
Gemuruh riuh dalam konser itu mengalahkan segala suasana yang ada. Mereka semua berpesta dan bernyanyi bersama idol mereka disana dengan segala kebahagiaan yang ada.
Sebuah pemandangan ditemukan, saat rupanya Daksa mulai berani menggandeng tangan Nanda ditengah semua lautan manusia yang berkumpul disana. Memang sengaja dibuat sedikit gelap, agar mereka bisa menyalalan lightstick mereka keatas demi memberi dukungan pada idolanya saat itu.
Sementara itu Bisma meminta Kia membawanya kalantai atas. Sebuah kamar khusus milik Bisma yang Ia hadiahkan untuk Kia, dengan posisi strategis dan pemandangan yang indah menghadap kepantai. Dan saat ini, mereka dapat melihat konser itu dari atas tempat mereka berdiri di Balkon hotel dengan senua pemandagan indah yang ada.
Bisma meraih tangan Kia dan membalik tubuhnya saat itu. Mereka saling berhadapan dengan tatapan yang saling bertautan dengan lekat.
Kia meraih kacamaya hitam milik Bisma saat itu, lalu meraih wajahnya untuk Ia raba sejenak. Perban itu belum sepenuhnya terbuka, dan itu adalah hak Kia yang spesial diberikan oleh suaminya secara khusus. Karena Bisma ingin, saat pertama yang Ia lihat pertama kali adalah istrinya saat itu. Karena memang Ia belum pernah melihat Kia sama sekali selama hidupnya.
Dengan tangan yang cukup gemetar, Kia meraih area mata Bisma saat itu. Perlahan Ia membuka perban yang memutar tipis disekeliling kepalanya, lalu menyisakan dua yang merekat dikanan kiri mata Bisma. Dengan helaan napas panjang, Kia membukanya dengan begitu hati-hati hingga semua terbuka.
Posisi mata Bisma masih terpejam, hingga beberapa saat Ia mulai membuka matanya.
Awalnya masih buram, dan Bisna mengedipkannya beberapa kali hingga mata itu melihat sosok wanita cantik dengan rambut tergerai panjang didepan matanya.
"Mas?" panggil Kia dengan menelengkan matanya saat itu. Ia penasaran, apakah semua berhasil dengan sempurna seperti apa yang mereka harapkan selama ini.
"Kia? Wajahmu," pinta Bisma sembari mengulurkan telapak tangannya kewajah sang istri, dan Kia segera mendekat saat itu.
Bisma mulai meraba wajah Kia seperti biasa untuk memastikan akan istirnya, sementara akia masih sangat penasaran dengan kondisi Bisma saat ini.
"Semua pas... Ini hidungnya, matanya, bibirnya, semua tepat seperti yang aku bayangkan selama ini. Cantik," tatapan Bisma tampak semakin tajam dan fokus pada Kia saat itu. Dan ketika itulah, Kia faham jika semuanya berhasil dan Bisma sudah dapat melihatnya saat ini.
Kia tak mampu berkata apapun lagi. Ia hanya berteriak kecil lalu memeluk Bisma saat itu, lalu tangannya naik meraih wajah Bisma untuk mengecupi wajahnya bertubi-tubi tanpa jeda. Kening, pipi, hidung dan bibirnya.
Seolah tak tahan, Bisma meraih pinggang kia dengan satu tangan dan dagu kia dengan tangan satunya. Mendekatkan bibir keduanya dan memangutnya dengan cukup ganas dan menuntut kali ini. Apalagi saat Bisma bisa melihat ekspresi Kia yang menikmati semua sentuhan yang Ia berikan.
Tatapannya yang sayu, dengan suaranya yang lembut dan indah dan bisa segera menggetarkan jiwa lelakinya saat itu. Apalagi dengan segala kerinduan mendalam, yang sempat Ia tahan lebih dari seminggu ini. Rasanya Ia ingin meluapkan semuanya hingga tuntas, dan hingga pagi menjelang.
"Aku ingin melihat yang lainnya, bisik Bisma dengan suaranya yang mulai serak. Dan dengan wajah tersipu malu Kia menunduk, mengerti akan apa keinginan suaminya saat itu.
Bisma semakin mendekatkan tubuh keduanya hingga tanpa jarak, lalu mengangkat pinggul Kia dan naik kegendongan Bisma. Lalu dengan kaki dan tangan yang melingkar ditubuh kekar itu, Bisma membawanya berjalan menuju ranjang besar yang tersedia disana. Lalu membaringkan tubuh indah itu terlentang dan saling mengagumi satu sama lain.
Rabaan demi rabaan lembut Bisma berikan hingga tubuh indah itu melenting seolah menginginkan sesuatu yang lebih. Bisma merasa itu memperluas aksesnya untuk bisa bermain lebih baik lagi, dengan sesuatu yang ingin Ia nikmati dengan leluasa selama ini.
Dan saat Ia menemukan benda favorit itu, Ia mulai memainkannta sesuka hati dengan begitu gemasnya. Hingga Kia menggeliat kegelian sekaligus menahan nik mat dengan aliran listrik yang mulai menjalar disekujur tubuhnya.
Permainan mereka amat panas malam ini. Apalagi bisma sudah bisa menguasai seluruh tubuh indah itu dengan mata yang terbuka. Cinta keduanya menyatu, begitu indah dan tak lagi bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bakan suara konser diluar sana, seolah mengalahkan suara indah mereka berdua dalam pelepasan cinta mereka.
Tamat... End.