
"Ini ke tiga kalinya kau lari dari Ayahmu, Kia. Kau takut padanya?"
"Dia ingin menjodohkan ku dengan.... Dengan pria aneh," jawab Kia.
"Aku merasa tak punya hak padamu, karena aku..."
"Kau masih ingin menjadi calon suamiku?" tanya kia, yang seketika membuat senyum Bisma kembali merekah. Liana hanya bisa bengong mentapnya, dengan kerutan dahi dan segala rasa tak percaya.
"Pak Bisma, senyum? Manis banget, lagi." gumam Liana dalam hati.
Sementara itu, Kia justru menggigit bibir bawahnya sendiri. Apakah Ia menyesali ucapan yang baru saja Ia lontarkan? Apalagi melihat respon Bisma yang tampak begitu bahagia dengan ucapan yang datang langsung dari bibir Kia. Meski dalam keadaan terdesak.
"Tuan, maaf. Tolong lepaskan putri saya," pinta pak Arman, dengan Rangga yang berdiri tegap dibelakangnya.
"Selamat siang, Calon Ayah mertua." Bisma mengulurkan tangan untuk yang kedua kalinya dengan senyum yang mengembang. Dan masih dengan respon yang sama, pak Arman enggan menyambutnya.
"Atas Dasar apa Anda bilang, jika saya adalah calon mertua anda?" tanya Pak Arman, cukup tegas dari nadanya. Dan seketika Ia sadar, jika dirinya dan Bisma sempat betremu di Rumah Sakit dalam keadaan yang sama.
"Untuk kedua kalinya... Kenapa Anda melindungi putri saya? Anda bukan siapa-siapa." sergah pak Arman pada Bisma.
"Sudah saya bilang, jika saya adalah calon suami Kia. Benar?" toleh Bisma ke belakang. Kia akhirnya mengangguk, membuat sang Ayah teruta,a Rangga terbelalak dengan apa yang mereka lihat.
"Kia... Jangan main-main. Kalian bahkan tak kenal,"
"Bisma, adalah orang Kia temui kemarin. Bukan kah, ayah awalnya mau Kia bersama Bisma? Kia... Kia menerima Bisma menjadi calon suami Kia." jawab gadis itu. Ia yakin bahwa Bisma dapat melindungi dirinya dari sang Ayah, meski dengan segala keterbatasan yang Ia miliki. Dan Ia harus merawat Bisma dengan segala hal yang Ia ketahui dan pelajari. Setidaknya itu yang ada di fikiran Kia saat ini. Berlindung dari sang Ayah yang sellau otoriter da selalu memaksakan kehendaknya.
Tangan Pak Arman mengepal, rahangnya pun menegang dengan jawaban sang putri. Ia sudah denga tegas menolaknya, dan laporan pun mengatakan jika Kia pun melakukan penolakan yang sama. Tapi kali ini, justru Ia mendapat jawaban yag lain lagi dari putrinya.
"Apa kurangnya aku?" sahut Rangga dengan sombongnya, memperhatikan Bisma dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan segala cibiran di matanya.
"Pulang, Kia!" Pak Arman berusaha meraih tangan Kia dan merebutnya dari Bisma. Tapi, Bisma dengan sigap mengahalanginya dengan tongkat yang Ia pegang. Sedikti memberi pukulan pada Pak arman saat itu.
"Belum jadi menantu, dan kau berani memukulku?" Pak Arman mengusap memarnya.
"Maaf... Begitu lah cara orang buta membela dirinya dan serangan yang ada." tunduk Bisma.
"Kia... Pulang!" kemarahan pak arman, tampaknya sudah tak dapat dibendung lagi kali ini. Ia kembali berusaha menarik dan menyeret kia dari tangan Bisma. Dan lagi-lagi Bisma mengarahkan tongkat dengan segala refleks yang Ia punya.
Semua perlawanan itu, membuat Rangga geram. Apalagi, Ia masih harus cari muka di depan Pak Arman saat ini agar bisa menjadi calon menantu yang baik dimata pria paruh baya itu.
"lepaskan Kia!" Rangga melayangkan pukulan nya pada Bisma, tapi langsung ia tangkis dengan lengan kanan nya. padahal Liana dan Kia sudah memejamkan matanya karena ngeri Bisma terluka dengan pukulan lengan besar Rangga.
"Kau, bisa menangkisnya?" Kia keheranan.
"Refleks, dengan hembusan udara yang datang ke wajahku." jawab Bisma.
Rangga tak menyerah begitu saja. Ia terus melayangkan beberapa pukulan dan langsung ditangkis Bisma dengan cara yang sama. bahkan tongkatnya mengenai tulang kering di kaki Rangga. RIntihan Pria itu terdengar begitu menyakitkan ditelinga semua orang yang ada disana.
Untungnya Daksa segera datang, hingga perkelahian dapat dilerai secepatnya. Ia pun mengumpulkan mereka semua dalam satu ruangan VIP untuk mengadakan musyawarah bersama.
"Kau, melakukan itu semua?" tanya Daksa, ketika tahu Rangga terluka karena pukulan sahabatnya yang buta.
"Refleks." jawab Bisma dengan nada datarnya, dengan tatapan kosong menuruti aroma Kia yang ada di dapan matanya.