
"Akia! makin lama omongan kamu itu seperti orang ngga pernah mengenyam pendidikan! Siapa yang ajarin kamu seperti itu? Apa karen bergaul dengan pasien mu yang kelas bawah itu?" sergah Pak Arman, yang tampak begitu jengah dengan anak gadisnya yang satu itu. Semakin lama, semakin tak bisa dikendalikan olehnya.
"Ayah jangan bawa-bawa pasien Akia. Mereka ngga ada urusan sama kita."
"Papa, Kak kia, udah yuk... Nga enak kalau di lihat tetangga, nanti. Mending lanjut obrolan nya di dalem," bujuk Nanda, berusaha menengahi keduanya. Walau harus kemabali menerima tatapan sinis dari Kia. Ia pun tertunduk dan menggandeng Papanya untuk masuk ke dalam rumah agar papanya segera istirahat karena lelahnya.
"Cari muka. Yang satu juga, nurut bener sama anak tiri? anak kandung di kacangin." geramnya, menatap marah pada mereka yang telah mendahuluinya disana. ia menyusul, dan menutup pintu ruang tau dengan kencang hingga kembali mengagetkan semua orang yang ada disana.
Kia duduk santai disofa dengan memainkan Hpnya. Begitu cuek dengan segala aktifitas mereka disana, merasa bagai bos besar tengah mengawasi pembantu yang tengah mengerjakan tugasnya. Padahal itu Mama Lisa, dibantu Nanda tengah mempersiapkan hidangan spesial untuk kepulangan Kia yang istimewa bagi mereka.
Kia bahkan telah mengganti kembali foto pernikahan Mama Lisa dan Ayahnya, dengan foto lama Akia dengan Ayah dan Ibunya. Sedikit nyeri di hati mama Lisa, tapi Ia berusaha untuk ikhlas dengan apapun yang Kia lakukan di rumahnya. Apalagi Nanda, yang tengah membuktikan jika Ia tulus mencintai Kia sebagai Kakak sambugnya.
"Kak, makan malam dulu, yuk,." ajak Nanda, dengan suara begitu lembut padanya. Tapi Kia, berpura-pura tak mendengarnya hingga sang Ayah datang dan memintanya bergabung untuk makan malam bersama.
"Masih di anggep rupanya," Kia melipat bibir dan berdiri menghampiri meja makan, dimana semua menu pavoritnya telah terhidang disana dan tampak begitu nikmat. Karena jujur, dalam pelarian itu, Kia sangat jarang makan enak. gajinya selalu habis untuk keprluan nya sendiri dan membayar kost. Itu saja Kia sudah sangat berhemat, dibandingkan dengan apa yang ayahnya selalu berikan.
Kia menelan salivanya, begitu menginginkan makanan itu untuk Ia jamah. Tapi. rasa gengsinya terlalu tinggi untuk Ia turunkan saat ini.
Kia duduk dengan manis. Ia mencicipi hidngan yang tersedia, mengecapnya dan memastikan semua makanan itu memang baik untuknya. Dan hanya dengan sesuap saus padang dari udang yang ada, Ia langsung teringat akan sang Ibu yang memang sangat Ia rindukan. Semua rasa sama persis, dan seolah tak ada bedanya.
"Enak, sayang?" tanya Mama Lisa, penasaran dengan ekpresi yang Kia berikan.
"Hmmm... Biasa aja, sih. Sama kayak saus padang lain nya. Kia makan, supaya ngga berntem lagi sama Ayah malam ini. Kia capek..."
"IYa, ngga papa. Setidaknya, Kia makam masakan Mama malam ini." jawab Mama Lisa dengan penuh haru. Ia pun tak segan menambah menu di piring Kia dengan hidangan yang lain, dan semuanya bahkan habis tak tersisa di piringnya.
"Ayah berfikir, untuk menjodokan kamu dengan rekan kerja Ayah..."
"Siapa? Kia?" tunjuk gadis itu pada dirinya sendiri, dan Ayah ya hanya mengangguk untuk membenarkan semuanya.
Braaakk!!! Kia memggebrak meja, dan mengagetkan semua orang yang ada disana.
"Kia baru diem loh ini... Baru aja diem, mau mulai membuka hati buat kalian meski sulit. Tapi kenapa? Aaaaaaah! Ngga punya perasaan banget sama anak kandung sendiri. Lebih sayang sama anak tiri kayaknya," lirik Kia pada Nanda, yang dengan tenang menikmati makan malamnya. Pura-pura tak tahu, jika Kia menunjuknya dengan tatapan nyalang di sebrang sana.