
Hari yang ditunggu telah tiba. Hari pernikahan Bisma dan Kia, yang akan diadakan di rumah orang tua Kia. Meski sederhana, tak mengurangi kesakralan yang ada. Bahkan Nanda sendiri yang memakai kan make up untuk kakak sambungnya itu.
"Kakak kenapa ngga sewa MUA"
"Kalau kamu mau nolak, harus nya sejak awal. Udah mau selesai baru mau protes."
"Nanda ngga protes. Cuma, Nanda ngga Pede kalau make up Nanda buat pesta pernikahan. Ini make up sehari-hari doang," jawab Nanda.
Kia hanya diam. Jujur, Ia puas dengan hasil yang Nanda berikan padanya. Meski memang sederhana, dan tak terlalu glamour seperti make up pernikahan yang biasa Ia temui diluar.
"Udah ini aja. Yang penting sah," jawab Kia, menatap kembali wajahnya di kaca. Ia hanya tinggal menunggu Bisma untuk membawanya pergi dari rumah itu. Meninggalkan sang ayah dan segala kenangan dari Bundanya.
'Maaf, Bunda. Kia ngga bisa bertahan menjaga rumah ini. Semakin kia tahan, rasanya semakin sakit dengan segala kekangan dari Ayah.'
*
"Bisma, siap?" tanya Daksa yang akan menyetir mobil mereka. Liana dibelakang dengan beberapa seserahan, sebagai syarat pernikahan. Dan Oma di sebelah Bisma menggandeng sang cucu yang tampak mulai tegang.
Jangan ditanya dimana Jinan dan Surya. Karena mereka diminta membawa mobil sendiri oleh Bisma. Ia tak mau ada kericuhan akibat adiknya itu. Mereka pun berangkat menuju rumah Kia dengan segala kesiapan yang ada.
Dirumah yang cukup besar itu, telah hadir beberapa tamu. Bukan undangan, hanya beberapa tetangga yang menjadi saksi atas pernikahan mereka. Penghulu, dan beberapa yang lainnya. Lingkungan mereka adalah lingkungan yang ramah, hingga para tetangga akan datang ketika mendengar akan ada hajatan dirumah tetangga yang lain meski tak diundang secara resmi.
Untungnya tak banyak pertanyaan keluar dari mulut mereka. Mengenai pernikahan itu, baik pesta atau kesedehanaan lain nya. Mereka cukup datang dan mendoakan yang terbaik untuk Kia dan calon suaminya.
Keputusan yang bagus dari Mama Lisa, untuk mengajak beberapa tetangganya datang kerumah. Yaitu untuk sedikit meluluhkan hati sang suami meski terpaksa.
Bisma turun, di gandeng sang Oma. Tanpa kacamata hitam, tapi masih dengan tongkatnya berjalan masuk menghampiri semua sambutan yang ada. Saat itu lah, Pak Arman seolah kehilangan muka karena calon menantunya yang buta. Rasanya seperti semua orang tengah menghinanya saat ini. Padahal mereka semua hanya diam dan tersenyum ramah menyambutnya.
Acara tak terlalu lama. Hanya beberapa kata sambutan dari ketua di lingkungan itu. Ketika penghulu datang, Kia pun dijemput untuk duduk disamping Bisma yang siap mengucapkan ikrarnya. Bahkan, mereka duduk bersimpuh di lantai tanpa banyak hiasan dan bunga-bunga yang ada.
Jinan masuk bersama Surya. Pak Arman sempat terkejut, tapi kebencian membuatnya tetap diam. Dan Kia? Ia juga terkejut, sampai tanpa sadar menggenggam tangan Bisma yang duduk di sebelahnya.
"Kia, ada apa?" tanya Bisma, seolah mengetahui kegundahan Kia saat ini.
"Ada... Ada seseorang yang buat Kia ngga nyaman." bisik Kia dengan jujur.
"Bisa katakan siapa?"
"Surya. Dia... Siapanya Mas Bisma?"
"Dia, adik iparku." jawab Bisma dengan jujur. Kia hanya mengenggam tangan Bisma semakin kuat, meluapkan segala rasa kesalnya ketika melihat wajah Surya di depan matanya.
Sekian lama tak bertemu, kenapa harus di saat seperti ini Ia melihatnya lagi. Bukan masih cinta, hanya saja tak nyaman ketika dia ada. Apalagi, Surya menatapnya dengan sesuatu yang berbeda.
"Keluar kandang singa, masuk kandang buaya." rutuk Kia dalam hati.