
Braakkk! Jinan menjatuhkan beberapa beerkas dilantai. Ia membawanya dalam jumlah banyak dan akan Ia fotocopy dan Ia bagikan untuk rapat sore hari. Ia tak menyangka dan amat kesal dengan sang Kakak yang seenak hati memberinya posisi tak jelas dalam perusahaan orang tua mereka.
"Udah cantik kayak gini, malah dijadiin pekerja beginian, Weeey lah!!!"
Rasanya Jinan ingin mengamuk sekuat tenaga dan menghancurkan seisi kantor itu dengan tenaganya. Tapi sayang tak bisa, karena ia bukan penjahat seperti didalam lakon Ultraman yang sekuat itu. Kuatnya Jinan, hanya jika beradu argumen dengan Bisma atau suaminya. Ditambah Kia tentunya, tapi Kia selalu menghadapinya dengan cara yang amat tenang dan seperti tak pernah emosi saat berhadapan dengannya.
"Jinan, mana dokumennya? Ini udah mau dipersiapkan semua," panggil Liana padanya. Tak sungkan memerintah dan memberi arahan karena itu titah Bisma padanya.
"Ngga lihat, ini lagi ku kerjain. Tunggu aja kenapa?" sergah Jinan yang masih mengotak atik pekerjaannya. Menyusun dengan dengan cermat tiap lembar agar tak salah dan sesuai urutan yang ada.
"Kak Liana... Kerjaan aku itu banyak, belum lagi kadang dipanggil sana sini macam OB. Punya Kakak Direktur, tapi ngga perjuangain adiknya." cebik Jinan dengan amat kesal.
"Kakakmu minta kami profesional, Jinan. Lihat dari pendidikan dan pengalaman kerjanya, ngga asal ambil terus kasih posisi. Ancur perusahaan kalau begitu. Kamu pikir enak apa, ngurus perusahaan segini besar?"
"Yang bantuin juga banyak,"
"Iiiih.... Kamu!" geram Liana, mengepalkan tangan pada Jinan. Wanita manja itu hanya memejamkan matanya ketakutan, untung saja Liana tak nekat untuk menghajarnya meski telah mendapat izin dari Bisma dan Daksa.
"Ngga berani 'kan? Masih takut sama aku?"
"Bukan takut sama kamu... Tapi menjaga martabat kamu didepan yang lain. Kasihan, sudah dibuat seperti ini, masa harus dikerasin lagi. Lebih baik memberi pelajaran dengan banyak hal daripada sekedar memukul anak manja seperti kamu," balas Liana, lalupergi dengan santai meninggalkan Jinan dalam tugasnya yang banyak dan sendirian. Bahkan, tak ada satupun yang mau membantunya saat itu meski tampak Ia amat kesusahan dengan tugas-tugasnya. Rasanya ingin menangis, tapi malu dengan semua orang disana.
"Aaarrgggh!" Surya memekik tatkala telinganya berdenging hebat. Ia yang tengah ada diruangannya, tengah sibuk dengan semua file yang Daksa berikan padanya. Harus segera selesai dan Daksa akan memeriksanya nanti. "Siapa yang sedang mengataiku? Sial!" rutuknya sembari mengorek gendang telinganya.
"Bagaimana pekerjaanmu?" intip Daksa dari pintu masuk ruangan Surya.
"Belum, bentar lagi. Macam mana mau cepat selesai, kalau ditanyain terus? Dikejar mulu, mana mau fokus." cicitnya dengan mata fokus pada laptop.
"Alasan aja!" tukas Daksa yang langsung meninggalkan Surya dengan segudang pekerjaan yang ada.
"Tinggal merintah mah gampang... Kagak tahu yang ngerjain kepalanya pengen meledak," geram Surya. Memang klop pasangan itu, karena sama-sama penggerutu dan tukang protes.
***
Sementara itu di Nala hotel, Pak arman dan Nanda tengah menghadiri sebuah pertemuan mengenai pengembangan hotel mereka bersama seorang investor. Tapi serasa berada dalam bayang-bayang sang menantu, saat investor yang Ia temui selalu membicarakan Bisma yang juga adalah kolega mereka.
"Saya menjadi yakin bekerja sama dengan anda, Pak arman. Selain memang saya tahu bagaimana kinerja anda, alasan pendukung lainnya adalah saat Anda adalah mertua dari Tuan Bisma. Jadi, pasti akan terjamin tanpa adanya keraguan akan kegagalan." jawab Sang kolega dengan amat yakin. sementara Pak Arman sendiri tampak kurang nyaman ketika itu dibahas didepan matanya saat ini.
Nanda merasa tak nyamab dengan ekspresi Papanya itu. Ia berusaha agar mengimbangi pembicaraan mereka dan mengalihkan perhatian dari obrolan mengenai Bisma disana.
" Terimakasih, Pak. Tapi, kami akan berusaha sekuat tenaga bersama Nala disini. Dan terimakasih, karena sudah percaya dengan kami untuk menjalankan kerja sama."