Butterfly Trap

Butterfly Trap
Part 56


Seperti yang di janjikan Castella, aku dapat keluar dari markas fraksi itu dengan mudah dan tidak ada orang yang mengikuti sampai aku keluar dari kawasan zodiak dua belas, aku mempercepat langkah ku menjauh dari sarang harimau tersebut.


" Aku harus ke rumah Nabi dulu dan memberi tahu dia bahwa aku baik-baik saja, aku tidak mau dia semakin khawatir dengan keadaan ku" ucapku setengah berlari menyusuri gang-gang sempit.


Aku melirik ke kiri dan ke kanan setelah keluar dari gang dan memilih jalan memotong melewati lembah yang sepi dan kumuh tersebut, walaupun Kapital terkenal dengan rakyatnya yang makmur namun masih saja ada perkampungan kumuh yang menjadi sarang para kriminal untuk menyembunyikan diri dan ini sudah menjadi rahsia umum.


Aku tidak mengerti mengapa pemerintah membiarkan tempat itu begitu saja tapi yang pasti keberadaan tempat tersebut cukup membantu ku saat ini, aku melangkah dengan percaya diri ke dalam perkampungan itu supaya penduduknya tidak mencurigai ku sebagai orang asing atau nyawaku akan berada dalam bahaya.


Aku sampai diujung jalan dimana beberapa kereta sewaan tengah mangkal di sana, beberapa pengemudinya tengah asik bermain catur dan yang lainnya berkelakar.


" Antar saya ke kediaman Marquis Rafael!" ucapku kepada salah satu dari mereka.


" Berapa yang hendak kau kasih?" jawab salah satu dari mereka yang memiliki wajah sangar.


" Kau mau antar atau tidak? aku akan membayar mu sepuluh sen!"


Dia tergelak sambil menatapku dengan pandangan menilai.


" Kau membuat ku tidak nyaman, sebaiknya aku meminta yang lain!" ujarku meninggalkannya.


" Dua puluh sen!"


" Lima belas!"


" Cih, naiklah!" ujarnya sambil menunjuk kearah keretanya.


Aku mengangguk dan memberikan beberapa koin kepada pria tersebut sebelum menaiki kereta tersebut, aku memintanya untuk mengendarai kereta tersebut dengan cepat.


' Kenapa dia tidak sopan sekali? memangnya dia tidak butuh uang? mana dia memoroti ku lagi, kalau bukan karena terburu-buru aku tidak akan menaiki kereta yang dekat kampung ini'


Kami sampai di kediaman Nabi dalam waktu empat puluh lima menit, dan tanpa pikir panjang aku memasuki kediaman itu dari pintu belakang agar tidak ada yang melihat kehadiran ku, aku mengetuk pintu kamar Nabi dua kali sebelum masuk ke dalam.


Nabi yang tengah menulis sesuatu di meja dekat jendela terkaget melihatku dan langsung menghampiriku dengan wajah cemas.


" Apa yang sebenarnya terjadi Si? kenapa mereka mengetahui identitas mu? apa mereka melepaskan mu begitu saja?" tanyanya membom bardir ku dengan pertanyaan.


Aku duduk di atas tempat tidurnya dan membuka jubah ku yang sudah kotor, kemudian menoleh kearah dia yang tengah berdiri di depan ku.


" Castella mengatakan kalau Zurich lah yang memberitahu para bangsawan tentang identitas ku, tapi aku tidak mempercayainya, bagaimana mungkin Zurich melakukan itu pada ku!"


" Apa!?" pekik Nabi kemudian dia beralih duduk ke samping ku.


" Jadi kau bertemu Castella di fraksi Virgo?"


" Iya, dan dia juga yang membantu ku kabur".


" Castella? pfff... kau pasti bercanda!" ujarnya tergelak.


" Tentu saja tidak, tapi bukankah ini lebih baik daripada mendekam di penjara?"


" Kau ada benarnya, lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"


" Pertama-tama aku harus pergi dari Kapital kemudian menyusun rencana untuk bertemu dengan Zurich dan mencari tau kebenarannya, aku yakin dia menyembunyikan sesuatu dariku"


" Apa kau gila Si? di saat seperti ini kau masih mempercayai dia?"


