
" Mungkinkah ayah dan ibu juga terikat eternal marking? itulah mengapa ibu juga meninggal saat ayah meninggal begitu juga dengan kakek dan nenek?"
Zeju menganggukkan kepala.
" Aku rasa mereka meracuni Emperor dan Grand duke adalah untuk memancing mu keluar, karena mereka tau kalau ada keturunan dari Zhu Yan, tapi karena kau tidak muncul walaupun fraksi Pisces sibuk meneliti racun yang menggerogoti Emperor, mereka jadi yakin kalau kau juga terbunuh dalam pemusnahan itu!"
" Jadi mereka melakukan pembunuhan terhadap keluarga ku, Emperor dan Grand Duke Dagaras bukan karena mereka menginginkan perang? tapi karena ingin menangkap ku karena aku keturunan nenek ku? plot twist macam apa ini?"
" Mereka memang menginginkan perang tapi bukan dengan manusia, mereka ingin menguasai seluruh dunia monster dan menjadikan semua isi di dalamnya berada di bawah kendalinya".
" Aku tidak mengerti".
" Memang benar jika mereka perang melawan manusia, mereka akan menang dengan mudah namun bagaimana jika melawan kekuatan gabungan siluman, elf dan kurcaci? tidak akan segampang itu bagi mereka untuk meraih kemenangan, ditambah lagi dengan kondisi pemimpin mereka yang masih terluka parah, tentu saja mereka harus mencari cara untuk menyembuhkan pimpinan mereka dan caranya adalah dengan mengkonsumsi hati dari roh teratai yang terkenal".
" Semenjak terbunuhnya Emperor dan Grand Duke tampaknya mereka menyerah mencari keturunan terakhir Mcgnagal tapi ternyata muncul seorang gadis yang punya pengetahuan bahkan mampu menawar racun garaga Q, jika kau jadi mereka apa kau tidak akan curiga kalau gadis itu adalah keturunan terakhir keluarga Mcgnagal yang mewarisi darah Zhu Yan?"
Aku menganggukkan kepala, aku paham sekarang semua kejadian itu muncul semenjak aku keluar dari kediaman Marquess Rafael, semenjak aku mulai membuka praktek medis ku secara diam-diam, mungkin itulah yang mengundang kecurigaan mereka, itulah mengapa mereka meracuni Red yang akan menjalankan misi dengan Zurich, sehingga Zurich mencari ku lalu mata-mata yang dia tempatkan di fraksi Taurus dapat dengan mudah mengetahui identitas ku.
" Kalau yang kau bilang itu benar, itulah mengapa mereka selalu menargetkan ku? tunggu dulu..." aku dia sejenak dan memutar kembali semua kejadian yang terjadi kepada ku di dalam kepala ku.
" Jika Aron adalah mata-mata mereka, harusnya mereka tau semua informasi tentang ku? lantas mengapa mereka tidak langsung menangkap ku saat serangan kemaren?"
" Aku rasa Aron tidak memberitahu mereka tentang ciri-ciri mu, mungkin dia hanya mengatakan bahwa kau ada diantara orang-orag dekat dengan Zurich dan dia juga tidak memberi tahukan tentang jenis kelaminmu, itu asumsiku!"
Aku terdiam, aku tidak menyangka semua akan serumit ini dan fakta bahwa Zeju sudah menyelidikinya selama sepuluh tahun membuatku meragukan identitasnya.
" Siapa kau sebenarnya? dan mengapa kau tau banyak soal ini? apa tujuan mu memberitahuku?"
Aku menatapnya dengan pandangan curiga, di kepala ku aku berulang kali berharap bahwa Zeju bukanlah musuh ku karena keberadaannya yang sudah penting dalam hidupku.
" Apa niatku terlihat mencurigakan bagi mu?"
Dia tersenyum miring, dia menjalin kedua jemarinya, matanya memandang keramaian yang jauh dari kami kemudian dia menoleh ke arahku dan menghela nafas.
" Tentu saja, siapa yang akan memberi orang lain dengan cuma-cuma jika tidak ada niat terselubung di balik kebaikannya!".
Dia tidak menjawab, alih-alih dia berdiri kemudian menghadap ke arahku, aku mendongak melihat tubuh yang menutupi pandanganku itu, tangannya menyentuh lengan ku kemudian dengan lembut membelai kepalaku.
" Karena kau adalah cucu dari sahabatku Zhu Yan, dan aku menc......" dia berhenti sambil terbatuk kecil.
