Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Agar tetap diam beberapa saat


Mobil terparkir dihalaman rumah. Kia langsung turun meninggalkan Bisma sat mendengar si kecil sena menangis begitu kuat, dan Ia segera turun untuk meraihnya dari sang Oma untuk menenangkan pria kecil itu. Ditimangnya dengan gendongan hingga tenang dan memberinya susu didalam dot yang telah Bik Is buatkan khusus untuknya.


"Mentang-mentang sena nangis, aku ditinggalin begitu aja. Jadi takut mau punya anak," gerutu Bisma saat menghampiri istri dan Omanya. Kia yang sadar melupakan Bisma langsung tertunduk malu dan meminta maaf atas keteledoran yang Ia lakukan.


"Kia cemas denger Sena," lirihnya. Untung Yanto masih disana dan tak buru-buru pergi meninggalkan Bisma atau bahkan mengunci mobil dengan Ia didalamnya.


"Lagian kalian kemana dulu, kok lama banget? Pacaran?" tatap Oma kesal, dengan segala rasa lelah yang mendera. Pasalnya. Sena memang sedang aktif-aktifnya merangkak kesana kemari dan berdiri memegangi apapun yang ada dihadapannya saat itu.


Kia kembali tetrunduk dan gugup dengan segala pertanyaan yang Oma berikan padanya. Apalagi, Bisma justru menjelaskan secara gamblang apa yang mereka lakukan sebelum pulang. Untung saja tak semua hingga ke bagian pertarungan mereka yang melelahkan, hingga Kia masih bisa menutupi perasaan malunya disana. 


Tak perlu malu sebenarnya, toh itu manusiawi untuk pasangan hangat seperti mereka. Bahkan, harusnya mereka tengah menjalani bulan madu dipulau atau tempat yang indah saat ini.


"Ya, tidur? Belum juga sempat tante ajak main," goda Kia dihidung sena yang bangir. Meski itu anak surya, tapi Kia juga mengakui jika surya cukup tampan dan merupakan bibit unggul untuk keturunan. Apalagi dipadu dengan Jinan yang cantik dan bersih, dan wajahnya mirip seperti sang Kakak yang terlampau mempesona bagi Kia. 


Aaaah, Kia selalu meleleh saat melihat dan menyadari ketampanan suaminya yang selalu sempurna dimatanya. Kenapa Ia baru sadar setelah menikah, dan bahkan menolak beberapa kali untuk perjodohan mereka kala itu. Dan lagi, Ia menganggap Bisma tak serius padanya diawal bertemu.


Kia membawa Sena untuk tidur dikamar oma. Ia pun ikut tidur disebelahnya karena lelah dan tubuhnya pegal akibat ulah sang suami, hingga dengan mudahnya Ia terbaring dan terlelap bersama sang keponakan.


"Ada apa, sayang?" tanya Oma, karena melihat Bisma yang sedikit tegang saat ini.


"Ya, masih ingat. Perawat yang terakhir kemarin, bukan?"


"Ya... Dan apakah Oma ingat jika dia pernah menjadi perawat di Rumah sakit?"tanya Bisma sekali lagi, karena Oma yang selalu menunggunya disana kala Ia koma.


Oma terdiam sejenak. Ia tampak berfikir dengan keras, untuk mengingat dengan dayanya yang mulai terbatas. Apalagi, Ia kala itu dalam kondisi yang cukup stres dan lelah mengurusi cucunya tanpa bantuan teman atau yang lain. Surya pun hanya datang untuk beberapa waktu atau mengantar pakaian ganti untuk neneknya disana.


"Oh... Oma ingat, sayang. Oma ingat, jika pernah melihat Nining beberapa kali keluar masuk ruangan kamu memberi obat. Apakah, dia perawat disana?" Pertanyaa itu lantas dijawab anggukan oleh Bisma dengan semua bukti yang Kia berikan padanya. Sayangnya, Bisma tak bisa memperlihatkan bukti itu kerena Kia yang menyimpannya dengan aman. 


"Itu, surya yang kasih buat kamu. Katanya, biar Oma ngga terlalu lelah mengurus kamu yang sakit. Tapi maaf, karena Oma kurang cermat memperhatikan darimana surya mengambil Nining saat itu." sesal Oma mendalam, karena secara tidak langsung memberi akses untuk mereka mencelekai cucunya lebih parah dari ini.


"Jadi Bisma minta, agar Oma cukup diam dan tahu akan hal ini. Bersikap seperti biasa, seperti Oma tak tahu apa-apa. Bisa?" pinta Bisma pada Oma, agar semua tak semakain kacau. 


Dan mengenai kecelakaan itu, Bisma yakin bukan surya pelakunya. Seperti yang orang lain serig tuduhkan pada adik iparnya itu.


"Satu persatu, semuanya pasti terungkap..." gumam Bisma dalam hati.