
Dengan lemas aku langkahkan kakiku kembali ke kamarku, sekujur tubuhku gemetar dan keringat dingin membasahi pelipis, seluruh tubuhku seperti tidak bertulang, aku bahkan tidak punya tenaga untuk membawa kotak perhiasan yang ada di tanganku, perlahan aku merasakan tubuh ku perlahan-lahan tumbang ke lantai yang keras.
" Miss Butterfly!" terdengar suara seorang pria berteriak dan berlari ke arahku.
Dia mengangkat tubuhku dan memanggil-manggil namaku sambil memerintahkan yang lain untuk memanggil Grand Duke, kesadaran ku belum hilang tetapi aku tidak bisa melihat pria tersebut dengan jelas.
" Sisilia sayang, apa yang terjadi pada mu?" tanya suara yang begitu familiar namun aku masih belum bisa melihatnya dengan jelas.
Dia mengendong ku menuju kamar sambil menyakinkan ku bahwa aku akan baik-baik saja, nada suaranya terdengar khawatir dan putus asa, aku juga merasakan tetesan air berjatuhan ke wajahku.
' Apa dia menangis? siapa dia? Zurich kah?'.
Dia membaringkan ku di atas tempat tidur, samar-samar aku mendengar keributan walaupun aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
" Kenapa Penelope lama sekali?" teriak suara yang terdengar samar-samar itu.
" Wajahnya bahkan sangat pucat seperti semua darah menghilang dari tubuhnya!"
Kali ini suara itu lebih terdengar seperti isakan tangis, ada ketakutan yang sangat besar dalam suara tersebut, kemudian aku merasakan tanganku disentuh oleh sesuatu dan kemudian aku tidak mendengar lagi suara-suara keributan tersebut.
Di dalam tidur ku aku bermimpi Zurich memandangku dengan wajah dingin dan terlihat kekecewaan yang mendalam menghiasi wajahnya.
" Bagaimana mungkin aku memaafkan apa yang sudah diperbuat oleh keluarga mu, kau tidak pantas untuk hidup!!"
Aku memohon kepadanya namun tidak ada suara yang keluar dari mulutku, aku bahkan bergantung ke kakinya supaya dia mau mendengarkan penjelasan ku namun dia menendang sehingga aku terpental kemudian tanpa pikir panjang dia menghunuskan pedangnya ke leherku.
" TIDAKKKKKKK!!!!!!!!" teriakku seperti orang hilang akal.
Aku terbangun dan bangkit dari tempat tidur dengan nafas terengah-engah kemudian memeriksa leherku yang masih tersambung dengan kepalaku.
" Akhirnya kau bangun Sisi" ujarnya Zurich di sampingku sambil memegang tanganku.
Aku terperanjat dan langsung menepis tangan Zurich dengan keras kemudian bergerak menjauh darinya.
" Ampuni aku! jangan bunuh aku, tolong jangan bunuh aku!" teriakku sambil menangis kepadanya.
" Ap.. apa yang kamu katakan sayang? siapa yang hendak membunuhmu? buka lah matamu! ini aku" ujarnya mendekat dan memegang pundak ku namun aku kembali menghindar dan menjauh darinya.
"Ja... jangan!" isak ku sambil memukul-mukul udara.
Dia menarik tubuhku ke dadanya, dia berusaha menenangkan ku sambil mengusap-usap punggungku, aku masih memukul-mukul dadanya dan berusaha melepaskan diri namun dia kembali mendekap dengan erat, beberapa saat kemudian aku mulai tenang.
" Apa yang sebenarnya terjadi padamu sayang? tidak bisakah rasa sakit mu dipindah kepadaku saja, hatiku sangat hancur melihat mu seperti ini" lirihnya yang hampir tidak terdengar oleh ku.
Entah apa yang terjadi aku kembali tertidur, kali ini aku bisa tidur dengan tenang, aku tidak tau apa yang terjadi tapi yang jelas saat aku bangun, aku sudah bisa berpikir dengan jernih.
" Kau sudah sadar Miss? apa kau merasakan sakit di badan mu? bagaimana kepala mu? apa sudah tidak sakit?"
" Miss Penelope? apa yang terjadi disini?"
" Kau tidak ingat?"
Aku menggelengkan kepala dan kembali memutar otakku, mencari ingatan terakhirku sebelum aku tertidur.