" Lalu menurut mu apa yang harus aku lakukan? haruskah aku mendengar omong kosong Castella sementara aku belum mendengar kebenaran dari mulutnya? apakah menurutmu lebih baik mempercayai orang yang mencoba membunuhku dari pada mempercayai kekasih hatiku?"


" Bagaiman jika yang dikatakan Castella benar? bagaimana jika dia menangkap mu sebelum kau sem[pat pergi dari sini? Si, aku tidak menyuruh mu untuk tidak mempercayainya tapi kau harus berpikir logis pada saat seperti ini, kau harus memperhitungkan kemungkinan bahwa dia adalah musuh mu yang sebenarnya" Nabi masih ngotot dengan pemikirannya.


" Itu tidak mungkin, berhenti mengatakan omong kosong, Bi" teriakku dengan cepat kepadanya.


" Aku tidak percaya dan tidak ingin mempercayainya, memang hatiku sakit saat melihat dia menggandeng dan bertunangan dengan wanita lain tapi walaupun begitu aku masih ingin percaya bahwa dia melakukan itu karena sebuah alasan".


Nabi terdiam, dia hanya memandang ku yang sudah mulai berkaca-kaca.


" Kau benar........seharusnya aku berpikir logis dan memperhitungkan segala kemungkinan tapi Bi.........hatiku sudah terluka, aku....kalau boleh jujur aku tidak mampu menahannya lagi, aku sudah terlanjur jatuh cinta kepadanya, aku sudah memberikan hatiku sepenuhnya kepadanya, dan sekarang orang lain mengatakan bahwa dia mengkhianati ku, kalau kau jadi aku apa yang akan kau lakukan?" ucapku dengan lirih.


Kali ini suara ku bergetar menahan air mata karena rasa sakit di dadaku semakin menjalar ke seluruh tubuhku.


" Kau tau, aku bersabar menunggunya berhari-hari di pulau yang hanya dihuni beberapa orang, bahkan ada penghalang yang membuatku tidak bisa keluar dari sana, dengan harapan apa? agar dia datang menjemput, dia berjanji menjemput ku dalam tiga tapi pada akhirnya dia tidak datang namun aku masih ingin percaya bahwa ada alasannya mengapa dia tidak menepati janjinya".


Nabi mendengarkan ku sambil menggenggam erat tanganku.


" Aku sangat merindukannya dan aku khawatir dia akan berada di dalam kondisi berserk lagi, itulah mengapa aku mencari cara untuk pergi dari sana dan datang ke ke sini dengan harapan aku bisa bertemu dan mengasih kejutan padanya, tapi sesampai di sini apa yang aku dengar? dia bertunangan dengan orang lain bahkan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri dia menggandengnya dalam arak-arakan perayaan, menurutmu melihat itu aku masih bisa berpikir logis?"


" Aku tidak batu Bi, aku..... aku hancur, aku terluka, rasanya aku ingin berlari kearahnya dan menarik kerah bajunya, kemudian berteriak mengapa dia melakukan ini kepadaku? tapi apa, karena rasa cinta ku kepadanya aku masih ingin percaya bahwa yang aku lihat dan yang aku dengar tidaklah benar".


Nabi yang melihat air mataku yang berjatuhan memeluk tubuh dengan erat, gadis itu tampaknya juga berusaha menahan tangisnya, dia tidak berbicara hanya tangannya yang menepuk-nepuk punggungku dengan lembut.


" Aku paham yang kau rasakan dan aku akan selalu disini untuk mu Si, kau adalah keluargaku, aku pasti akan membantu mu walaupun aku harus melawan seluruh orang di kerajaan ini"


" Tidak, jangan!" ucapku melepaskan diri dari pelukannya.


" Jangan Bi, aku hanya disini sebentar, aku hanya ingin menemui mu sebentar setelah itu aku akan bertemu Miranda kemudian meninggalkan Kapital".


" Itu......." dia menatapku dengan putus asa.


Ada sesuatu yang menahannya untuk melanjutkan ucapannya, aku menatap gadis didepan ku itu yang berusaha mengalihkan pandangannya dariku, dia hendak membuka mulutnya kemudian kembali menutupnya, dia terlihat ragu antara mengatakannya kepada ku atau tidak, kemudian dia terbatuk kecil lalu bangkit dari duduknya.


" Sebenarnya...... soal Madam Miranda......" dia kembali menghentikan ucapannya.