Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Makin lama makin ngawur.


"Jinan... Tenang dulu, aku bisa jelasin."


"Jelasin apa? Pantes ya, selama  ini kamu baik banget sama Kia. Cari muka dengan terus puji dia didepan aku.  Rupanya mantan? Iya?" sergah Jinan yang tampak larut dalam emosinya. 


"Iya, emang mantan. Tapi ngga seperti yang kamu kira, Jinan. Memuji pun ada alasannya,"


"Alasan ada, tapi jangan membandingkan aku sama Dia, Surya!!" Jinan sedikit membentak kali ini, dan Kia segera meraih si kecil untuk pergi dari sana agar tak trauma melihat oertengkaran kedua orang tuanya yang labil.


"Mau kamu bawa kemana anak ku?"


"Masih inget punya anak? Selesaikan urusan kalian, baru ambil Sena dari aku." ucap Kia, kemudian pergi meninggalkan perdebatan yang ada.


Kia berjalan menuju kamar Oma, tapi melihatnya tidur dengan pulas dan tak tega untuk membangunkannya. Dan jalan lain adalah membawa Sena menuju kamarnya meski harus mengganggu sang suami yang tengah bekerja disana.


"Lakukan dengan cermat, dan tak usah terburu-buru. Aku akan terus kontrol disini bersama Kia," ucap Bisma pada Daksa yang sedaritadi mendengar semua perintahnya. 


"Ya, aku akan lakukan bersama yang lain. Kebetulan, aku pernah menyelidiki mengenai yayasan tempat Nining dikirimkan. Tapi, terlalu sibuk untuk kembali mengurusmu." jawab Daksa dengan segala kenyataan yang ada. Bahkan, itu adalah sebuah keluhan karena terlalu banyak tugas dipundaknya. Tapi itu resiko, saat Ia bersedia menjadi Asisten seorang Bisma pewaris Prada. 


"Baiklah, terimakasih sebelumnya. Bonus besar menantimu jika semua sudah selesai, dan...."


"Sayaaang, kita ke kamar Tante sama Om dulu." Suara Kia terderngar saat masuk dan memotong pembicaraan keduanya. Bisma langsung menoleh kearah suara Kia da menyapanya beserta Sena yang Ia tahu tengah ada dalam pangkuannya.


"Sayang... Kenapa bawa Sena kemari? Bukankah, Jinan dan Surya sudah pulang?" tanya Bisma, yang lupa mematikan panggilannya.


"Berantem?" tanya Bisma. Akhirnya Kia menceritakan pasal kejadian tadi, saat Surya datang dan bahkan memberi jus padanya dan Ia mengajak Kia mengobrol. Namun sayang, Jinan menguping dari belakang pintu hingga tahu jika Kia dan Surya adalah mantan kekasih.


"Lah... Jus tomatnya lupa kebawa, padahal seger kelihatannya."


"Buang... Dan jangan diminum," titah Bisma, dan membuat Kia cukup terkejut mendengarnya. Tapi Ia mengangguk dan akan menurutinya karena yakin kalau Bisma memiliki alasannya sendiri untuk Itu.


"Hey, Bisma. Kia dan surya mantanan?" tanya Daksa yang masih aktif mendengar obrolan keduanya. Dan saat ini Bisma lah yang terkejut dengan adanya Daksa.


"Ya... Surya mantan kekasih Kia. Jadi jika ada sesuatu yang terjadi padaku, Aku titip Kia padamu."


"HEY!!!!"


"Massss! Apa-apaan sih ngomongnya?" tegur Kia dan Daksa bersamaan. 


"Ngga usah suudzon gitu lah, Bis. Ngga akan ada yang berani menyentuhmu saat ini, kau sudah sadar, dan kau tak lemah meski seperti ini. Aku, Liana dan Kia selalu ada dibelakangmu. Dan lagi, beberapa orang yang aku pinta selalu mengawasi kalian." Omel Daksa pada sahabatnya itu.  itu, apalagi saat menatap wajah Kia mulai murung dan sedih.


"Aku hanya memberi kemungkinan terburuk, dan itu mungkin saja terjadi. Dan jika iya, aku sudah aman memiliki pegangan dan kepercayaan."


"Sudah, sudah... Makin lama makin ngawur kalian!" sergah Kia, merasa muak dengan obrolan kedua pria itu yang terdengar amat mengerikan. Bagaimana tidak? Baru saja merasa hidupnya berwarna lagi, tapi dibayang-bayangi sesuatu yang menakutkan seperti itu.