Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Mengalihkan diri sejenak


Kia menelpon Nanda usai berdiskusi dengan Daksa mengenai operasi mata yang akan segera dilakukan. Rencana demi rencana mereka buat agar Kia bisa dengan aman datang ke Rumah sakit untuk menemani Bisma operasi hingga normal kembali kala itu.


"Tapi Papa?" tanya Nanda yang pasti akan ragu dan sulit untuk diajak berdiskusi kali ini. Apalagi setelah Kia menolak ayahnya membawa Ia pulang beberapa hari lalu.


"Kak Kia yang akan kesana, Nanda. Nanti, sepulangnya dari sini," jawab Kia. Nanda akhirnya mengangguk padanya, lalu keduanya mematikan Hp menyudahi pembicaraan yang ada.


"Siapa, Nanda?" tanya Pak Arman, yang kebetulan lewat dan mampir keruangan putrinya saat Ia menelpon dengan suara lirih. Ia sepertinya tengah sensi, dan gampang curiga dengan gerak gerik putri sambungnya itu.


"Ehm... Kak Kia, Pa. Dia... Mau izin nginap dirumah, boleh?" tanya Nanda yang mulai meminga izin untuk kakaknya itu.


Menginap? Kenapa tak pulang saja kerumah ayahnya? Toh disana dia akan aman karena kembali pada keuarga. Apalagi Bisma sudah tak ada, dan Ia akan selalu diganggu surya jika terus disana. Apalagi Pak Arman memastikan adik iparnya itu tak akan mau membagi warisan untuknya, apalagi Kia tak memiliki tanggung jawab apapun hingga usia pernikahan yang cukup lama itu.


Seperti anak contohnya. Jika setidaknya Kia tengah hamil anak Bisma, pasti mereka akn berfikir untuk mmebagi warisan setidaknya pada anak itu nanti. Meski pasti akan lama untuk semua proses yang ada. Atau, akan ada sesuatu yang akan membuat Kia keguguran anaknya.


Ya, itu fikiran ayah arman pada putrinya kala itu. Jahat bukan? Bahkan seorang ayah tak rela anaknya bahagia bersama pilihan hatinya, bahkan hanya untuk memiliki keturunan darinya. Padahal Bisma buta karena kecelakaan, dan bukan karena keturunan yang akan menurun pada buah hatinya kelak.


"Bawa dia, jika ingin menginap." ucap Pak arman pada Nanda.


Hal itu seolah membuat Nanda tak percaya, dan meragukan keputusan sang Papa. Ia justru curiga ada sesuatu yang lain, yang Ia rencanakan saat ini.


"Jika ada sesuatu, Nanda sendiri yang akan bertindak menentang Papa." ucapnya.


"Kau seperti sudah bergabung pada sekte yang Kia ajarkan, ya? Sekte pembangkang dan overthingking. Yang seolah menganggap Papamu ini adalah orang paling jahat dan tak pernah ada baiknya didunia ini." tegas Pak arman pada Nanda kala itu.


Nanda hanya diam dan tak membalasnya lagi. Pasalnya Ia selama ini hanya berpegang dengan segala kenyataan yang ada dan Ia lihat sendiri didepan matanya..


Pak arman hanya menganggukkan kepalanya, lalu keluar dari ruangan putrinya itu dengan segera untuk melakukan semua pekerjaannya yang lain. Sementara itu Nanda langsung memberi info itu agat Kia segera bersiap untuk Ia jemput sore nanti.


" Akhirnya," Kia berucap sembari menghela napas panjang dan lega.


"Sayang, ada apa?" tanya Bisma yang tengah bersandar ditempat tidurnya saat itu.


"Kia dapat izin dari Ayah untuk menginap dirumahnya, Mas." jawab Kia padanya. Tapi Bisma justru mengerutkan dahi, seolah tak percaya jika ayah mertuanya dengan gampang menuruti maunya Kia kala itu.


"Sudah, bersyukur saja dulu. Yang jelas, Nanda dan Kia akan berusaha agar semuanya berjalan dengan baik," ucap Kia, berusaha meyakinkan suaminya.


Dan lagi, Bisma sempat menarik tangannya untuk membisikkan sebuah pesan padanya kala itu.


"Kenapa, Kok?"


"Tak apa, Sayang. Hanya ingin sesekali menyapa ayah saja. Tak apa, kan?"


"Ah, iya sih. Ngga papa," jawab Kia padanya meski masih dituntut oleh banyak pertanyaan.


"Yasudah kalau begitu, Kia pergi dulu ya?" kecup Kia dipunggung dan telapak tangan suaminya. Meski berat, tapi Bisma harus merelakannya pergi kali ini. Padahal Ia ingin bersama kia malam ini, untuk menemaninya bersiap saat harus menjalankan operasi matanya.


" Tak apa. Toh, besok Kia akan jadi orang pertama yang aku tatap wajahnya. Dan, aku akan melihat wajahnya untuk yang pertama kali."


Degup jantung Bisma berdegup kencang saat membayangkan itu semu. Seolah tak sabar menantikan esok hari yang indah.