
Waktu dengan cepat berlalu. Acara mereka telah selesai dan tiba saatnya Oma meminta Kia pada Pak Arman untuk dibawa pulang kerumah utama. Oma mendekat dan bebricara dengan begitu ramah, meskiPak Arman sendiri masih tetap dalam kegamangan hatinya. Karena dari lubuk hatinya terdalam, Ia sama sekali belum siap untuk melepas Kia pergi lagi dari rumah itu. Apalagi setelah ini, Kia adalah hak sepenuhnya dari sang suami. Pak Arman tak akan bisa lagi mengekang atau memaksa putrinya untuk kembali kerumah itu.
"Ibu dan Bapak, bebas mau menemui Kia kapan pun dirumah kami. Dan kami juga, tak akan menahan Kia untuk kemari bermain dan menemui orang tuanya. Kami tak akan mengekang Kia, asal Kia pun sudah melakukan tugasnya pada Bisma dengan baik." ucap Oma sekar pada kedua orang tua Kia. Meski, hanya dijawab anggukan Mama Lisa dan Nanda yang bergandengan tangan sedih akan kehilangan Kia diantara mereka.
Pak Arman benar-benar tak mampu lagi untuk berucap saat ini. Hanya diam dengan segala rasa perih dalam hatinya berusaha tak meneteskan air mata saat kepergian Akia. Apalagi saat melihat Liana dan Daksa turun membawa sekoper besa pakaian yang telah dipersiapkan Kia sejak semalaa. Sebagai tanda bahwa Ia memang benar-benar siap untuk pergi lagi dari rumah itu.
"Baru seminggu, sejak ayah berhasil membawamu kembali kerumah ini. Dan kini, Kamu bahakn akan pergi lebih lama dari sebelumnya." ucap lirih sang Ayah ketika Kia mencium tangan nya.
"Kia juga tak akan bisa mencabut lagi apa yag sudah menjadi keputusan kita, Yah." peluk erat Kia pada sang Ayah. Hingga jatuh lagi air mata Kia untuk yang kesekian kalinya.
Giliran Bisma bersalaman dengan mertua dan memeluknya sebagai permintaan membawa Kia pergi.
"Bisma akan jaga Kia dengan baik. Bisma tak akan membiarkan Kia menangis selama Kia bersama Bisma."
"Ku pegang janjimu. Dan ketika Kia kemari dalam keadaan sedih, maka Ia akan ku tarik kebali kerumah ini." Ucapan Pak Arman terdengar seperti sebuh kenyataan bagi Bisma.
Tak tampak surya dalam prosesi itu. Agaknya Ia sengaja menghindar dari pak Arman, atau bahkan tengah merencanakan sesuatu dirumah utama bersama Jinan. Tapi jika memang semua seperti itu, maka mereka akan tahu bagaimana marahnya Bisma ketika mereka berani mengusik istrinya disana.
"Kak Kia!!" panggil nanda. Ia berlari menghampiri Kia dan memeluknya dengan begitu erat, seolah belum rela ditinggalkan sang kakak yang bahkan belum pernah memberikan senyuman yang manis padanya.
"Kita baru aja sebentar tinggal bareng, udah pergi lagi."
"Kamu seneng kalau aku pergi, karena kamu bakal jadi penguasa dirumah sama hotel ayah." tukas Kia dengan nada juteknya. Meski nanda tahu Ia hanya pura-pura kuat saat itu.
"Nanda akan buktiin, Nanda ngga seperti yang Kakak bilang."
"Ya, kita lihat saja nanti. Jagain tuh, Papa mu. Aku akan jarang pulang, bahkan mungkin engga sama sekali,"
"Kakaaaaak!" ringik Nanda dengan ucapan Kia yang memang selalu blak blakan ditelinganya. Tapi karena sudah terbiasa, Ia pun tak lagi membawanya kedalam rasa sakit di hatinya.
Mereka pergi. Dengan mobil mewah yang Daksa bawa bersama Oma dan Liana. Mereka siap menyambut anggota baru dirumah mewah itu dengan segala euphoria yang ada. Bahkan Oma telah membuat sebuah acara kejutan untuk keduanya.
Sepanjang jalan, Kia tak pernah melepaskan genggaman tangan nya dari Sang suami.
"Bagaimana nanti, jika ada yang ingin kita berpisah?" tanya Kia dengan segala kemungkinan yang ada.
"Cukup kau genggam tangan ku seperti ini, agar aku tahu jika kamu masih ingin bertahan dengan ku. Maka tak ada satupun yang dapat memisahkan kita." jawab Bisma dengan suara datarnya. Meski begitu, amat menusuk kedalam relung hati Kia yang terdalam.