
" Coba pikirkan kembali Tuan Muda, tadi saat saya memeriksa nadinya saya melihat tanda marking di tangannya, itu artinya dia sudah milik orang lain, bagaimana bisa anda mengorbankan diri anda untuk seseorang yang sudah memiliki pasangan? Tuan Muda, tindakan anda benar-benar sembrono!"
" Anda paham artinya berbagi permata bukan? anda akan menanggung semua luka yang dia terima, kita ras siluman memang memiliki umur yang panjang tetapi nyawa kita tetap satu, jadi coba kita cari solusi yang lain, bagaimana?"
" Tidak Sir, kondisi Sisilia tidak bisa lagi menunggu, kita harus segera bertindak sebelum semuanya terlambat!" Fengying masih bersikeras dengan keputusannya.
" Tuan Muda Fengyin!!"
Tetua sedikit membentaknya karena dia benar-benar tidak setuju dengan keputusan yang di ambil oleh pemuda tersebut namun apapun itu nampak pemuda itu sudah membulatkan tekadnya untuk memberikan permata naganya kepada gadis yang masih terbujur lemas tersebut.
" Sepertinya tidak ada yang bisa saya lakukan untuk mengubah keputusan anda" dia menarik nafas sambil menggeleng-gelengkan kepala.
" Baiklah, mari kita lakukan!"
Mereka kembali ke samping dimana Sisilia berbaring, Fengyin menatap tubuh gadis yang sudah dibersihkan oleh asisten Tetua Mu, wajahnya putih pucat seperti nyawanya sudah pergi dari tubuhnya.
" Butuh waktu lama bagi permata naga untuk menyesuaikan diri dengan tubuh baru, dan dia akan menganggap tubuh barunya sebagai pasangan anda, jadi dimasa depan anda tidak akan bisa berpisah dengannya walaupun nantinya dia menikah dengan pria pilihannya, karena tindakan anda adalah tindakan sepihak, apa anda siap?"
Fengyin menganggukkan kepalanya dengan mantap lalu proses pemindahan permata Naga pun di mulai, memang tidak mudah memindahkan permatanya, butuh waktu berjam-jam sampai Fengyin merasakan kekuatannya terkuras sangat banyak namun demi menyelamatkan gadis itu dia mampu untuk bertahan.
" Sekarang kita tinggal menunggu Miss Sisilia sadar, saya tidak yakin akan terjadi dalam waktu dekat karena saya rasa ada faktor psikologi yang membuatnya tidak ingin bangun dari tidur panjangnya" ucap Tetua Mu setelah pemindahan permata itu berakhir.
Fengying yang sudah lemah karena kehabisan tenaga bangkit dan menggenggam tangan Sisilia sambil membelai rambutnya.
" Setidaknya dia sudah tidak dalam bahaya lagi, dengan begitu aku dapat bernafas lega" jawabnya hampir tidak terdengar.
Setelah itu Tetua Mu dan asistennya meninggalkan Fengyin dan Sisilia di ruangan itu, Fengyin berbaring di sebelah gadis itu sambil mengistirahatkan tubuhnya yang sudah lelah, dia menatap wajah gadis yang sekarang sudah tidak pucat lagi itu.
" Aku menyesal, seandainya saja jika aku tidak meninggalkan mu disana, mungkin kau tidak akan terluka seperti ini!" gumamnya masih memandangi wajah gadis itu.
" Aku tidak tau kapan rasa ini muncul, yang aku tau adalah saat kau terluka aku juga merasakan sakitnya, aku cemburu melihat mu dengan pria itu tapi apa yang bisa aku lakukan? jika kau bahagia bersamanya aku rela melepaskan mu namun sekarang aku menyesal melepaskan tangan mu itu Sisi"
" Seandainya aku bisa kembali ke masa lalu, aku akan menggenggam erat tangan mu dan melindungi mu dari semua bahaya, aku akan menjadikan dirimu prioritas ku"
Dia masih tetap bergumam sambil mengatakan penyesalannya kepada tubuh yang diam terbaring itu, belum nampak tanda-tanda gadis itu akan sadar walaupun sudah lama tertidur, Fengyin mulai di tanda kecemasan kalau-kalau dia tidak akan pernah bangun lagi.
