Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Doa untuk Sena


"Astaga! Sena!" pekik Kia saat melihat keponkannya kejang.


Ya, Sena tampak kejang dengan wajah yang cukup biru. Apalagi saat Kia memeriksanya, akralnya amat dingin saat itu. Ia segera memberikan pertolongan pertama pada Sena dengan segala yang Ia ketahui. Membuka pakaian sena agar tak sesak, lalu segera membawa Sena keluar dari kamar itu.


"Mau dibawa kemana anakku?" Pertanyaan bodoh dari Jinan kembali terucap. Kia tak sempat lagi untuk membalasnya, Ia hanya fokus pada sena dan membawanya keluar dari rumah untuk mencari taxi.


"Kia... Oma ikut!" panggil Oma yang berlari cepat menyusulnya di dalam taxi itu.


Jinan justru bengong ditempatnya, menyaksikan mereka berdua yang tengah kelabakan mengurusi sena. Entah, apa yang ada difikiran Jinan saat ini hingga seperti orang bloon begitu.


Oma meraih sena, lalu Kia menghubungi Daksa kala itu. Ya, tercepat adalah Daksa untuk merespon panggilannya, baru Daksa akan memberikannya pada Bisma jika mereka bersebelahan. Dengan segala kecemasannya, Kia menceritakan kondisi sena saat ini.


"Sayang, Hey... Sabarlah. Ucapkan dan jelaskan perlahan," pinta Bisma yang meraih Hp Daksa.


"Mas... Sena Kia bawa ke Rumah sakit, Mas. Sena kejang, ini bahaya banget." ucap Kia menahan tangis.


"Baiklah... Tapi ingat, jangan tergesa-gesa. Aku dan Daksa akan segera kesana, Okey?" Bujukan itu dijawab deheman Kia, lalu Ia mematikan telepon itu.  Taxi membawa mereka tepat di depan IGD. Kia langsung turun dan berlari membawa sena masuk tanpa menunggu perawat membawa brankar untuknya.


"Dokter! Tolong keponakan saya!" teriak Akia disana.


Kia menaruh tubuh mungil itu dibrankarnya, lalu dengan sigap mengambil alih sena dari Kia untuk segera ditangani. Kia menyingkir, dan duduk dikursi tunggu dengan cemas dan terus berdoa untuk sang keponakan.


" Kia, sabar... " ucap Oma yang mengusap punggungnya.


"Gimana mau sabar, Oma? Jinan itu loh. Aaah, ngeselin!" tukas Kia yang mengeluarkan air mata pada akhirnya.


Untung saja tak lama kemudian Bisma datang bersama Daksa. Mereka langsung menghampiri Kia dan Oma disana, bahkan Daksa mengintip sejenak proses tindakan untuk Sena saat itu.


"Jinan mana?" tanya Daksa.


"Jinan..."


"Jinan malah bengong waktu anaknya Kia bawa, Daksa. Entah, Oma ngga habis fikir sama dia." potong Oma.


Bisma mengepalkan tangan mendengar semuanya. Rasanya amat geram saat ini, ketika Jinan masih saja  dengan egonya. Ia harus segera pulang dan memberi pelajaran pada adiknya itu, namun rupanya Jinan datang membawa tas cukup besar dengan langkahnya yang gamang.


Jinan seperti orang bodoh saat ini. Bahkan bisa dibilang lemot, karena Ia tampak melamun tanpa ekspresi.


"Jinan!" panggil Bisma dengan suara keras. Dan saat itu Jinan seolah tersadar dari lamunannya.


"Sena! Kia... Sena mana, Kia?!" pekik Jinan yang menangis mencari anaknya...


"Sena di dalam, kondisinya cukup parah." jawab Kia seadanya. Rasanya amat malas mempertanyakan banyak hal pada Jinan saat itu, dan Ia hanya berusaha fokus pada sena yang ada diruangan tindakan.


Bisma pun begitu. Amarahnya Ia tahan untuk sekarang, dan memilih berdoa untuk keponakannya agar selamat dan sembuh ceria seperti sedia kala. Semuapun begitu, melakukan hal yang sama untuk sena.


Jika dilihat, kasihan juga Jinan saat seperti ini. Saat Ia cemas dan menangis, tapi tak ada satupun orang yang perduli padanya.


Hanya Daksa, yang sedikit terenyuh melihat kondisi Jinan seperti itu.