Butterfly Trap

Butterfly Trap
Part 25


Aku membuka sebelah mataku karena aku tidak merasakan apapun saat ekor monster itu menghantam ku, aku dapat melihatnya yang terpental, sadar akan kondisi itu aku membuka kedua mataku dan bangkit, melihat ke sekitar apa yang telah terjadi.


‘ Apa yang terjadi? Apa Nabi menyelamatkanku?’


Aku menoleh kearah Nabi yang masih bertarung sengit melawan monster yang satu lagi, Stella juga masih meringkuk kesakitan jadi tidak mungkin dia yang melakukannya, monster yang tadinya terpental kembali bangkit untuk menyerang ku namun kali ini aku dapat melihat cahaya yang keluar dari kalungku, cahaya itu membentuk perisai yang menangkis setiap serangan dari monster itu.


Tidak lama kemudian, Nabi terpental ke dekatku, tubuhnya bersimbah darah, dia mengerang kesakitan memegang kakinya.


“ Oh tidak, Nabi juga sudah tumbang”, gumamku kemudian aku menoleh kearah Stella.


“ Stel, apa kau bisa berdiri?” tanyaku kepadanya.


Dia menggeleng.


“ Bagaimana ini? kenapa ksatria zodiak dua belas lama sekali datangnya?” aku menggigit bibir, cemas dengan situasi yang aku hadapi.


“ Si, bantu Nabi dulu, kelihatannya kalung mu itu dapat melindungi kita sementara waktu”, ujar Stella dengan suara lirih yang hampir tidak terdengar.


Aku mengangguk dan segera bergerak ke dekat Nabi sebelum kedua Monster itu menyerang kami, kami berkumpul di satu titik sedangkan serangan kedua monster itu bertubi-tubi menghantam perisai yang melindungi ku.


“ Oh tidak, satu lagi monster muncul dari portal itu” ujar Nabi berusaha bangkit namun sayang sepertinya kakinya patah karena serangan monster barusan.


“ Kalau terus begini, perisai mu tidak akan mampu menahan serangan mereka, apa kau sudah menghubungi zodiak dua belas Si?” tanya Nabi disela-sela rintihan kesakitannya.


“ Sudah, tapi aku tidak tau kenapa mereka belum juga muncul”.


Aku dengan cemas memutar mataku ke segala penjuru, berharap bantuan segera datang, sedangkan portal itu kembali mengeluarkan monster-monster yang sama sekali tidak aku kenali, batu permata di kalungku mulai retak, dan aku sadar itu tandanya perisai yang melindungi kami akan segera hancur.


‘ Apakah ini akhir dari hidupku?’ pikirku namun tiba-tiba bayangan putih melesat di depan ku, dan portal yang tadi tempat munculnya monster tertutup oleh batu es yang keras dan semua monster yang menyerang kami mati bersimbah darah di tanah.


Aku terkejut melihat pria tampan berbaju putih itu berdiri di depanku, dia terlihat mengatur nafasnya dan memegang dadanya, setelah dia membunuh semua monster itu dengan pisau esnya dia berbalik kearah kami.


“ Baru sebentar saja aku mengalihkan pandanganku darimu, sekarang kau sudah dalam bahaya lagi!” dengusnya menghadap ku sambil mengambil nafas.


‘ Bagaimana bisa dia selalu muncul disaat aku hampir menyerah? Zeju….kau benar-benar seperti ma..’


“ Malaikat”, ujar Stella memotong pikiranku.


“ Dan dia Bicara” tambah Nabi sambil menatap dengan kagum kepada Zeju yang masih menahan dada nya dengan tangan.


Dia melihat ke arah portal yang sudah membeku oleh kekuatan esnya, lalu melirik kearah Nabi dan Stella.


“ Sepertinya kondisi teman mu yang ini sangat gawat, dia di kondisi berserk” ujarnya menatap Nabi dari ujung kaki ke ujung kepala.


“ Apa!? “ teriak Stella lalu dia menoleh kepadaku.


“ Si, kau seorang purifier kan? Bisakah kau memurnikan dia?”


“ Takutnya itu tidak akan berhasil Stel, tapi aku akan mencobanya” jawabku kemudian menyentuh tangan Nabi yang udah mulai terasa dingin namun tidak satupun kekuatanku yang keluar dan tersalurkan kepadanya.


Aku menggelengkan kepala kepada mereka.


“ Tidak apa-apa Si, aku masih bisa menahannya kok!” ujar Nabi dengan lirih.


“ Kita tidak bisa berlama-lama disini, kekuatanku hanya bisa menahan portal itu beberapa menit saja, jadi kita harus….Sial!!!” teriaknya sebelum sempat menyelesaikan ucapannya lalu menghilang di hadapan kami.


Tidak lama kemudian ksatria dua belas zodiak datang bertepatan dengan hancurnya es yang menutupi portal tersebut.


