
Akhirnya hubungan dia dan Sisilia kembali membaik, memang benar begitu banyak cobaan yang menghadang hubungan dia dan gadis tersebut walaupun begitu kejadian itu malah membuatnya cintanya semakin dalam.
" Setelah semua ini selesai, aku akan mengundurkan diri dari komandan fraksi Taurus dan hanya menghabiskan hari-hari kami di wilayah Dagaras dengan damai" gumamnya sambil membolak-balik dokumen yang ada di atas mejanya.
Beberapa saat kemudian pintu diketuk dari luar lalu Gawain masuk dengan membawa beberapa dokumen ditangannya.
" Berdasarkan surat yang datang dari mata-mata yang datang, akan ada kekacauan yang akan terjadi saat festival turnamen mendatang Sir, apakah sebaiknya kita membagikan informasi ini ke Fraksi yang lain Sir?" tanyanya setelah memberi hormat.
" Tidak, kita masih belum tau siapa musuh dan siapa sekutu sekarang, jadi lebih baik kumpulkan anggota elit pasukan Taurus yang berjaga-jaga!"
" Katanya kekacauan itu akan mereka gunakan untuk mencari keberadaan kamar rahasia tempat disimpannya buku-buku penelitian Noah Mcgnagal"
" Biarkan saja, tidak ada yang mengetahui dimana letak ruang rahasia itu kecuali pewaris terakhir keluarga Mcgnagal"
" Apa yang anda lakukan saat anda menemukannya?"
" Apa maksud mu? Saat aku menemukan penerus mcgnanal terakhir itu, aku akan langsung mengeliminasinya, tidak peduli siapapun itu!"
" Apa perlu untuk mengerahkan pasukan untuk mencarinya Sir?"
" Tidak perlu, saya tidak bermaksud mengeliminasinya dengan cara membunuh, saya akan membuat kesepakan dengannya, saya yakin dia bersembunyi karena takut nyawanya terancam tapi jika kita berjanji untuk melindunginya, aku rasa dia akan setuju"
" Baiklah Sir, saya akan kembali ke markas, apa ada perintah yang lain Sir?"
" Tidak, pergilah!" jawab Zurich kembali ke dokumen yang bertumpukan di atas mejanya.
Beberapa menit kemudian pintu ruangannya kembali diketuk, dia merasa jengkel karena konsentrasinya terganggu namun dia tetap membiarkan orang yang mengetuk pintu masuk, dia depannya berdiri seorang pelayan wanita yang terengah-engah.
" Tuan, Miss Sisilia tidak sadarkan diri!" ucapnya masih dengan susah payah mengatur nafasnya.
Mata Zurich terbelalak, pena terjatuh dari tangannya, badannya terasa tidak berdaya namun dia segera berdiri dan berjalan dengan cepat keluar dari ruangannya, di tengah-tengah ruangan nampak Gawin tengah memangku Sisilia yang terkulai.
Zurich langsung mengendong gadis itu menuju kamar, dia sangat takut sesuatu yang buruk terjadi padanya, rasanya dia tidak sanggup harus kehilangan gadis itu sekali lagi, untungnya Gawin sudah memerintahkan pelayan untuk memanggil Penelope terlebih dahulu .
" Bagaimana keadaannya?" tanya Zurich sudah tidak sabar.
Wajahnya menggambarkan kekhawatiran yang belum pernah dilihat oleh semua orang yang ada di kediaman itu, bahkan matanya berkaca-kaca saat menunggu jawaban dari pria itu.
" Saya tidak menemukan penyakit apapun Yang Mulia, saya ini adalah masalah Psikologi, mungkin pasien sedang berada dalam sebuah tekanan"
" Apa kau bermain-main dengan ku, bagaimana bisa dia pingsan begitu hanya kerena dia dibawah tekanan?"
" Psikologi manusia berbeda-beda Yang Mulia, ada yang mampu menahan sebuah tekanan sehingga dia tetap berdiri tegak bagaimana pun masalah yang menimpanya, ada juga yang langsung tumbang saat mereka tidak mampu menghadapi masalahnya"
" Omong kosong!"
Penelope cukup gemetar mendengar ucapan Zurich, dia sadar bahwa jika dia salah bicara sedikit saja maka kepala akan lebih dulu menggelinding di lantai, dia berusaha meyakinkan pria yang sudah tidak bisa berpikir jernih itu bahwa gadis yang tengah berbaring di depan mereka itu baik-baik saja.
Zurich hanya menganggukkan kepala kemudian Penelope tersebut pamit undur diri setelah beberapa kali meyakinkan Zurich akan kondisi Sisilia.
Zurich duduk disamping tempat tidur sambil menggenggam tangan pujaan hatinya tersebut, dia berkali-kali mencium tangan itu dan meminta gadis itu untuk segera sadar.
