
Kia beralih dari sana. Melihat persiapan telah sempurna, Ia pun segera mengajak mereka semua untuk makan malam bersama dengan menu yang memang telah tersedia. Ia meraih tangan sang suami dan membawanya ke meja makan diikuti yang lainnya kecuali Jinan dan Surya yang masih dikamar dan sedaritadi tak keluar. Tak penting juga bagi Kia, yang penting Sena tak menjadi pelampiasan keduanya dan menangis didalam sana. Dan jika iya, maka Kia yang akan turun tangan langsung mengambilnya dari Jinan atas persetujuan Bisma.
Makan malam dimulai setelah Kia melayani mereka semua. Ia menyuapi Bisma sekaligus dirinya sendiri sembari mendengarkan mereka semua bersenda gurau disana agar suasana tak terlalu tegang. Oma tak hentinya memui Kia yang rajin dan terampil dirumah barunya itu, membuat Mama Lisa sedikit cemburu akan keakraban mereka berdua yang terjalin dalam waktu singkat. Sedang bersamanya yang telah menjadi Mama sambung selama Satu tahun ini, Kia masih tampak sungkan dan tak seperti ketika bersama Oma.
"Tapi setidaknya Kia sudah memanggil mama, sekarang. Kia sudah tak ketus lagi sama mama dan nanda, dan itu sudah cukup buat mam, Nak. Hanya tinggal lebih mengakrabkan lagi dengan mama yang akan sering menjenguk kia disini," harap mama Lisa dalam hati.
Sementara didalam sana, Jinan dan surya tengah gelisah sendiri dengan keseruan mereka. Surya lapar, tapi Jinan melarangnya keluar dan merendahkan diri untuk bergabung bersama keduanya. Egois, tapi itulah Jinan dengan segala pemikiran bocahnya.
"tapi laper, Yang."
"Tahan dikit napa? Kesel deh. Atau cari makan diluar, sana. Kayak orang ngga punya duit aja kamu tuh," sergah Jinan pada suaminya dengan nada keras.
"Mana aku ada duit. Kan semua udah kamu pakai party tadi, mana ngga disisain pula." balas surya dengan nada yang amat melas. Yang gara-gara credit card Jinan dinonaktifkan, Ia akhirnya menjadi korban kakak iparnya saat ini. Isi tabungannya yang tipis dihabiskan istrinya untuk shoping tanpa menyisakan sedikitpun untuknya, dan memberli baranag-barang branded semahal itu demi sebuah gengsi. Sementara dirinya sendiri kesulitan hanya untuk makan malam ini.
"Pokoknya, kamu jangan keluar sedikitpun! Aku ngga mau kamu gabung sama mereka disana," ancam Jinan pada suaminya. Padahall dari dalam kamar itu tercium aroma makanan yang amat lezat dan membuat perutnya semakin merasakan perih yang tak terkira. Hingga akirnya biskuit milik Sena lah yang jadi korban dan Ia makan untuk sekedar mengganjal perut.
"Mama ngga nginap disini?" tawar Bisma pada mertuanya itu.
"Mama ngga bisa nginep, Bisma. Ayah kamu pasti uring-uringan kalau sampai Mama nginep disini, tadi aja antara iya dan tidak saat nanda minta izin kesini."
"Atau, Kak Bisma dan Kak kia aja yang sesekali nginep kesana?" Nanda balik memberikan penawaran. Ia berharap jika Bisma dan Kia menginap disana maka Ayah akan sedikit luluh dengan hubungan keduanya.
"Nanda..." tegur Kia pada adiknya itu. Nanda seketika menutup mulutnya dan mengucapkan kata maaf pada Bisma, dan hanya dibalas senyuman manis darinya. Tak berjanji, tapi mungkin suatu saat nanti Ia akan mengajak Kia kesana untuk sekedar main atau menginap melepas rindu pada sang Ayah.
Mama Lisa pamit untuk pulang, keduanya segera naik mobil dan Nanda dengan cepat menyetir agar cepat juga sampai dirumah mereka. Papa Armannya pasti sudah menunggu, entah bagaimana ekspresinya nanti saat menyambut mereka. HArap-hrap cemas, jika akan mmengulik bagaimana kehidupan Kia selama dirumah Bisma.
"Katakan yang baik, bahwa mereka berdua bahagia. Jangan ceritakan masalah adiknya itu, dan surya yang ada disana meski Papa sebenarnya tahu,"
"Iya, Ma..." angguk Nanda, dan kembali fokus pada setirnya.