Butterfly Trap

Butterfly Trap
Part 51


Aku bangkit dari tempat tidurku dan segera menuju ke tempat Peter, wajahku dihiasi oleh senyuman karena aku sudah tidak sabar memberitahu Peter akan rencana ku, aku sangat yakin kali ini aku bisa kabur tanpa perlu meramu kan obat tidur kepada semua orang yang ada di kastil ini.


" Peteeer........" teriakku dari ujung tangga.


Aku berlari menghampiri pria paruh baya yang tengah sibuk mengintruksikan beberapa pelayan tersebut, dia menoleh kearah ku dan dengan khawatir menghampiriku.


" Jangan berlari Miss, nanti anda terjatuh!" ucapnya dengan wajah cemas.


" Aku....bukan anak kecil... lagi!" jawabku dengan terengah-engah.


" Ada apa anda mencari saya sepagi ini? kelihatannya sangat penting sampai-sampai anda harus berlari seperti itu".


" Tentu saja sangat penting" jawabku sambil terkekeh.


" Aku bosan berdiam diri terus di sini, aku mau pergi bermain ke kerajaan bawah laut, jadi bisakah kau menyiapkan barang-barang yang aku butuhkan?"


" Baik, saya akan meminta Ana dan Dunand untuk menemani anda!"


" Tidak" jawabku dengan cepat.


' Bisa gagal rencana ku jika mereka ikutan!' pikirku.


" Aku akan pergi sendirian, lagian Sora masih di kampung halamannya jadi aku bisa mengunjunginya nanti". ucapku berusaha meyakinkan pria itu.


" Tapi Miss, bagaimana jika Grand Duke datang saat anda sedang bepergian sendirian? bahaya!" ucapnya dengan nada cemas.


" Tenang saja, Grand Duke tidak akan datang dalam waktu dekat, kalaupun dia datang bilang saja kalau aku sedang tidak ingin bertemu dengannya karena dia tidak menepati janji, dan juga jangan mencari ku kesana sampai aku memutuskan untuk kembali!"


" Tapi..."


" Ayolah Peter, aku bahkan tidak bisa kemana-mana disini, mana ini kawasan terpencil, hanya wilayah Aquamarine yang bisa menjadi tempat untuk menghilangkan kebosanan ini, mau ya?"


Aku merapatkan kedua tanganku dan memohon kepada Peter untuk mengabulkan keinginanku, Peter adalah satu-satunya penghalang dalam rencanaku, jika dia tidak mengizinkanku maka tamat sudah harapanku.


Pria itu menatap mataku lama, kemudian dia menarik nafas sambil membetulkan kaca matanya, dia tampak berpikir untuk beberapa saat namun kemudian dia melihat ke arahku.


" Baiklah, tapi dengan satu syarat"


" Apapun itu!" jawabku dengan wajah gembira.


" Anda harus membawa kristal komunikasi dengan anda, dan anda harus selalu mengabari saya setiap hari".


" Sekali satu minggu!" ucapku bernegosiasi.


Dia menggelengkan kepala.


" Seminggu dua kali, aku ngak bisa lebih dari itu, Peter aku ini bukan tawanan, memangnya kau tidak kasihan kepadaku? tuan mu mengurung ku di sini dan dia meninggalkan ku begitu saja tanpa kabar dan berita, coba deh seandainya ini semua terjadi kepada anak mu, apa kau tidak akan khawatir?"


Aku mencoba mencari rasa simpati Peter dengan cara menyebut anaknya, karena menurut pelayan di sana Peter terpisah dengan anaknya karena dia bercerai dari istrinya, itulah mengapa membahas tentang anak perempuan adalah kelemahannya.


" Baiklah, tapi ingat, anda harus menjaga diri anda dengan baik!" ucapnya pada akhirnya.


" Tenang saja, kau lihat apa yang tergantung di leherku? ini adalah artifak pemberian Grand Duke, dengan ini tidak ada yang bisa menyakitiku".


" Besok pagi, cukup siapkan beberapa baju ganti dan koin emas, aku tidak akan membawa banyak barang karena aku akan membeli semua kebutuhan ku nanti disana".


" Baiklah, saya akan segera menyiapkan segala keperluan anda" ucapnya kemudian pamit meninggalkan ku.


***


Sekitar pukul empat pagi aku mengendap-endap berjalan keluar dari kastil tersebut, tidak lupa aku meninggalkan surat untuk peter kalau-kalau dia ingin mengantar keberangkatan ku, penjagaan di kastil itu tidaklah ketat mengingat ada penghalang yang kuat yang menyelimutinya sehingga para penjaga tidak perlu waspada kalau-kalau ada musuh menyerang yang menjadikan aksi berjalan dengan lancar.


