Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Jadi rindu ayah


Jinan menguatkan rahangnya, berdiri menghentakkan kaki lalu masuk kekamarnya degan segera. Bahkan pintu Ia tutup dengan kuat hingga surya terbangun untuk memperhatikan Sena yang terkejut.


"Untung ngga kebangun," Surya mengelus dada menatap anaknya yang langsung terpejam lagi saat itu. "Kamu kenapa? Keluar bentar balik malah begitu," omel surya pada istrinya yang cemberut duduk ditepi ranjang dan meraih selimut tebalnya. 


"Udah... Tidur. Besok kesiangan, aku mau kerja." sergah Jian lalu menutupi seluruh tubuhnya itu dengan selimut tebalnya. Surya melongo dan cengo mendengar kata-kata yang dilontarkan sang istri, menggaruk kepalanya dan masih belum paham benar apa maksudnya. Tapi, Ia jua makas mengganggu Jinan saat sudah seperti itu dan memilih kmbali tidur memeluk erat sang putra yang hangat. Apalagi menurutnya, ada bau Kia disana dan begitu membuatnya nyaman.


"Mas ngga ketrlaluan sama Jinan?" obrolan Kia mulai setelah menggantikan pakaian Bisma untuk tidur, dan kini tengah berbaring bersama di ranjang keduanya.


"Tidak... Ini belum seberapa, Kia. Jinan memang harus diberi pelajaran sesekali, agar Ia tahu rasanya bersyukur. Usianya sudah makin dewasa, dan harusnya Ia paham bagaimana kedewasaan itu. Aku tak pernah mengekangnya karena aku tahu Ia memiliki hidup sendiri, tapi semua itu justru Ia salah gunakan seperti ini."


"Kia mendadak rindu Ayah," lirihnya. 


"Kamu ingat Ayah dengan kata-kataku? Apa yang menjadi persamaan dari semua kata-kata itu?" tanya Bisma dengan pernuh perhatian untuk mendengarkan semua yang Kia utarakan padanya. Karena memang saat beberapa kali bertamu, Kia selalu ada dalam posisi lari dari sang Ayah. Dan saat ini, sepertinya adalah saat yang tepat untuk Bisma mengetahui semuanya.


"Kia memang selalu merasa terkekang dengan apa yang ayah lakukan selama ini. Apalagi, saat Ibu udah ngga ada dan ayah semakin tak memberi hak untuk Kia memilih. Tapi melihat Jinan itu sebaliknya, tapi masih saja ada yang kurang. Semua orang tua atau Kakak, pasti ingin yag terbaik kan, buat anak atau adiknya? Tapi cara mereka berbeda-beda, hanya tinggal cara kita beradaptasi dengan semuanya."


"Kesmpulannya... Kia ngantuk. Yuk tidur, besok kita mau kontrol, belum lagi Kia mau mulai jadi Baby sitter untuk Sena." kilah Kia pada suaminya.


"Akiaaaa,"


"Ya, Mas? Ada apa?"


"Wajahmu," pinta Bisma dengan mengulurkan tangannya. Kia pun mendekat dan memberikan wajahnya pada bisma untuk kia raba seperti biasa, dari dahi, hidung, bibir dan mengusap pipinya beberapa kali dengan amat lembut. Seprtinya ini akan jadi ritual mereka sebelum tidur, ataupun saat mereka akan bertemu selain dengan genggaman tangan Kia padanya.


usai mengusap wajah Kia, Bisma menarik tubuh itu kedalam pelukannya. Ia mengecup kening Kia dan mendekapnya hingga terlelap bersama. Kadang memang terbesit dalam hati Kia akan  apa yang sbeenarnya membuat Bisma tertarik padanya, bahkan sampai mengejar kemanapun Ia pergi hanya dengan beberapa kali bertemu dalam moment yang absurd. Kia hanya ingin bertanya apa istimewanya dia hingga Bisma begitu tulus padanya saat ini.


"Tapi jika bertanya justru akan membuatku ragu, maka lebih baik aku diam dengan segala tanda tanya ini. Menikmati semua yang kau berikan padaku yang terasa amat sangat tulus tanpa jeda seperti ini. Sedikit raguku akan pria itu mencair, bahwa masih ada pria tulus didunia ini untukkua." gumam Kia dalam hati dalam segala kehangatan yang Ia rasakan saat ini.