
"Kia, baru pulang?" sapa mama Lisa saat Ia masuk kedalam rumah itu.
"Hm... Iya, Ma. Ambil double shift hari ini," angguk Kia dengan Mamanya saat itu. Hanya sang ayah, yang duduk diam seolah meragukan jawaban yang Kia lontarkan padanya.
Kia tak sama sekali perduli dengan anggapan dan ekpresi sang ayah saat itu. Ia hanya fokus berjalan dan kembali kekamarnya untuk istirahat dan tidur malam ini, hingga esok pagi segar dan bisa segera bertemu dengan suaminya.
"Sudah ku bilang dia salah pilih. Menikahi pria buta yang bahkan tak pernah bisa melindungi dirinya sendiri saat ini. Ia bahkan pergi tanpa meninggalkan apapun untuk anakku, hingga harus bekerja sekeras ini. Kasihan dia," ucap Pak arman pada istrinya saat itu. Karena dalam bayangannya memang sangat miris dengan nasib anaknya yang terlunta-lunta atas kepergian suaminya.
Mama Lisa hanya bisa diam saat itu, mendengar segala celotehan suaminya yang terussaja menyalahkan semua keadaan yang ada. Kebodohan demi kebodohan yang diambil hingga menimbulkan segala penyesalan besar.
"Tapi Kia sama sekali tak menyesal tampaknya," balas Mama Lisa dengan secangkir teh hangat di tangannya. Ia memberikannya pada sang suami untuk mengajaknya mengobrol malam ini.
"Mama ini tahu apa tentang Kia? Kia itu manipulatif, bisa menyembunyikan segala perasaan yang harusnya menyakitkan. Bahkan Ia terbiasa tersenyum dalam semua rasa perihnya,"
"Ya, Papa amat tahu tentang Kia. Tapi Papa ngga tahu, Kia seperti itu karena siapa." Mama Lisa menyeruput teh manis dengan begitu nikmat.
"Siapa? Karena semua yang Ia alami, bukan?"
"Mama tahu darimana hal itu? Papa hanya ingin_..."
"Ya, semua orang tua pasti mau yang terbaik untuk anaknya. Tapi mereka kadang tak sadar, jika anak itu memiliki garis takdirnya sendri, Pa. Papa tahu, tapi Papa tak mau mengerti." Mama Lisa berbicara dengan nada yang begitu tenang dan santai, bersandar dibahu sang suami.
Sedangkan saat ini suaminya sendiri hanya bisa diam seribu bahasa dengan apa yang dikatakan istrinya. Tak terlalu panjang, namun sangat detail dan sesuai dengan kenyataan. Seolah saat ini Ia tengah ditampar oleh keadaan yang Ia buat sendiri, dengan sebab akibat yang Ia timbulkan dari segala perbuatannya pada sang putri.
"Kau menuduhku menjadi dalang dari semuanya?"
"Tidak... Tidak ada yang menuduh Papa seperti itu, saat ini." jawab Mama Lisa saat itu. Papa Arman bungkam. Ia hanya terdengar menghela napas panjang dan menemani istrinya menonton sinetron kesukaannya saat itu.
Sementara Nanda tak terlihat, karena Ia sibuk dikamarnya untuk menyelesaikan segala pekerjaan yang ada. Ia secara diam-diam membantu Daksa saat ini untuk melancarkan aksinya pada surya. Dan yang jelas semua orang tak ada yang boleh tahu akan hal itu, bahkan Papa dan Mama nya sendiri.
Nanda yang mahir akan editing itu tengah amat fokus mengamati semua video yang Daksa berikan padanya, dan itu akan Ia gabung menjadi satu menjadi sebuah dokumentasi atas kejahtan surya selama ini.
"Dokumenter to Surya geblek," tawanya puas, saat editan itu nyaris sempurna ditangannya. Bahkan Ia memberi sebuah gambaran pada Daksa, hingga saat ini mereka tertawa bersama meski berjauhan. Sayangnya, Bisma tak dapat melihat semua itu dan Ia tengah tidur amat pulas karena semua obat yang telah diberikan oleh dokternya.