
Kami duduk saling berhadapan di pojokan dekat jendela, Castella duduk di sebelah Zurich dan aku duduk di samping Zeju.
" Sudah berapa lama kalian saling mengenal?" tanya Castella membuka pembicaraan.
" Tentu saja saya sudah lama mengenal Sisilia, bahkan saya mengenal keluarganya", jawab Zeju.
" Apa kalian kekasih masa kecil? aku dan Grand Duke juga kekasih masa kecil!" ujar Castella.
Aku hanya diam dan menghindari tatapan Zurich, dia memperlakukan ku seperti kekasihnya yang tertangkap basah tengah berselingkuh, sesekali aku mencuri pandang kepadanya namun dia masih menatapku dengan tajam, aku menelan ludah karena gugup.
" Ah benarkah? kalian terlihat cocok bersama Sir!" ujar Zeju dengan senyuman menggoda
" Tapi kalian tidak cocok bersama!" jawab Zurich ketus.
" Benarkah? meskipun begitu saya sangat menyukai wajah manis Sisilia, saya hendak membujuknya untuk ikut bersama pergi berkelana mengelilingi dunia" ujar Zeju dengan suara berbisik tapi bisa terdengar oleh ku dan Castella.
Aku menoleh ke arahnya dan membelalakkan mataku.
' Apa yang kau katakan? kau pikir siapa yang sedang kau provokasi?'
" Kau terlihat sangat manis menatap ku seperti itu, darling!" ucapnya sambil menumpu kepalanya dengan tangan.
Zurich tertawa kemudian dia bertepuk tangan.
" Apa anda menyukainya Sir?"
" Aku bertepuk tangan karena itu sudah cukup, bukan karena aku menyukainya!" ujar Zurich sambil berdiri.
" Sisilia, bukankah ada hal yang harus kita lakukan? kau berjanji kepada ku tadi malam bukan?" ujarnya kepadaku sambil tersenyum.
' Kenapa kau mengatakan sesuatu yang ambigu begitu sih?'
" Itu..." aku melirik Castella yang tampak tidak senang.
" Miss Castella, saya mohon maaf karena tidak bisa menemani anda lagi dan Sir Chyou Fengying senang berkenalan dengan anda, tapi saya harus membawa Miss Sisilia karena ada bisnis kami yang belum selesai" ujar Zurich sambil membungkuk.
Dia mengisyaratkan kepadaku untuk mengikutinya, aku melirik kepada Zeju beberapa saat lalu membungkukkan badan dan pergi mengikuti Zurich, dia berjalan dengan cepat dan terlihat menahan amarah, dia segera menaiki kudanya dan menarik pinggangku ke atas kuda tersebut lalu dengan cepat memacu kudanya menuju kastil.
Sesampainya di kastil dia menarik tanganku menuju kamar, beberapa ksatria menyapanya namun Zurich mengabaikan meraka, dia membanting pintu dengan keras dan mendorongku ke dinding lalu memukul dinding itu dengan tinjunya.
" Sekarang aku akan memberimu waktu untuk menjelaskannya!" ujarnya seberusaha setenang mungkin namun nafasnya memburu karena menahan amarah.
" Katakan!" teriaknya yang membuatku terkejut dan memejamkan mata.
" Kenapa kau masih diam, huh!?"
" Yang Mulia, bisakah anda tenang dulu?"
" Aku tenang dan sangat tenang saat ini, sekarang jelaskan selagi aku bertanya baik-baik kepada mu!"
" Maksudku..... apa yang harus aku jelaskan?" tanyaku dengan hati-hati kepadanya.
" Apa kau sedang berusaha menguji kesabaran ku Sisi? Aku selalu mencoba untuk menyatukan kita dalam cinta, tapi bagaimana dengan mu? kau sibuk menyimpan rahasia dariku, apa kau mencoba selingkuh dari ku?"
" Apa maksud mu selingkuh, hubungan ku dengan Ze.. ehm dengan tuan Chyou tidak seperti yang kau pikirkan, Yang Mulia!".
'Ups..hampir aku menyebut nama Zeju'.
" Memangnya hubungan seperti apa yang aku pikirkan, huh?" teriaknya kembali memukul diding di sampingku dengan tinjunya.
Wajahnya merah padam menatap mataku dengan tajam.
" Pria mana yang akan memanggil darling secara terang-terangan begitu kalau kalian memang tidak punya hubungan seperti yang aku bayangkan, apa kau akan memanggilku darling jika kita tidak punya hubungan huh? bahkan kita yang sudah terikat saja kau tidak pernah memanggilku dengan spesial!".
Aku terdiam, aku tidak tau apa yang harus dilakukan, aku ingin mengatakan semuanya kepadanya namun aku masih belum bisa percaya bahwa dia akan berada di pihak ku, tentu saja aku bisa merasakan kalau dia sangat peduli kepadaku.
" Kapan itu?"
" Apa?"
" Kapan dia menyelamatkan mu?"