“ Ada dua orang yang terluka disini!” teriak salah satu dari mereka kepada lainnya.


Kapital dihebohkan oleh kemunculan portal yang selama ini belum pernah terjadi, masyarakat diselimuti oleh ketakutan yang membuat zodiak dua belas bekerja ekstra keras untuk meyakinkan mereka bahwa keadaan saat ini masih baik-baik saja.


Aku menunggu sekitar dua jaman di ruang tunggu rumah sakit saat Nabi dan Stella mendapat perawatan, dan nampaknya zodiak dua belas masih belum bisa menyegel portal yang tiba-tiba muncul tersebut.


“ Sudah berapa orang yang terluka?” terdengar seorang healer bertanya kepada petugas yang ada di sana.


“ Kalau dihitung dengan yang barusan, sudah ada sekita tiga puluh orang yang terluka”, jawab petugas tersebut.


“ Apa kau tau kondisi terbaru dari tempat kejadian saat ini?”


“ Tampaknya beberapa komandan zodiak dua belas sudah turun tangan, aku juga mendengar kabar bahwa di perbatasan para monster juga bermunculan, sehingga bagian pertahanan saat ini sedang dilanda kecemasan, belum lagi banyak purifier yang masih dikarantina”


“ Ya tuhan, apa yang sebenarnya terjadi ?” ujar si healer seraya mengusap kepalanya lalu berjalan mendekati pasien yang kembali berdatangan.


Keadaan rumah sakit saat itu sangat sibuk, para healer dan pasien berlalu lalang di hadapanku yang termenung.


‘ Apa ini? Apa semua ini ada kaitannya dengan kasus yang sedang aku selidiki? Apa dalang di balik semua kejadian itu adalah monster? Apa tujuannya adalah perang dengan manusia?’


Aku menarik nafasku, jika semua itu benar maka semua ini mulai masuk akal, pembunuhan keluargaku, Emperor, Grand Duke Dagaras dan pemusnahan purifier dengan garaga Q, semua mulai terhubung.


“ Kau tidak apa-apa Sisi?” ujar seekor kelinci yang melompat ke arahku yang membuat pikiranku teralihkan.


“ Zeju, kau tidak apa-apa?” tanya ku sambil memeluk tubuh kecil itu.


“ Lepaskan!” teriaknya sambil menghentakkan kakinya di tanganku.


“ Sttttt, bagaimana jika ada yang mendengar mu?”


“ Sudah ku bilang hanya kau yang bisa mendengar ku!”


Aku menatapnya kemudian tersenyum, beberapa tetes air mata membanjiri pipiku, kelinci itu terkejut.


“ Apa kau terluka? Kenapa kau menangis?” tanyanya dengan nada khawatir.


“ Zeju……terima kasih banyak, tanpa kau mungkin kami sudah tidak ada lagi di dunia ini, aku bahkan tidak tau bagaimana cara mengucapkan syukurku”


“ Ap…apa yang kau bicarakan?”


“ Kau tau, kau seperti malaikat pelindungku, kau selalu muncul saat aku dalam bahaya, kau selalu datang di saat aku mulai menyerah untuk bertahan, terima kasih banyak” ujarku terisak dan menutup wajahku dengan kedua tanganku.


“ Kau…. kau tidak perlu berterima kasih, aku pasti akan membuatmu membalas budi kepadaku nantinya!”


Aku tersenyum ditengah-tengah tangisanku.


‘ Benar-benar kelinci yang tidak bisa jujur’.


Dia meletakkan kaki mungilnya diatas tanganku, tapi dia membuang muka dan hanya mendengarkan semua ocehanku tanpa menyangkal ataupun bertanya, dia hanya diam namun kaki mungilnya tidak beranjak dari tanganku, mungkin begitulah cara dia untuk menenangkan ku.


Beberapa saat kemudian healer yang bertanggung jawab terhadap Nabi keluar dan memberitahukan bahwa kondisi gadis itu sudah tidak apa-apa, dan syukurlah selain kakinya yang patah dia hanya mengalami luka-luka ringan namun dia butuh istirahat panjang mengingat dia tidak hanya terluka tetapi juga berada dalam kondisi berserk stadium tiga.


Berbeda dengan Stella yang masih belum sadar setelah dilakukan operasi kecil karena ditemukan beberapa senjata seperti tulang yang menusuk perutnya, menurut keterangan healer dia sudah melewati kondisi kritis dan hanya menunggu dia siuman dan komanya, untungnya Stella tidak mengalami kondisi berserk mengingat negara sedang krisis purifier saat ini.


Aku duduk menghela nafas dan berkali-kali mengucapkan syukur dalam hatiku namun ada satu hal yang mengganjal pikiranku, Zurich.


‘ Apa dia sedang tidak di ibu kota? Bagaimana bisa dia tidak menemui ku saat mendengar monster menyerang kapital?’