma sedikit kuat hingga membuat adiknya itu menghentikan langkah dan menatapnya dengan marah.


"Jinan mau istirahat... Jinan capek," kilahnya. tapi, isyarat yang diberikan Bisma membuatnya kalah lalu duduk bergabung bersama Kia.


"Apalagi?" tanya Jinan dengan sangat malas, apalagi ada Kia dihadapannya saat ini.


"Kembalikan kunci mobilku," pinta Bisma dengan mengulurkan tanganya, dan tepat didepan wajah Jinan saat ini. Jangan ditanya lagi bagaimana ekspresi kesal Jinan, dengan mata melotot, wajahnya yang tampak amat tegang dan deru napasnya yang kuat naik turun. Ia amat murka rasanya, apalagi Ia tahu credit cardnya juga telah diblok. Siapa lagi kalau bukan Kakak dan asistennya itu yang melakukan.