Butterfly Trap

Butterfly Trap
Part 45


Aku bergegas membuka pintu, namun dengan cepat pula di Zurich menutup dengan tangannya dan berdiri tepat di belakang ku, mengunciku di antara lengannya yang kuat.


" Ka....ka...kau kenapa ada di sini!?" tanyaku terbata-bata.


Aku dapat merasakan suhu tubuhku yang turun drastis memberikan sensasi dingin yang menusuk tulang punggungku, aku sangat ingin untuk berbalik menghadapnya namun nyaliku menciut saat mendengar jawabannya dengan nada dingin.


" Heeh.. kenapa menurutmu?" Jawabnya masih belum merubah posisinya.


Aku memaksakan diri untuk berbalik dan menatapnya, keringat dingin membanjiri pelipis ku, aku menahan nafas beberapa saat kemudian dengan ragu-ragu berkata,


" Apa........kau sudah mengetahui rencanaku dari awal?"


Dia menatapku lama, kemudian mendekatkan wajahnya kepadaku, sangat dekat sehingga membuat ku cegukan karena gugup.


" Bagaimana menurut mu, My darling?" jawabnya setengah berbisik


Wajahnya hanya berjarak lima senti dariku, aku dapat mencium aroma tubuhnya dengan jelas, jika aku mendongak sedikit saja sudah pasti hidungku dan hidungnya akan bersentuhan.


" K..ka..kau terlalu dekat!! " aku mendorongnya menjauh, detak jantungku tidak terkendali seperti memompa darah ke wajahku dengan sangat cepat sehingga wajahku sangat merah.


Dia tertawa menyeringai tetapi matanya masih menatapku dengan tajam, aku mencoba memberanikan diri untuk menatapnya kemudian dengan suara yang sedikit bergetar aku bertanya,


" Apa kau membodohi ku, Yang Mulia?"


' Aku yakin rencanaku sudah matang saat aku meninggalkan kediamannya, apa kepala pelayan mengabaikan ucapan ku dan masuk ke kamar ku begitu saja? itulah mengapa dia tau kalau aku kabur?'


" Kenapa? Apa kupu-kupu kecilku merasa di bodohi?" jawabnya masih dengan tawa menyeringai.


" Apa!? "


Aku terbelalak, ada satu hal aneh dari Zurich saat ini, dia tidak seperti Zurich yang selama ini aku kenal, dia terlihat seperti orang lain, matanya sangat tajam dan seringainya membuat bulu kuduk ku berdiri.


" Kau tau sayang, apa hal yang tidak mungkin? "


Dia bergerak semakin dekat kemudian berbisik di telingaku yang meninggalkan sisa panas oleh nafasnya.


" Kabur dari genggamanku!" tambahnya dengan wajah dingin dan senyuman yang dapat aku artikan sebagai senyuman amarah.


Aku bergidik ngeri, kata-kata itu tidak terdengar seperti candaan, lebih seperti ancaman, aku tidak lagi menemukan jejak kelembutan dari ucapannya, bahkan sikap manisnya kemarin terasa seperti mimpi belaka dan sekarang aku dihadapkan kepada kenyataan bahwa dia adalah monster gila berdarah dingin yang sedang menatapku seperti akan memakan ku saat itu juga.


'ya, aku sudah susah-susah kabur malam hari supaya lepas dari kendali pria ini, lalu bagaimana cara dia menemukan ku? bukankah dia sibuk dengan festival yang sedang berlangsung?'


" Tunggu dulu! Dave, kau mengenalnya?"


" Menurut mu?"


Aku merasa takut dan geram secara bersamaan, saat ini Zurich selalu menjawab pertanyaan ku dengan pertanyaan. Aku menduga bahwa dia benar-benar murka sehingga membangkitkan jiwa-jiwa sosiopath nya dan entah mengapa aku yakin kalau sekarang di dalam kepalanya dia benar- benar bahagia, karena sudah memberikan ku kesempatan untuk mengharapkan hal yang sia-sia.


" Setidaknya jawablah pertanyaan ku tanpa harus bertanya balik Yang Mulia, kenapa harus aku? Apa kau juga tau keberadaan ku di rumah Nabi?"


" Kau bahkan memanggilku Yang Mulia sekarang, apa selama ini kau berpura-pura di hadapan ku?" tanyanya sambil mengangkat daguku sehingga matanya sejajar dengan mataku, aku membuang muka untuk menghindari tatapan dari mata elang tersebut.


" Lalu kenapa kau tidak menahan ku saja saat aku melarikan diri dari kediaman mu? Kenapa harus sekarang? Kau tentu saja sudah tau kalau aku akan melarikan diri, iya kan!? Pantas saja aku rasa ada yang janggal saat aku bisa meninggalkan kediaman mu begitu saja, justru kau yang dari awal tidak mempercayaiku bukan?"


" Apa gunanya percaya jika di kepala mu hanya ada pikiran untuk kabur dariku, dan juga kalau aku langsung menangkap mu saat kau mencoba melarikan diri, tentu saja itu akan membuat permainannya jadi membosankan dan juga kau tidak akan tau rasanya kesia-siaan, kau tau, aku sangat suka melihat wajahmu yang berusaha keras tapi sia-sia begitu."


