
Makan malam dan pesta telah tiba. Kia membawa Bisma yang telah rapi menuju ruangan yang telah dirancang untuk semua acara. Ruangan bernuansa outdor itu menampakan pemandangan laut yang amat indah diiringi deburan angin laut yang amat dingin menusuk hingga ke tulang. Tapi semua seperti tak terasa bagi semua orang yang ada disana, saat mereka telah larut dengan segala pesta yang ada.
Suara musik dinyalakan usai mereka menyantap hidangan yang ada. Para tamu dipersilahlan maju untuk bernyanyi dan berdansa dengan pasangannya masing-masing disana, kecuali Kia dan Bisma yang lebih nyaman menyendiri dan duduk dikursi yang menghadap kelautan lepas. Kia menggelendot manja di dada bidang suaminya, sembari menceritakan pemandangan apa yang ada saat ini dengan deskripsi yang begitu sempurnya.
Bismapun membayangkannya dan mengagumi semuanya saat itu, apalagi ditambah keindahan yang ada didekatnya saat ini. Rasanya lebih indah dari apapun yang ada dimuka bumi ini, terutama saat Bisma membayangkan wajah Kia yang selalu Ia raba setiap harinya.
"Apa kau tak kedinginan? Gaunmu, serasa sangat tipis." Bisma menarik salah satu tali gaun yang Kia pakai saat itu. Memang tipis dengan satu helai yang tersangkut dipundak Kia, apalagi dengan bagian dada yang sedikit terbuka kebawah terasa belaahan dada Kia terbuka saat Bisma meraba. Kia memejamkan mata menikmati setiap sentuhan yang suaminya berikan.
"Tidak dingin, kalau ada Mas Bisma disamping Kia. Hangat jika begini," Kia meraih tangan Bisma yang satu lagi dan menaruhnya diatas pipi. Dan tak lama kemudian, Bisma mengajaknya kekamar untuk beristirahat.
Yang pasti tak hanya beristirahat saat itu. Karena mereka melanjutkan kegiatan untuk berolahraga malam seperti yang tengah amat gencar mereka lakukan. Apalagi Kia amat ingin segera memiliki anak dari Bisma sebagai buah dari cinta keduanya.
Kia langsung berlari dan mendekapnya dari belakang. Bisma langsung mengangkat kepalanya karena terkejut, seolah tak percaya saat Kia seperti tengah memancingnya telebih dahulu saat ini. Bisma melepas pelukan Kia dan membalik tubuhnya untuk memastikan dan meraba wajahnya.
"Ini beneran Kia," rengek Kia dengan mata berkerut saat Bisma melakukan itu. Bisma sontak tersneyum gemas dan menjewer hidung bangir sang istri, lalu merentangkan kedua tangannya. Seolah pasrah saat sang istri ingin melakukan apapun pada tubuhnya.
Kiapun tersenyum riang dan mendorong tubuh besar Bisma untuk jatuh ke ranjang, duduk dan Ia naik keatas pangkuannya. Kia bergerak, mulai mengecuupi bibis Bisma, pipi dan terus turun ke ceruk lehernya dengan begitu aktif disana. Sementara Bisma kali ini hanya diam dan pasrah menikmati semua yang Kia lakukan padanya. Tangannya hanya diam, menopang bokoong Kia agar tak merosot atau jatuh dari pangkuannya saat itu.
Tangan liar Kia mulai berani membuka satu persatu kancing kemeja Bisma hingga tanggal, lalu melepasnya dan Ia buang sembarang kelantai. Dorongan kembali ia lakukan agar Bisma berbaring dan Ia dengan semakin bebas melakukan apapun ditubuuh berotot itu. Seperti sebuah balas dendam atas yang sering Bisma lakukan padanya. Bisma hanya membiarkan Kia mendominasi saat ini, menyaksikan seberapa kuat untuk Kia bisa menaklukan dirinya. Atau Kia akan ko seperti biasanya.