" Waktu aku di culik, jika saat itu dia tidak ada mungkin kau hanya akan bertemu dengan mayatku saja, bahkan saat serangan di ibukota dia juga menolong aku dan dua sahabatku, tentu saja aku berhutang nyawa kepadanya, karena tidak hanya sekali dia menyelamatkan ku".
Zurich terdiam, dia mendekatkan wajahnya ke wajah ku hingga kening kami saling menempel, dia memejamkan matanya dan mencoba untuk menenangkan dirinya.
" Aku takut Si, aku rasa aku sudah tidak bisa lagi mengontrol hatiku, melihat kau bersama yang lain membuat darah ku mendidih, sepertinya sudah tidak bisa kembali, aku sudah terlanjur cinta kepadamu dan di dalam hatiku sudah penuh dengan nama mu, aku tidak tau lagi harus bagaimana, aku merasa tidak berdaya karena aku terlalu menginginkan mu, dan aku tau banyak juga yang menginginkan mu di luar sana, aku..." dia berhenti.
Aku hanya diam namun suara jantungku sudah menjawab semua yang kurasakan, dan aku yakin Zurich juga mendengarnya dia menatapku dengan lembut beberapa lama, lalu dia kembali bicara.
" Tetaplah bersama ku, ya? kalau kau tidak mau menjadi Grand Duchessku pun tidak apa-apa, kau juga merasakan hal yang sama dengan ku kan? kau juga menyukai ku Sisi, matamu tidak bisa bohong, aku bisa merasakannya disini", dia menyentuh tanganku dan membawa ke dadanya.
"hmm apa jawaban mu?, apa kau mau menjadi kekasih ku dan selalu di sisiku?"
Aku dengan ragu-ragu menganggukkan kepala, dia tersenyum kemudian menarik kepala ku ke dalam dekapannya, aku tidak menolak tetapi menikmati kehangatan yang tersalur dari tubuh pria itu.
' Ah, bagaimana ini? apakah sudah terlambat bagiku untuk kabur? apa yang akan terjadi dengan masa depanku? tapi rasa ini semakin dalam dan aku sudah tidak bisa memendamnya'.
" Tapi alangkah baiknya jika kau agak menjaga jarak dengan pria itu!" tambahnya setelah melepaskan dekapannya.
" Akan ku usahakan tapi yang pasti aku tidak mungkin tiba-tiba menghindarinya mengingat apa yang telah di lakukan untukku".
Dia hanya mengangguk.
" Maukah kau memanggilku dengan nama depanku?"
" Ya...? bagaimana mungkin aku melakukan hal yang tidak sopan begitu? bagaimana jika bawahan mu mendengarnya?"
" Tidak apa-apa, aku merasa kita semakin dekat jika kau memanggil ku dengan nama depan ku, hmm mau ya?"
" Ba..baiklah Yang... ehm Zurich" jawabku dengan tersipu malu.
Aku pikir dia akan sangat marah besar dan bertindak impulsif namun sepertinya dia bukan seperti yang di rumorkan, bahkan selama aku mengenalnya aku hampir tidak pernah melihatnya berlaku tidak adil, yah walau terkadang sikapnya terkesan dingin jika berbicara dengan orang lain.
Monster berdarah dingin, mungkin itu hanya rumor yang disebarkan untuk membuat orang-orang berfikir kalau Zurich bukan seseorang yang hangat padahal kenyataannya dia sangat baik hati walaupun kesan pertama ku terhadapnya agak berbeda, namun setelah mengenalnya aku mengerti dia memang bisa membunuh seseorang dengan kejam tapi itu karena ada alasannya.
" Jadi sekarang maukah memurnikan ku lagi?"
" Tentu " jawabku sambil tersenyum dan meraih tangannya.
" Tidak, tidak dengan cara ini", dia menarik tangannya kemudian melingkarkannya ke pinggangku, aku terperanjat dan melihat ke matanya dengan wajah memerah.
" Karena kau sudah mau jadi kekasih ku jadi....."
Dia berhenti dan tersenyum.
" Bolehkah aku mencium mu?"
" Ap...itu......."
" Hmm?" dia masih tersenyum menatap mataku yang gugup.
" Sedikit saja!" jawab ku sambil membuat muka.
Dia tertawa dengan keras lalu perlahan-lahan mendekatkan wajahnya kepadaku, aku memejamkan mataku dan menahan nafas kemudian naku dapat merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirku dengan hati-hati, ada rasa yang aneh dari dalam dadaku saat segumpal daging itu mulai ******* bibirku dan menarik ku kedalam pelukannya, sesaat aku terkaget dan mencoba melepaskan diri namun akhirnya aku menyerah dan hanya menikmati sensasi yang timbul.
Aku masih memejamkan mataku saat Zurich memberikan gigitan lembut di bibirku yang membuat mulutku terbuka dan tanpa menunggu lama aku dapat merasakan lidahnya mengeksplor dalam mulutku dengan lembut, kali ini aku mendorong tubuhnya karena tidak nyaman dengan tindakannya, namun dia kembali ******* bibirku sesaat setelah dilepaskannya.