
Oma pamit setelah semua perjanjian itu. Ia akan datang kembali membawa Bisma untuk Ijab qabul keduanya. Mama Lisa dan Kia mengantar nya sampai ke mobil dan melepas kan nya pergi hingga berlalu jauh dari hadapan keduanya.
"Mereka sangat baik ya, Kia? Semoga, Bisma pun akan baik seperti Omanya."
"Ta, semoga saja." harap Kia, dengan mengusap cincin indah yang kini telah tersemat di jari manisnya.
Mereka masuk lagi beriringan, mendapati Pak Arman dengan cerutunya dan masih ditempat yang sama. Kia tak menghampirinya, Ia lebih memilih untuk kembali ke kamar dan duduk disana. Apalagi memang tak ada persiapan apapun yang kan di gelar. Sedikit acara keluarga, dan mereka memesan catering dari salah seorang teman Mama Lisa.
"Pa... Papa serius, ngga akan pestain Kia sedikitpun? Kia anak pertama, Pa. Rasanya kurang pantas, jika acaranya hanya seperti ini."
"Kia bahkan sudah meng'iyakan semuanya. Jadi, Mama hanya bisa merancang semuanya agar berjalan dengan lancar." ucap Pak Arman yang tampak hambar.
"Lagipula, Kia lah yang seperti sudah tak mau disini lagi. Dia sudah begitu ingin pergi dari kita. Jadi, tak usah halangi." imbuhnya. Ia pun berdiri dan pergi dari kursinya, meraih jas yang tergantung di dinding ruangan. Yang memang telah dipersiakan untuk Ia berangkat kerja kembali ke hotelnya.
Miris memang, jika melihat keadaan yang ada. Seorang anak pertama itu biasanya dihujani kemewahan untuk pestanya, apalagi pernikahan yang harusnya sekali seumur hidup. Semua akan datang memberi selamat dan hadiah yang bayak dan mewah, serta sama-sama bahagia untuk sang mempelai. Tapi tidak bagi Kia. Yang bahkan tak bisa hanya sekedar ingin mengundang sahabat dekatnya saja yang hanya beberapa orang itu. Tapi setidaknya, Ia akan bebas dari kekangan sang Ayah saat ini.
"Meski aku tak tahu, bagaimana keadaan ku disana nanti." gumamnya sendirian. Duduk bersandar memeluk lututnya di ranjangnya yang besar.
"Tunggu Kakakmu dulu, agar Oma tak cerita dua kali." ucap sang oma, yang melhat Jinan dengan segala rasa tak sabarnya.
"Ya, Oma?" Sapa Bisma yang telah datang menghampiri. Ia duduk dan menunggu sang Oma memberi kabar bahagia sekaligus tanggapannya mengenai sang calon yang telah Ia pilih.
"Oma sudah bertemu Kia. Orangnya cantik dan santun. Tutur bahasanya pun baik, Oma suka sama dia." puji sang Oma. Meski sedikit janggal ditelinga Bisma, karena beberapa kali bertemu Kia ada gadis bar-bar baginya.
"Mungkin, ini mode kelincinya. Yang pemalu dan manis jika didepan orang lain. Pasti akan sangat lucu melihatnya seperti itu." khayal Bisma.
"Terus, gimana pernikahan nya?" tanya Jinan, masih dengan egonya untuk tak menyetujui pernikahan itu.
"Pernikahan tetap besok. Dan Bisma bersiap saja dengan hafalan Ijab qabul yang harus di ikrarkan. Karena besok tak ada acara apapun, hingga akan cepat selesai dari yang biasanya berpesta."
"Lah... Ngga ada acara apa-apa? Mending Jinan dong, yang katanya Aib, tapi masih di pestain. Kayak ngga ada harganya pernikahan dadakan kakak." cibir Jinan, dengan spontan keluar dari mulutnya.
"Terserah apa katamu, Jinan. Tapi ketika nanti kau menyentuh istriku, Kau akan tahu akibatnya. Camkan itu," ancam Bisma yang amat tampak kesal kali ini. Jinan hanya mencebik, karena sang kakak mulai berani mengancam dan berkata keras padanya demi Akia. Padahal, selama ini Ia lah ratu dirumah itu dan kesayangan Bisma sebelum menikah dengan Surya.