" Aku khawatir kau dalam bahaya, itulah mengapa aku memberi tahu mu semua ini, aku masih belum tau siapa bangsawan yang berhubungan dengan monster tersebut, kita masih belum tau siapa musuh dan siapa sekutu, makanya aku harus pergi menyelidiki lebih lanjut, ini bukan soal keselamatan mu saja tapi keselamatan ras ku juga, penyelidikan ku terhenti karena tubuhku yang berubah menjadi kelinci namun sekarang aku sudah bisa mengendalikan wujud manusia maupun kelinciku makanya aku harus bergegas sebelum semuanya terlambat".
Aku menatap mata Zeju lama, dia tidak mengalihkan pandangannya, aku bisa merasakan tatapan penuh perhatiannya kepadaku.
" Baiklah, kapan kau akan kembali?" tanyaku dengan nada lemah.
" Secepatnya, apa kau akan merindukan ku?" tanyanya dengan senyuman menggoda namun aku tidak menjawab.
Aku menundukkan kepala, ada rasa kehilangan yang menggerogoti hatiku, aku merasakan air menggenang di kelopak bawah mataku, aku tidak berani melihat Zeju, aku tidak mau kelemahan ku menghalangi langkahnya.
" Kenapa kau menangis?" tanyanya sambil tertawa, dia mengelap air yang ada di pipiku dengan lembut.
Aku terisak namun tidak ada satupun jawaban yang keluar dari mulutku, entah mengapa aku benar-benar merasakan kehilangan, hari-hari yang aku habiskan bersamanya serasa hanya kenangan masa lalu belaka.
Dia mengecup lembut kening ku yang membuatku melangkah mundur karena terkejut, melihat reaksi ku dia terbatuk menahan tawanya.
" Aku pasti akan kembali, jadi kau harus menyimpan dengan baik benda yang aku berikan kepada mu, kau harus membawa kemana pun kau pergi, oke?"
Aku menganggukkan kepala, namun air mataku masih deras membasahi pipiku, dia masih tertawa sambil mengusap air mataku yang berjatuhan.
" Sisi?" terdengar suara yang memanggilku tidak jauh dari tempat kami.
Aku menoleh ke arah sumber suara, disana Zurich berdiri dengan mata tajam menatap ke arah kami.
" Ah, kekasih mu sudah datang dan dia terlihat marah!" ujar Zeju tertawa.
" Apa yang kalian lakukan di sini? kenapa kau menangis? apa bajingan ini yang melakukannya?" tanya dengan nada marah lalu menarik pedang dari pinggangnya.
" Tunggu, kau salah paham!" ujarku sambil mencegatnya.
Zeju tersenyum miring kemudian melangkah ke dekat Zurich dengan tenang.
" Aku titipkan dia padamu, jadi kau harus menjaganya seperti nyawamu, jangan biarkan terluka ataupun menangis, jika kau melakukannya percayalah aku akan membawanya menjauh darimu sehingga kau tidak akan pernah lagi melihat sehelai rambutnya" bisik Zeju kepada Zurich yang dapat terdengar dengan jelas oleh ku.
Dia memukul pundak Zurich dua kali, " Aku Pergi!"
" Apa!?" teriak Zurich yang tidak terima dengan ucapan Zeju.
Zeju hanya mengangkat baju lalu berlalu meninggalkan kami berdua sambil melambaikan tangannya tanpa menoleh ke belakang, aku menatap punggung tegap dan rambut yang berkilau oleh cahaya matahari itu sampai dia menghilang di kerumunan penduduk.
" Apa yang kalian bicarakan? kenapa dia membuat mu menangis?" tanyanya kepadaku setelah Zeju menghilang.
" Tidak ada, dia hanya pamit pergi!"
" Lantas kenapa dia harus mencium mu? hubungan seperti apa yang kalian miliki sebenarnya? apa kau hanya akan membiarkan ku seperti orang kebingungan seperti ini?" tanyanya dengan nada yang terdengar kecewa.
" Keluarga kami mempunyai hubungan yang baik, dia sudah seperti kakak laki-laki ku, jadi saat dia mengatakan dia akan pergi tentu saja aku merasa sedih, aku merasa kehilangan keluarga ku"
Aku menghadap ke arah Zurich.
" Kemarin kau bilang karena dia menyelamatkan mu beberapa kali, sekarang dia adalah kakak laki-lakimu, besok apa lagi?" ujarnya dengan sarkas.
Aku ternganga mendengar jawaban yang tidak terduga dari Zurich, aku tidak menyangka dia akan meragukan ku seperti itu, dia terlihat menahan emosinya, matanya menjelaskan semuanya kepada ku, seolah memintaku untuk menenangkannya dan menyelesaikan kesalahpahaman ini.
Aku menarik nafas kemudian merangkul tangannya, " Ayo kita kembali dulu nanti aku ceritakan semuanya saat kita sampai di rumah".