Butterfly Trap

Butterfly Trap
Part 19


"Cih, menyusahkan saja", jawabnya ketus masih menikmati cemilan keringnya.


" Ayolah Zeju, sekali aja hmmm?"


Dia masih tidak bergeming.


" Ze......ju...hmmm" aku kembali merayunya kali ini aku mengangkat tubuh kecil itu dan menatapnya sambil memohon.


" Baiklah tapi dengan satu syarat" jawabnya akhirnya.


" Deal"


" Kau yakin?"


Aku menganggukkan kepala.


" Tapi sebelum itu, berapa lama kau bisa bertahan dengan wujud manusia mu?"


" Kenapa aku harus memberi tahumu?" protesnya.


" Iya deh Iya, jadi apa syaratnya?"


" Biarkan aku meminum darahmu!"


" Apa?" pekik ku.


" Apa kau mahluk penghisap darah? kyaaa"


" Berisik!! kalau kau tidak mau ya sudah" ketusnya lalu dia berusaha melepaskan diri dariku.


" Apa alasannya?"


Dia tidak menjawab hanya melihat cemilan yang tadi dimakannya namun dia tidak lagi menyentuhnya, dia kemudian melihat ke arahku dan menatapku lama.


" Aku rasa karena kau adalah keturunan roh teratai, klan healer terbaik di wilayah siluman, makanya darahmu dapat membantuku, aku tidak tau apakah hipotesis ku benar atau salah tapi saat kau di culik kemaren, aku hanya berniat melepaskan ikatanmu sehingga kau bisa kabur, tapi tanpa sengaja aku meminum darah dari pergelangan tanganmu yang terluka, makanya aku bisa jadi manusia" ujarnya panjang lebar.


" Wow..."


' Aku ngak nyangka aku seluar biasa ini? kalau darahku punya khasiat penyembuhan bagi bangsa siluman, maka aku bisa pergi kesana dan hidup dengan menjual darahku sebagai obat, bukankah aku pintar?'


Aku tertawa kecil.


" Jadi kalau kau meminum darahku, berapa lama kau bisa bertahan sebagai manusia?"


" Entahlah, mungkin karena kemaren itu aku menggunakan kekuatanku maka durasinya hanya satu jam".


" Hmm"


Aku mengambil belati kecil dari laci dekat tempat tidurku, karena kejadian pembunuh bayaran waktu itu, Miranda memberikan belati itu untuk berjaga-jaga, lalu aku menoreh ujung jari telunjukku dan memberikannya kepada Zeju.


" Aw" rintihku ketika Zeju mulai menghisap jari telunjuk ku itu.


Tidak lama kemudian Zeju berubah menjadi sosok pria cantik yang menawan, dengan rambut peraknya yang panjang berkilau dan mata coklat yang menawan, vibe nya berbeda dengan Zurich yang terkesan dewasa dan jantan menawan, walaupun mereka memiliki warna yang sama tapi Zeju warna perak rambutnya lebih gelap daripada Zurich.


" Oh my god oh my god oh my god" teriakku histeris melihat pemandangan yang luar biasa di depanku.


" Kau benar-benar sangat tampan Zeju" ujarku lagi terpesona melihat keelokan rupanya.


Dia berdesak dan duduk di depanku sambil menyilangkan kakinya, wajahnya sedikit terangkat saat dia melihat ke arahku.


' Aku mau yang begini tuhan, ngak apa-apa dia sedikit menyebalkan tapi wajahnya luar biasa, setidaknya aku tidak akan dalam bahaya jika berada di dekatnya dan lagi aku bisa cuci mata setiap harinya' pikirku.


" Apa yang kau lihat hah?"


" Zeju, kau benar-benar.............gimana bilangnya ya? hmmm" aku berhenti sejenak.


" Apa kau membuka lowongan jadi istri? biarkan aku mendaftar, wajahmu benar-benar tipeku".


" hah? kau......."


Belum sempat dia melanjutkan ucapannya dia kembali lagi jadi kelinci putih lalu meloncat keatas tempat tidurku kemudian pintu kamarku terbuka, Zurich masuk dan berjalan menghampiriku.


" Kau bicara dengan siapa?" tanyanya dengan wajah curiga.


" Tidak ada, mungkin kau salah dengar, tidak ada siapa-siapa disini".


" Aku dengan jelas mendengar suara pria dari luar" ujarnya.


" Sudah dibilang tidak ada siapa-siapa disini, yang mulia".


Dia menoleh ke arahku dengan wajah khawatir, lalu mendekatiku dan memegang kedua tanganku, dia menatap tanganku lalu menarik nafas.


" Aku mohon Sisi, jangan terluka lagi, aku menjadi tidak waras saat kau terluka" ujarnya dengan lembut lalu dia membelai pipiku, " Rasanya seperti sebelah jantungku dipotong-potong, bahkan lebih menyakitkan daripada menarik inti kekuatan keluar dari sini"


Badub. Jantungku berdebar dengan cepat mendengar ucapannya itu.