" Ah benar juga, aku selalu bergairah melihat setiap ekspresimu, apalagi ekspresi putus asa mu itu, haha sekarang aku akan memberitahumu apa yang aku pikirkan tiap kali mata kita bertemu, aku sangat ingin menyentuhmu bahkan samapi ke bagian terdalam mu tapi apa? aku selalu menahan diri karena aku memikirkan perasaan mu, bahkan aku masih bersabar saat aku melihat pria lain mencium mu di depan ku, kau pikir aku tidak bisa merasakan luka? apa kau pikir hati ku terbuat dari batu? kau beberapa kali mencoba kabur dari ku dan masih tidak menyerah untuk mencobanya, kau pikir aku tidak tau itu, hah?" ucapnya masih tersenyum dingin menatap ke dalam bola mataku.


Aku kembali bergidik ngeri, aku tidak pernah membayangkan Zurich akan semarah itu, dia memang tersenyum tapi setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya seperti panah es yang menusuk kedalam persendian ku, ini pertama kalinya aku melihat dia mengeringkan seperti ini.


' Ap.. apa dia bilang? dia ingin memasuki tempat terdalam ku dan dia sudah menyadari semua rencana ku? apa dia psikopat gila? bagaimana bisa mengucapkan kata-kat itu disini?'


Aku mengerutkan dahiku, menatapnya dengan putus asa, aku sudah tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan, satu-satunya harapan kabur ku sudah kandas dan aku seperti dapat melihat bendera kematian ku berkibar-kibar di pupil matanya.


" Kau tau Darling, wajah itu, wajah itu benar-benar luar biasa, kau tau apa yang aku pikirkan sekarang melihat wajah mu itu? Aku ingin membuat wajah itu berantakan di dekapan ku, ah pasti luar biasa saat cairan benihku membasahi wajah itu seperti dan membuatnya basah dan berantakan, bagaimana bisa tidak terpikirkan oleh ku sebelumnya? secara tidak langsung kau sudah menjadi istriku, seharusnya aku menghamili mu dulu sehingga kau tidak berani lagi meninggalkanku lagi!".


' Apa !?'


Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar dari mulut pria yang sangat di hormati oleh semua orang di kerajaan Dakota itu.


'Bagaimana bisa kalimat vulgar itu keluar dari bibir indahnya itu? kau gila Sisi? disaat seperti ini kau masih bisa mengatakan bibirnya indah?'


" Mesum, otak kotor, psikopat gila, monster gila!!" teriak ku sambil melemparkan apa saja yang dapat aku raih dengan tanganku, tubuhku gemetar karena tidak bisa lagi menahan ketakutanku.


' Bagaimana bisa dia berpikir seperti itu? ada apa sebenarnya di dalam kepalanya itu? apa selama ini aku tertipu oleh wajah tampannya itu sehingga aku tidak melihat sisi gelapnya yang seperti ini?'


Dia tertawa dengan keras sambil meraih tanganku kemudian mengunci jemarinya dengan jemariku lalu dia menciumnya sambil menatap lurus ke mata ku, lidahnya menjilat punggung tangan ku. Aku kembali bergidik dan berusaha melepaskan tangan ku namun genggamannya yang kuat membuat semua usaha yang aku lakukan terlihat sia-sia.


" Le..lepaskan aku, brengsek gila"


" Haha.. oh iya, biar aku kasih tau satu hal, Dave adalah orangku, dia aku tugaskan untuk mengawasi pelabuhan, apa kau lupa kalau disini masih kawasan kekuasaan ku?"


" Satu lagi, Dave adalah saudara laki-lakinya Gawin, nama aslinya Hawin", ucapnya sambil menjalin jemariku dengan jemarinya.


Kalau di pikir-pikir lagi, pantas Dave tajam sekali, dia langsung mengenali identitas ku hanya dari pakaianku, harusnya aku curiga dengan tiket yang diberikannya kepada ku, aku mengutuk diriku yang terlalu terburu-buru dan tidak menyiapkan rencana kabur dengan matang.


Agrh.


' Kenapa aku sepolos itu mempercayainya!?'


Aku tidak pernah menyesali apapun dalam hidupku kecuali pertemuanku dengannya hari itu, pertemuan dengan monster gila berdarah dingin yang membawa takdir ku seperti ini, pertemuan yang membuatku tidak bisa lagi merasakan kebebasan.


" Sekarang aku akan memberikan mu kesempatan terakhir, kau pilih ikut aku dengan cara apa? bergandengan tangan seperti ini sehingga semua orang di Kota Dagara mengetahui kalau kau adalah kekasih ku atau aku gendong layaknya seorang putri?"


" Apa tidak ada pilihan lain? baik bergandengan tangan ataupun digendong bak putri, dua-duanya sama mengumumkan pada dunia bahwa kau dan aku memiliki hubungan yang spesial? aku janji tidak akan kabur lagi jadi bisakah kita berjalan seperti biasanya?"


Dia terkekeh kemudian menatapku dengan pandangan tidak percaya.


" Setelah apa yang kau lakukan, kau masih berani membuat kesepakatan dengan ku? seperti yang diharapkan dari gadis yang aku sukai, tapi tentu saja permintaan mu aku tolak, anggap saja ini adalah hukuman karena sudah berani melarikan diri dariku", ucapnya kemudian mengangkat tubuhku dengan kedua tangannya dan berjalan menuruni kapal.


Aku dapat merasakan semua mata melihat ke arahku, aku hanya menutup kedua mukaku dengan tanganku karena sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.