Aku beberapa kali menoleh ke sekitar ku, meningkatkan kewaspadaan ku, aku sengaja memakai jubah berwarna gelap supaya dapat menyatu dengan pekatnya malam, sebenarnya aku tidak tau cara menggunakan benda yang diberikan oleh Miranda namun aku harus bisa menembus penghalang tersebut bagaimanapun caranya.


Aku berdiam selama sepuluh menit untuk memikirkan cara membuka penghalang tersebut, aku melirik antara penghalang dan benda yang ada di tanganku kemudian melemparkan benda tersebut ke arah penghalang, sebuah lubang kecil muncul di hadapan ku.


" Apa ini? ternyata segampang itu untuk menembus penghalangnya" ujarnya ku setengah tergelak.


Tanpa menunggu lama, aku segera melangkah menyebrangi jembatan penghubung yang memiliki panjang sekitar dua kilometer tersebut, memang cukup memakan waktu tapi tidak masalah bagiku selama aku bisa pergi dari penjara ini.


Warna fajar mulai menyingsing, aku percepat langkah kaki ku menyusuri hutan yang gelap, tidak lupa aku memusatkan konsentrasi ku agar kalau ada hewan buas yang terlihat aku bisa menghindar, jalanan itu tidak terlihat seperti jalan yang sering dilalui oleh orang karena banyaknya tumbuhan yang sudah menutupi setengah areanya.


" Tenang saja Sisi, hutan ini tidak semenakutkan kurungan di kastil sana, kau pasti bisa sampai di pinggirnya nanti, kau sudah setengah jalan, jadi jangan menyerah!"


Aku terus berbicara pada diriku sendiri dan menguatkan hati dan tekad ku, walaupun pundakku merinding tiap kali terdengar suara-suara di dalam hutan yang perlahan-lahan mulai terang tersebut.


" Ah, tidak bisa begini, aku harus tau kearah mana hendak melangkah!" gumamku melihat ke sekelilingku.


" Haruskah aku memanjat pohon besar ini?"


Aku mendongak keatas, pohon itu cukup tunggi dan dahannya juga banyak jadi mungkin dapat memudahkan ku untuk naik ke puncaknya.


" Masalahnya adalah bagaimana cara memanjat pohon yang besar ini, di sini tidak ada tangga dan aku juga bisa manjat pohon" gumamku lagi.


Aku berjongkok dibawah pohon tersebut sambil menengadah ke pohon besar di depanku, pohon besar itu tidak terlalu rimbun sehingga aku dapat melihat warna langit dari celah-celah dedaunannya.


" Kalau tidak dicoba, bagaimana kau akan tau hasilnya Sisi?" ucapku lagi pada diriku sendiri.


Aku berdiri dan berusaha untuk memanjat pohon tersebut, saking besarnya aku bahkan tidak bisa memeluk pohon tersebut, percobaan pertama gagal namun aku terus mencoba sampai tiga puluh menit, karena tidak ada hasilnya akhirnya dengan gontai aku melanjutkan perjalanan ku.


Aku menjadikan matahari yang hanya samar-samar terlihat sebagai penunjuk arahku, tiga jam kemudian aku berhasil keluar dari hutan lebat tersebut setelah berputar-putar tidak tentu arah, aku duduk di pinggir jalan yang berbatasan dengan hutan lebat tersebut untuk melepas lelahku.


Butiran kasar keringat berjatuhan di pelipisku, aku menghela nafas lega, setidaknya aku sudah punya arah yang hendak aku tuju, tidak lama kemudian sebuah kereta yang ditarik dua ekor keledai dan ditunggangi oleh seorang pria paruh baya, aku segera berdiri dan menghentikan kereta tersebut.


" Maukah anda memberi saya tumpangan Tuan?" tanya ku kepada pria tersebut.


Dia melihat ke arahku dengan tajam, wajahnya terlihat masam dan tidak bersahabat, aku menelan ludah, perasaan was-was menghantuiku.


' Bagaimana jika pria ini adalah bawahan Zurich juga sama seperti kejadian saat aku kabur dulu?' pikirku.


" Saya tidak menumpang cuma-cuma Tuan, saya akan membayar anda!" ucapku dengan nada ketakutan.


Dia melirikku dari atas sampai kebawah dan aku merasa dejavu karena hal ini juga pernah terjadi kepadaku sebelumya, wajahnya masih masam dan tidak ada tanda-tanda dia akan memberiku tumpangan, aku mulai putus asa.