Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Hadiah mewah dari Bisma


"Permisi, paket." panggil seseorang dari pintu rumah Kia. Nanda yang turun, dan menerimanya karena Kia ada di dalam kamar.


"Maaf, Mba. Ini paket untuk Mba Kia. Benar?"


"Kak Kia ada di kamar. Saya adiknya, biar saya yang mewakili. Bisa?" tanya Nanda, karena Ia tak ingin mengganggu istirahat sang Kakak.


Kurir itu mengangguk, lalu berjalan sebentar mengambil sebuah paket di dalam mobilnya. Tak hanya satu, rupanya banyak dan bermacam-macam. Semuanya Nanda terima, di bawa masuk ke ruang tamu dan di susun dengan rapi. Kurir pun pergi setelah Nanda menandatangi surat penerimaan nya.


"Woow... Barang sebanyak ini?" kagum Nanda pada beberapa benda yang Ia tahu memang bermerk itu. Jika sudah begini, mau tak mau Ia harus membangunlan Kia dari istirahatnya yang lelap. Ia pun naik, dan berusaha membangunkan Kia selembut mungkin.


"Ada apa?" tanya Kia, dengan mata yang masih rapat.


"Itu, di bawah ada kiriman paket, Kak."


"Tinggal terima aja, apa susahnya?"


"Ngga susah, emang Nanda udah terima. Tapi itu, lihat dulu barangnya."


"Haish, kamu nih. Gangguin orang istirahat aja. Dah, mau cuci muka dulu."


"Yaudah, sih. Nanda tunggu di bawah." ucap Nanda, lalu kembali turun untuk merapikan barang yang sempat berantakan.


Nanda masuk ke kamar mandi. Ia menuju wastafel dan membasuh wajahnya yang kusam karena mengantuk. Ketika mengusap wajah, tampaklah cincin berlian itu yang terpasang di jari manisnya. Tampak indah dan begitu cantik. Dan lagi, Ia sangat suka modelnya.


"Pasti mahal ini. Ngga nyangka, besok mau jadi istri orang. Astaga, mana ngga ada perkenalan dulu. Gimana lah besok?" cicitnya menatap dan membayangkan hari esok.


Kia meraih handuk lalu mengeringkan wajahnya yang basah. Ia pun segera turun menghampiri Nanda yang menunggunya. Karena Mama Lisa tengah pergi untuk mengatur catheringnya. Beliau tak tega, jika semuanya harus begitu sepi ketika acara Kia. Setidaknya Ia mengundang beberapa tetangga untuk menyaksikan semuanya.


"Wow!" Kia takjub dengan apa yang Ia lihat. Semua barang dari brand ternama Hermes, datang dengan paket lengkap untuknya. Parfum, tas, jam tangan dan beberapa gaun yang indah.


"Dari siapa?" tanya Kia pada Nanda.


Nanda hanya memberi tanda bukti pengiriman, yaitu dari calon suaminya, Bisma. Mengirimnya khusus untuk calon istri kesayangan nya.


"Ini berlebihan. Eh, iya ngga sih?" Kia masih tak percaya dengan apa yang Ia lihat. Rasanya terlalu aneh ketika Ia mendapat barang seperti ini. Hanya takut jika akan di nilai negatif oleh beberapa orang yang kurang mengerti.


"Engga juga sih. Kan, buat calon istri. Wajar banget, malahan. Meski mengkaget," jawab Nanda.


Tapi Kia serasa masih ragu. Atau apa, Ia juga sulit mencerna perasaan nya sendiri saat ini. Ia hanya duduk di samping Nanda, menatap bengong semua barang mewah yang ada. Hingga panggilan terdengar dari ponselnya.


"Mas Bisma?" ucap Kia, lalu dengan sigap mengangkat panggilan itu ditelinganya.


"Ya, Mas?"


"Hey, Kia. Kiriman ku sudah sampai?" tanya Bisma dengan suaranya yang begitu manis.


"I-iya, Mas... Udah sampai kok. Tapi, kenapa kirimin Kia barang ini, Mas? Banyak banget ini nih. Pasti mahal? Dan Kia, Kia ngga terlalu suka koleksi barang mewah, kok." ucap Akia dengan jujur. Karena memang dirinya tak begitu suka berfoya-foya dan mengkoleksi barang mewah sejak dulu. Itu ajaran sang Bunda padanya.


" Aku hanya ingin memberimu hadiah. Biar bagaimanapun, Kau adalah calon instri pemilik hotel besar di kota ini. Jadi, terima apa yang ku berikan. Itu pantas untuk mu." ucap Bisma.


Tak ada pilihan lain, Kia harus menerimanya agar Bisma tak tersinggung. Setidaknya, itu bukti sayang dan keseriusan Bisma padanya.


"Oh, iya, Mas. Terimakasih, ya. Kia cuma kaget aja karena dikirim tadi lagi tidur siang." ucapnya malu-malu, menggaruk lehernya yang tak gatal. Bisma hanya terseny dari sana, membayangkan ekspresi lucu yang Kia pasti berikan saat ini.