" Sir, kenapa dia masih belum bangun?" tanyanya kepada Tetua Mu setelah dia meminta pria tua itu untuk memeriksa kondisi Sisilia.
" Tidak apa-apa, mungkin karena dia masih belum punya kemauan untuk terlepas dari penderitaan masa lalunya, kalau saya tidak keliru kemungkinan dia akan kehilangan ingatan masa lalunya setelah dia bangun nanti, dia akan seperti bayi yang baru lahir dan menerima semua pelajaran yang akan anda ajarkan kepadanya nanti".
" Apakah tidak apa-apa jika saya membawanya ke kediaman saya, Sir?"
" Baiklah, saya harap anda berkunjung beberapa kali seminggu jika dia masih belum juga bangun Sir!"
" Tentu saja"
Pria tua itu tersenyum kecil walaupun dihatinya dia masih merasakan firasat yang buruk saat Fengyin hendak membawa Sisilia ke kediamannya namun dia hanya mampu mendukung keputusan pemuda itu.
" Nona Chen, tolong bantu siapkan kereta kuda dan kebutuhan perjalanan Tuan Muda!" ucapnya kepada asistennya tersebut.
" Tidak perlu repot-repot Sir, akan lebih cepat jika saya membawanya melalui udara!" jawab Fengyin dengan cepat.
" Baiklah, hati-hati di jalan!"
Fengying pamit sebelum dia berubah jadi naga dan menggendong Sisilia dia atas tubuhnya dan dengan cepat dia melintasi awan-awan putih, dia berharap Sisilia menyukai kediamannya walau suasana nya sangat jauh berbeda dengan kediaman Zurich atau pun kerajaan Dakota keseluruhan.
Satu jam kemudian dia sampai di kediamannya, dia meminta para pelayan untuk menyiapkan kamar yang dekat dengan pepohonan Serulatta dan memilih salah satu pelayan yang terpercaya untuk merawat gadis itu.
Dia membaringkan tubuh gadis itu diatas ranjang kayu dengan ukiran yang indah, ruangan itu di penuhi oleh pernak-pernik dan juga lampu gantung yang indah, bahkan di sisi tempat tidur ada kain berenda yang melintang dengan warna peach yang cantik.
Kamar itu di hias dengan sedemikian rupa dengan harapan bahwa penghuninya akan menyukainya nanti, Fengyin selalu berada di samping Sisi kecuali dia harus mengunjungi kakaknya yang merupakan raja di kerajaan itu.
" Sisi, aku senang jika kau memang hilang ingatan, dengan begitu kau akan melupakan semua penderitaan yang telah kau alami selama ini dan menggantinya dengan hal-hal indah yang akan aku berikan kepada mu nanti".
Dia mengecup lembut kening Sisilia kemudian kembali membelai rambutnya dan memandangi wajah manis gadi itu.
" Jadi cepatlah bangun!" bisiknya kepada gadis itu sebelum meninggalkan kamarnya.
" Tolong awasi dia, jika dia sadar segera hubungi saya!" perintahnya kepada pelayan yang ditugaskan untuk merawat gadi pujaan hatinya itu.
" Baik Sir!"
Fengyin melangkah keluar dengan malas, dia benar-benar tidak punya keinginan untuk meninggalkan gadis itu namun ada hal mendesak yang harus di tanganinya ditambah dengan perang melawan para monster semakin hari semakin dekat.
Pelayan itu mengelap wajah Sisi beberapa kali kemudian merapikan selimut yang menutup tubuh gadis yang hendak menjadi Nyonya itu ketika dia melihat tangannya bergerak lalu dengan perlahan dia membuka matanya.
Dia menatap gadis pelayan yang terkejut sampai tidak bersuara di depannya, dia bangkit dengan perlahan kemudian duduk menyender ke pembatas tempat tidur.
" Anda siapa?" tanyanya sambil memiringkan kepala.