Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Ngga bisa gitu, Kia!


Hari telah berganti dengan pagi dan Kia masih ditempatnya duduk dan termenung. Dalam lamunan itu, samar-samar Ia menatap sebuah speed boath yang datang menghampirinya. Nath berdiri saat Ia tahu jika itu adalah Daksa bersama beberapa pasukan yang Ia kerahkan untuk mencari Bisma saat itu.


Bahkan hingga lebih dari tujuh jam, Bisma tak juga ditemukan oleh para tim yang bahkan menyelam dengan dalam untuk mencari Bisma bagaimanapun keadaannya.


"Kia!" Daksa naik kekapal itu dan menghampiri istri sahabatnya yang tengah layu. 


"kau tak apa?" Daksa mengusap rambut kusut Kia sesaat dan menatap wajahnya yang amat kusam saat ini.


"Hey! apa-apaan kau seperti itu dengan Kia? Mau curi kesempatan kamu?" sergah Surya yang datang dari arah berlawanan. Ia menarik Kia dari Daksa dengan kasar, bahkan hingga lengan Kia tampak memerah karenanya.


"Sakit, Surya!!" sergah Kia yang berusaha melepas cengkraman itu dari tangannya. Tapi Ia kalah tenaga, hingga akhirnya Daksa harus turun tangan pada surya saat itu.


"Saat Bisma tak ada, Kia adalah tanggung jawabku." tatap tajam Daksa padanya. Suryalantas mendengkus kesal dan membalas tatapan itu dengan penuh kebencian.


 Boleh saja Daksa merebut tanggung jawab atas Kia darinya saat ini, tapi saat Bisma benar-benar dinyatakan meningal maka Jinanlah yang akan mengambil alih semua tanggung jawab Bisma pada perusahaan dan semuanya. Dan saat itu, maka Ialah yang akan ditunjuk sebagai penguasa menggantikan Jinan yang tak pernah mengerti apa-apa mengenai hotel mereka.


"Kita pulang sekarang, dan biarkan mereka semua mencari Bisma." bujuk Daksa pada Kia saat itu. Kia hanya mengangguk dan menurutinya, lalu Ia kembali kekamar untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Dan tongkat Bisma Ia serahkan pada Daksa untuk ia jaga.


"Kenapa kamu menurut dengannya, Ki?"  tanya surya, yang tiba-tiba masuk kedalam kamar Kia saat itu. Padahal wanita itu baru selesai mandi dan masih mengenakan kimononya.


"Lancang kamu, Surya! Ngapain kamu masuk kekamarku?" sergah Kia yang menutupi tubuhnya dengan selimut yang asal ia ambil saat itu.


"Aku nanya, kenapa kamu nurut sama dia? Aku yang akan jaga kamu setelah Bisma pergi. Karena aku adik iparnya. Kenapa kamu masih saja terus meremehkan aku, Kia!" bentar Surya dengan segala amarhnya.


"Surya... Dalam hal ini dan sekarang ini, kuasa Daksa lebih dipercaya dibanding kamu. Jadi aku harus ikut Daksa saat ini dengan segala pengawasan dari semuanya. Kamu ngga akan bisa paksa aku untuk nurut sama kamu!" 


"Ngga bisa gitu, Kia!" Surya kembali meraih tangan Kia dan mencengkramnya dengan kuat saat itu. Tapi Kia menepisnya dengan segala tenaga yang Ia miliki meski hasilnya begitu sakit. Kia lantas membentak surya untuk keluar dengan segala ancaman yang Ia lontarkan, dan Surya tak ada pilihan lain selain menurutinya sekarang.


Kia segera mengganti pakaiannya dan keluar menghampiri Daksa yang telah menunggunya. Ia segera pergi, bahkan tak menoleh lagi pada surya yang menatap keduanya dengan amat geram dari kejauhan. 


Speed boat itu melaju dengan kencang meninggalkan kapal pesiar itu, dan Kia masuk ke badan kapal untuk mengistirahatkan dirinya disana. Tanpa mereka sadari, surya mendapat bahan baru untuk membuat sebuah isu untuk keduanya saat itu dengan affair. Ya, Surya memfitnah mereka berdua melakukan affair hingga Kia begitu santai dengan kepergian Bisma yang bahkan belum ditemukan hingga saat ini.


"Lihat? Sejak dulu saya tak yakin dengannya, yang mau saja menikah dadakan dengan seorang pria buta," cecar surya. Dan mereka hanya diam mendengar semua yang surya tuduhkan saat itu.