" Aku tidak tau masalah apa yang membuat mu menjadi seperti ini sayang, aku tau mungkin berada di samping ku bukanlah pilihan mu tapi aku adalah manusia yang egois, aku lebih memilih kau membenciku asalkan kau tetap di sisiku"
Dia kembali memanjang wajah yang terbaring pucat tersebut, dia belai pipi gadis itu dan dia kecup keningnya kemudian dia kembali duduk disampingnya, tangannya masih menggenggam erat tangan gadis tersebut.
" Ku mohon sayang, kau harus baik-baik saja, jangan membuat ku takut begini, aku benar-benar takut kau kenapa-kenapa"
" Aku minta maaf karena aku tidak mau melepaskan mu, itu karena kau sudah menjadi dunia ku, jika kau pergi dari hidupku entah apa yang akan terjadi pada hidupku, aku bahkan tidak sanggup membayangkan hidupku tanpa mu, semua ini memang salah ku, aku tau itu tapi maafkan aku, aku masih menginginkan mu"
Zurich terus berada disisi Sisilia sampai Claude menemuinya untuk membahas tentang masalah festival yang akan datang, dia tidak mau meninggalkan Sisilia walaupun hanya satu menit yang membuat sedikit kesal namun dia menyembunyikan kekesalannya di depan atasannya tersebut.
Mereka berdiskusi beberapa menit kemudian Zurich meminta Claude untuk menggantikannya untuk mengambil keputusan, dia dengan tegas mengatakan bahwa dia tidak akan pergi dari sisi kekasihnya tersebut sampai dia siuman.
Claude sebenarnya ingin mengutuk atasannya yang sangat tidak profesional itu namun mengingat setelah bertemu Sisilia dia bisa sisi manusia darinya, Claude hanya mengurut dada dan pergi meninggalkan kediaman Dagaras tersebut.
" TIDAAAAAKKKKKKK"
Tiba-tiba Zurich di kagetkan oleh teriakan Sisilia, dia langsung mendekati gadis tersebut dan hendak menyentuhnya namun dengan cepat gadis itu menepisnya dan menghindarinya, bahkan dia juga menatapnya dengan wajah ketakutan.
" Ampuni aku, tolong...tolong jangan bunuh aku!" ujar gadis itu dengan badan gemetar.
Zurich kebingungan, gadis didepannya tersebut menangis sambil memohon kepadanya, dadanya sakit dan dia merasa bersalah, dia ingin tau mimpi seperti apa yang membuatnya ketakutan seperti itu namun Zurich tidak mampu berkata lagi dan memeluk erat tubuh gadis itu sampai dia kembali tertidur.
Setelah kejadian itu Zurich semakin mengkhawatirkan Sisilia, dia meminta Penelope untuk datang kembali ke kediamannya untuk membantu Sisilia, syukurnya saat dia bangun Sisilia sudah kembali seperti dirinya yang biasanya.
Dia juga memperlakukan Zurich seperti biasa dan juga menanyakan beberapa pertanyaan perihal festival yang akan datang, dia memberitahu gadis itu bahwa dia akan pergi beberapa hari untuk menyambut tamu undangan dan tampaknya gadis itu tidak mempermasalahkan kepergiannya.
Hari festival yang ditunggu-tunggu pun tiba, Zurich sibuk mengurus acara tersebut sehingga dia tidak punya waktu untuk kembali ke kediamannya, walaupun namanya adalah festival namun acara tersebut juga bertujuan untuk mendiskusikan perihal hubungan diplomatik antar negara.
Perjamuan untuk tamu undangan diadakan malam harinya, Zurich yang merupakan satu-satunya Grand Duke kerajaan itu harus hadir walaupun dia enggan untuk berpisah lebih lama lagi dengan Sisilia, saat tengah bercakap-cakap dengan Felix, tiba-tiba salah satu bawahannya menghampiri dan membisikan sesuatu.
" Apa maksud mu? bukankah aku sudah memerintahkan kalian untuk mengawasi kediaman?" ucapnya dengan nada marah.
" Saya minta maaf Paduka, tapi ada urusan mendadak yang harus segera saya tangani, saya akan undur diri"
" Apa ini ada hubungannya dengan kekasih mu yang aku temui beberapa saat yang lalu?"
Zurich tidak menjawab namun dari reaksinya Felix dapat paham bahwa sepupunya itu tengah ketakutan dan juga khawatir dan pertama kalinya Felix melihat pemandangan yang seperti itu, walaupun dia ingin menggoda pria tersebut namun dia mengurungkan niatnya.
" Pergilah, serahkan yang disini kepadaku!" ucapnya akhirnya.