'Badub? hei jantung yang benar saja, kenapa kau berdetak secepat itu hah? ngak ngak, ini ngak benar'


" Ehemmm" aku melepaskan tanganku darinya dan berjalan mundur beberapa langkah.


" Aku merasa bersalah karena tidak bisa melindungi mu dengan baik, entah apa yang akan terjadi jika aku terlambat sedetik aja saat itu, kau benar-benar membuatku khawatir."


Dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya.


" Ini, kalung ini bisa membantumu saat kau dalam bahaya" ujarnya lalu memasangkan kalung itu ke leherku.


Aku menelan ludah karena gugup, jantungku masih berdegup cepat wajah memanas, rasanya seperti aku habis berlari dengan cepat sepanjang sekilo meter, aku berusaha menghindarinya dengan cara memalingkan wajahku.


" Syukurlah, ternyata kau cocok memakainya" ujarnya sambil tersenyum lembut.


' Jangan senyum begitu please, aku ngak tahan, aku udah memutuskan untuk menjadi istrinya Zeju, jadi jangan goda aku dengan senyuman indah mu itu, please' teriakku dalam kepala.


" Apa kau demam lagi, Si? wajahmu sangat merah".


" Ti... tidak kok, a... aku ngak apa-apa"


' Mulut sialan, kenapa terbata-bata gitu sih? huh?' makiku dalam hati.


Dia menarik belakan kepalaku den mendekatkannya ke wajahnya lalu kedua kening kami saling menempel, dia memejamkan matanya sesaat kemudian menatap luruh ke bola mataku.


" Suhunya normal- normal aja tapi kenapa wajahmu semerah tomat begini?"


' Nih bocah emang ngak tau, atau pura-pura bodoh?'


" Emm Sir aku baik-baik saja kok, mungkin karena sekarang musim panas maka suhu di ruangan ini cukup panas "


" Benar benar, istirahatlah yang cukup, jangan pernah lepaskan kalung ini, ya?"


Aku mengangguk sambil tersenyum.


" Aku akan kembali lagi nanti, mari kita jalan-jalan di taman, kau akan bosan kalau didalam ruangan terus"


Dia membelai lembut rambutku kemudian dengan senyuman manis dia meninggalkan kamar, dia sempat berhenti sesaat di pintu dan melihat ke sekitar kamarku sekali lagi lalu kemudian dia pergi dan hilang dibalik pintu yang tertutup.


Aku menghela nafas lega dan terduduk di kursi sofa, kekhawatiran Miranda selama ini akhirnya terjadi, aku mulai merasakan benih-benih perasaan kepada Zurich, tidak hanya karena perlakuannya yang lembut kepadaku tetapi juga karena ucapan dari Penelope kemaren.


' Bagaimana ini? aku harus secepatnya pergi dari sini sebelum ketololan ku kumat, bagaimana bisa aku jatuh cinta kepadanya? ngak mungkin kan? sadarlah Sisi'


" Cih, baru juga tadi kau bilang mau jadi istriku sekarang ketemu yang bening aja langsung berpindah hati"


Aku menoleh kearah Zeju.


" Apa ini apa ini, Zeju kau......" aku tersenyum usil.


" Kau cemburu? Kyaaaa Imutnya"


" Apaan sih? Norak!"


Aku tertawa dengan keras.


" Tapi kenapa kau berubah jadi kelinci lagi? bukankah ini belum sampai satu jam?"


" Menurut ngana aku bakal santai aja gitu pas pria itu masuk, ya benar saja" sungutnya kesal.


" Jadi kau bisa mengendalikan wujud kelinci mu tapi tidak dengan wujud manusiamu?"


" Diam Lah, sudah tau masih juga nanya".


Mood Zeju kian hari kian buruk saja padahal dia sudah menemukan obat yang bisa membantunya kembali menjadi manusia, walaupun dia selalu menjawab ku dengan nada ketus tapi dia tetap memberikan jawaban untuk setiap pertanyaanku sehingga aku tidak pernah lagi merasa bosan dan kesepian selama masa penyembuhan ku, ditambah lagi Zurich yang sering menyempatkan diri untuk mengunjungi ku.


Zeju perlahan-lahan mulai mempercayaiku dan terbuka kepadaku, dia bahkan juga memberitahuku alasan kenapa dia menjadi kelinci dan juga kenapa dia tidak bis kembali ke wujud aslinya setelah dia menyusup ke wilayah monster, tentu saja informasi itu dapat menyatukan kepingan-kepingan puzzle atas kasus yang aku selidiki, keberadaan Zeju benar-benar sangat membantuku hanya saja dia tidak pernah mau menjawab ketika aku menanyakan nama aslinya.


Beda halnya dengan Zurich, semakin hari dia semakin lembut, dia memperlakukanku seperti gelas yang mudah pecah, penuh kasih sayang dan berhati-hati namun aku masih takut dengan diriku yang semakin lama semakin jatuh ke jurang cinta, aku tidak mau kesalahan kecil ini menganggu rencanaku yang sudah aku susun jauh sebelum aku mengenalnya dan aku harus segera bergerak meninggalkan kediaman itu.