" Bagaimana aku bisa sampai di kamarku? seingat ku aku sedang dalam perjalanan ke ruang kerja Grand Duke!"
" Itu sudah lima hari yang lalu, apa hanya itu yang kau ingat?"
" Lima hari yang lalu? apa maksud mu? apa yang sebenarnya terjadi?"
" Menurut keterangan Sir Gawin, saat dia keluar dari ruang kerja Komandan dia melihatmu terjatuh ke lantai, dia segera menghampirimu untuk melihat apa yang terjadi namun kau tidak menjawab bahkan wajahmu pucat seperti mayat hidup".
Ak mencerna ucapan Penelope dan kembali memutar kejadian sebelum aku ke kamar Zurich di kepalaku.
" Setelah itu Komandan datang dan segera membawamu ke kamar dan memintaku untuk memeriksa mu namun aku tidak menemukan satu penyakit pun dalam tubuh mu, hanya saja tubuh mu menunjukkan reaksi tertekan dan ketakutan, lalu kau bangun kau langsung menyerang komandan dan meneriakinya, kau seperti orang gila yang kehilangan akal sehatnya, kau memaki dan mengusir komandan sambil berteriak histeris!"
" Ei... ngak mungkin lah, mana mungkin aku berani melakukan itu pada seorang Grand Duke", jawab ku tidak percaya dengan ucapan Penelope.
" Tidak berani apanya, awalnya aku tidak percaya ucapan pelayan yang mengatakan kalau kau menyerang komandan sampai akhirnya aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku, aku bahkan tidak punya pilihan selain memberi mu obat penenang, tapi syukurlah kau sudah kembali seperti biasa sekarang, aku tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan jika kau kembali mengamuk".
" Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa aku melakukan itu? lalu bagaimana dengan Grand Duke? dimana dia sekarang?"
" Dia harus ke istana karena acara festival yang sudah sangat dekat, ck ck kau bahkan menyita waktu istirahat komandan dengan kegilaan mu!" ujar Penelope sambil geleng-geleng kepala.
" Aku tidak bisa berlama-lama di sini, aku akan memeriksa denyut nadi mu sebelum aku pamit, aku minta maaf karena harus meninggalkan mu, karena festival yang sudah dekat semua orang di fraksi zodiak dua belas sangat sibuk dengan berbagai hal, aku akan menyampaikan kondisimu kepada komandan, jadi istirahatlah!"
Setelah selesai memeriksaku Penelope meninggalkanku dan meminta pelayan untuk mengawasi kondisiku, aku menatap ke luar jendela sambil mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi, pandanganku teralihkan oleh kotak biru tua yang ada disamping tempat tidurku.
' Saat aku menemukan Mcgnagal terakhir itu aku akan langsung mengeliminasinya, tidak peduli siapa pun itu!'
Suara itu muncul begitu saja di kepala ku dan ingatan tentang malam itu terputar kembali layaknya sebuah pertunjukan di kepalaku, aku merasakan dadaku yang sesak dan nafas ku yang tersengal di tenggorokan, aku menarik nafas lama lama untuk menenangkan diri
" Ah sepertinya semua sia-sia saja, tidak peduli dia menyukai ku atau tidak, rasa dendamnya kepada keluargaku lebih besar dari yang aku bayangkan!" gumamku sambil menahan kepalaku dengan tangan.
" Aku tidak akan mengorbankan diriku hanya karena aku mencintainya, aku tidak sehebat itu, sepertinya aku harus pergi sebelum dia mengetahui siapa aku sebenarnya".
Aku melihat jauh ke jendela dan menyayangkan kisah cintaku yang bertemu disaat yang tidak tepat walaupun dengan orang yang tepat.
' Kisah cinta macam apa ini? bahkan novel romance yang dijual dipasaran punya alur yang lebih baik dari ini, ahhh kenapa harus terjadi padaku? kenapa aku harus jatuh cinta pada orang yang akan membunuh ku? sekarang apa yang harus aku lakukan?'
Aku meringkuk diatas tempat tidur, aku tidak pernah memiliki pikiran sejernih ini, aku memantapkan hatiku untuk meninggalkan kisah cinta yang terpaksa kandas karena waktu yang tidak tepat.
' Sepertinya festival yang akan datang adalah waktu yang tepat untuk meninggalkan semua kegilaan ini dan menjauh dari bendera kematianku!'.