Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Nining mengundurkan diri


Bisma dan Daksa telah sampai dirumah. Daksa hanya turun dan membantu Daksa masuk ke dalam rumah, dan sisanya Nining yang mengurus karena Daksa telah di tunggu oleh beberapa koleganya untuk melakukan sebuah rapat penting untuk hotel mereka. Dan Ia pun segera pergi setelah memastikan keamana Bisma pada Nining, perawatnya sendiri.


"Mari, Tuan. Saya akan bawa Tuan ke kamar dan mengganti pakaian." ajak Nining, dengan merangkul lengan kekar Bisma. Dan tak di pungkiri, Nining pun terkagum dengan sosok pasien tampan nya itu.


Duughhh! Lutut Bisma menabrak meja yang ada di tengah ruangan. Naning pun langsung gugup, dan membereskan meja agar tak lagi mengenai kaki Bisma.


"Bahkan tanpamu, Aku bisa berjalan lebih baik dari ini."


"Ma-maaf, Tuan... Saya salah." Naning meraih kembali lengan Bisma, namun di tolak mentah-mentah dan Ia memilih berjalan sendiri untuk naik keatas.


Hanya mereka berdua di rumah saat ini. Karena Oma dan Bik Is, datang kerumah Jinan untuk menjenguk cicitnya yang tengah tak enak badan. 


Nining memngikuti Bisma dari belakang. Ia ikut masuk ke kamar dan mempersiapkan pakaian ganti untuk Bisma, dan membantu melepas yang Ia kenakan saat ini.  Fikiran nya seperti ter racuni dengan apa yang Ia lihat, dengan pemandangan indah yang nyaris tiap hari Ia tatap dengan mata kepala nya sendiri. Meski sebagai perawat, Ia telah menemukan begitu banyak pemandangann tapi tidak dengan yang satu ini. Yang selalu bisa membuat nya gemetar setiap saat.


Sementara Nining menaruh pakaian kotor di keranjang, Bisma memakai kemejanya sendiri sat ini. Ia hafal, letak luar dan dalam setiap bagian kemejanya, dan Ia memakainya dengan begitu baik. Tinggal Nining, datang untuk membantunya mengancing kan kemeja itu agar rapi. Tapi Bisma merasakan getaran dari tangan Naning di tubuhnya.


"Apa yang membuatmu gemetar? Apa kau takut padaku?"


"Dan maaf, jika setelah ini Saya memilih mengundurkan diri dari sini." ucap Nining. Ia pun pergi, setelah membereskan perlengkapan Bisma. Ia pamit dengan segala kata terakhirnya yang cukup berkesan, yang Bisma tahu benar apa arti dari ucapan itu.  Bahwa, Nining sebenarnya menaruh rasa pada Tuan  nya sendiri saat ini.


"Mengenai gajimu, biar Oma mengurusnya. Maaf,"


"Baik, Tuan.. Saya permisi. Saya menaruh segelas minuman dan makanan di meja makan. Atau, perlu saya bawa keatas?"


"Tak perlu... Aku bisa."


"Baik," angguk Nining. Dan setelah itu, ia pergi dengan tasnya penuh berisi pakaian. Dan tak sedikitpun Bisma menaruh curiga pada perawatnya itu. Membiarkan nya  pergi, tanpa pemecatan darinya.


"Dia yang terlama bertahan disini. Hhh, kasihan." gumam Bisma, yang duduk dimpinggir je dela dan mendengar sebuah mobil datang dan langsung pergi.


"Pergi... Dan semua akhrinya pergi. Tapi dia, belum juga dapat  aku raih hingga saat ini." Bisma benar-benar sendirian di rumah besar itu. Tapi Ia pun enggan menghubungi Oma atau yang lain untuk segera datang dan menemaninya. 


Bisma melangkahkan kakinya, membuka pintu dengan meraba setiap lingkungan menggunakan tangan dan tongkat yang Ia pegang. Melangkah dengan perlahan, hingga Ia mendapati sebuah tangga dan mulai menuruni nya satu persatu tanpa rasa ragu dalam setiap langkahnya. Hingga akhirnya, Ia benar-benar tiba di meja makan tanpa benturan atau sandungan sama sekali yang mengenai kakinya. Ia duduk dengan tenang, menyandarkan tongkat dan mulai menikmati menu yang tersedia dihadapan nya saat ini.