
Kia tidur usai Bisma mematikan teleponnya. Ia akhirnya dapat rehat sejenak usai sena tidur gara-gara panas yang Ia alami beberapa jam terakhir. Padahal, Kia tak memberinya makan macam-macam atau bahkan keluar rumah berpanas-panasan hari ini.
Kia sudah mulai memejamkan matanya, dan semua menjadi gelap. Namun, itu semja harus terganggu saat Jinan datang dan membuka pintu dengan amat kasar hingga kembali membangunkan Kia.
"Sssssttt!" Kia mendesis karena kepalanya spontan sakit karena terbangun dalam keadaan kaget. Semuanya menjadi remang, dan sempoyongan sampai Ia sendiri kesulitan untuk bangun.
"Kalau ngga bisa jaga anak, jangan sok-sokan jadi pengasuh! Ngomongin orang ngga mampu, diri sendiri malah buat anak orang sakit." sergah Jinan yang membopong anaknya dengan cepat.
"Menurutmu, sena sakit gara-gara aku?" tanya kia yang tengah berusaha menormalkan pengelihatannya. Kini rasa tengkuknya amat berat hingga kepundak, membuat emosinya sedikit tak stabil dengan semua keadaan yang ada.
"Kalau bukan kamu, siapa lagi? Selama aku asuh sendiri, Sena jarang sakit begini."
"Jarang, bukan berarti ngga pernah 'kan? Kamu seenaknya nyalahin orang, kamu ngga tanya apa aja perjuanganku buat turunin panasnya sena. Berusaha agar ngga semakin parah atau step?" tukas Kia yang membalas amarah itu. Dalam kondisi ini memang amat mudah terpancing.
"Itu tugas kamu sebagai yang ngasuh! Terus tugas kamu sebagai ibu gimana? Merasa bener kamu jadi Ibu sena? Ini... Aku tahu ini anget dari semalem, tapi kamu biarin aja. Kenapa? Kamu keenakan tidur?"
"Jangan asal ya!" tunjuk Jinan pada wajah Kia.
"Apa? Kamu lupa aku siapa?" tatap Kia dengan tajam. Barulah Jinan ingat bahwa Kia itu adalah perawat yang cukup prosfesional ditempat kerjanya.
"Kamu jangan sok nantang aku, Jinan. Nanti ujungnya kamu lagi yang kena, kamu lagi yang dihukum. Ngga cape?"
"Aku seharian urusin sena, obatin dengan apapun yang aku bisa. Ngga ada sama sekali ngehargain. Terimakasih aja, gitu."
"Aku, kan...."
"Apa? Kerja? Capek banget ya, kerja dikantor kakak sendiri? Kek gitu berharap jadi manager. Belum apa-apa udah ngeluh, kamu." sergah kia yang memotong ucapan adik iparnya itu. Rasanya memang sudah sangat keterlaluan seperti gadis yang tak pernah dididik akhlaknya oleh orang tua.
Mendengar Kia yang semakin berani padanya, Jinan langsung menghentakkan kaki dan turun kebawah membawa sang putra. Kia hanya melenguh napas kasar sembari berbaring dan memijati kepalanya yang sakit. Bahkan rasanya mual dan dunia seakan berputar-putar tak menentu.
Tapi Kia sadar jika masih harus mengawasi Jinan saat ini, agar Ia mengasuh sena dengan baik.
"Awas kamu, Kia. Aku ngga terima kamu giniin!" geram Jinan, usai menaruh anaknya ditempat tidur.
Rasanya memang amat jengah dengan kia, yang berani menantangnya seperti itu. Merasa Kia sok kuasa dirumah, padahal Ia yang lebih berhak. Siapa lagi yang memanasi jika bukan surya.
Bahkan surya juga sempat membahas dengan Jinan, bagaimana jika nanti Bisma tak dapat melanjutkan perusahaan. Maka saat itu Jinan dengan percaya diri menjawab, bahwa semua akan dialihkan padanya. Ia pun mengucapnya dengan amat bangga, seperti Ia akan bisa menguasai semua dengan baik.
Jinan mengganti pakaian, lalu tidur dengan segala lelahnya. Ia lupa jika sang putra perlu kontrol istimewa, dan tubuhnya harus di cek suhu setengah jam sekali. Justru Kia yang amat peka dan menghampiri sena di dalam kamarnya saat itu.
"Astaga! Sena!" Jinan memekik sekuat tenaga, lalu mengambil sena dari samping Jinan yang amat lelap dengan tidurnya.