
" Grand Duke?" ujarku terkejut.
' Perkembangan macam apa ini? dua pria paling berpengaruh bertemu di sebuah taman karena ulah seorang gadis biasa? kalau ada yang melihat kejadian ini, sudah pasti akan menjadi berita terpanas sekerajaan'.
" Sudahlah Grand Duke, tidak ada yang perlu di permasalahkan, bagaimana mungkin saya berani menyalahkan kekasih anda".
" Terima kasih atas kemurahan hati anda Baginda!" jawab Zurich dengan sopan.
" Terima kasih Baginda!" jawabku mengikuti gerakan Zurich.
" Well, bagaiman kalau kita ngobrolnya sambil minum teh, apakah Grand Duke dan kekasihnya keberatan?" tanyanya kepada kami berdua.
Bahaya!.
Itulah yang terlintas di kepala ku saat pria itu mengajak untuk minum teh, fakta bahwa aku adalah kekasih Zurich yang memiliki temporary marking harus aku sembunyikan, aku melirik ke arah Zurich berharap dia menolak dengan halus ajakan Emperor.
" Kenapa tidak Baginda, bagaimana kalau kita ke Gazebo dekat danau?"
' Ah, malah diterima, dia sama sekali ngak memikirkan posisi aku kali ya? Zurich kau ngak takut dia mencurigai hubungan kita?'
" Kedengarannya menarik!" jawabnya.
" Mari saya antar ke sana", ujar kepala pelayan menuntun kami menuju Gezebo dekat danau.
Aku menatap ke arah Zurich dan menarik nafas, Zurich yang melihat reaksiku hanya tersenyum kemudian mendekat kepadaku.
" Tenang saja darling, tidak ada yang perlu di cemaskan!" bisiknya di telinga ku yang meninggalkan rasa hangat oleh hembusan nafas yang cukup membuat wajah ku memerah.
Dia kemudian menjalin jemariku dengan jemarinya lalu membawa tanganku ke bibirnya dan menciumnya dengan lembut sambil menatap lurus ke dalam mata ku.
" Apa yang kau lakukan? bagaimana jika Baginda melihat ke belakang?" bisikku kepadanya.
" Kenapa kau malu? bukankah kau yang mengatakan kepadanya kalau kau adalah kekasih ku?" balasnya sambil berbisik juga.
" Kalau aku tau dia adalah Emperor, aku tidak akan mengatakannya, lagian siapa yang akan mengira Emperor berpakaian seperti itu?"
" Dia selalu begitu jika keluar secara tidak resmi dari kastilnya untuk menghindari mata-mata musuh, kau tidak usah terlalu tegang, anggap saja kau bertemu dengan calon ipar mu!"
" Gila!" dengusku masih dengan suara berbisik namun di balas senyuman olehnya.
Kami sampai di Gazebo, aku segera melepaskan tanganku kemudian mengikuti Zurich yang menyiapkan kursi untukku.
" Terima kasih" ucapku kepadanya sambil tersenyum.
Dia balas tersenyum kemudian segera duduk di sebelahku.
" Tampaknya hubungan kalian sangat mesra, tapi kenapa Grand Duke tidak pernah membicarakannya dengan ku?" tanya nya kepada kami.
" Kami......" aku tidak melanjutkan ucapanku karena wajahku terasa memanas.
" Wajahmu memerah, ngomong-ngomong aku bahkan belum mengetahui nama mu",
Aku kaget dan langsung berdiri untuk memperkenalkan diri dengan sesopan mungkin namun perhatian mereka teralihkan oleh kursiku yang terjungkir.
" Ah saya mohon maaf Baginda, sa....saya tidak biasanya saya seceroboh ini, anda bisa memanggil saya Sisilia" jawabku kikuk sambil menundukan kepala karena malu.
" Tidak apa-apa Miss" jawabnya sambil tertawa.
" Saya Felix Dakota, tapi biasanya orang memanggil saya Baginda!"
" Ah, baiklah".
" Duduklah kembali, tidak perlu tegang, kita tidak sedang rapat!"
" Terima kasih Baginda" jawabku kembali duduk di kursi yang sudah di kembalikan seperti semula oleh kepala pelayan.
Malu, canggung dan gelisah bercampur menjadi satu, aku melirik ke arah Zurich yang tampaknya menikmati situasi ku, dia tidak bisa menyembunyikan wajah senang dari mukanya tentu saja reaksinya itu membuatku kesal.
" Manisnya" ujarnya tanpa suara melihat kearahku yang membuat pipi ku semakin memerah.
" Berisik!" jawabku tanpa suara juga.
Beberapa saat kemudian pelayan datang membawa makanan dan minuman kemudian menyajikannya di depan kami sebelum pergi menjauh beberapa meter dari tempat kami berada.
" Miss Sisilia, kenapa saya merasa anda menjadi canggung setelah mengetahui identitas saya? padahal tadi anda dengan santai menepuk lengan saya" ujar Felix menggoda.
" Saya tidak akan melakukan itu jika saya tau siapa anda sebenarnya", jawabku.
Dia kembali tertawa mendengar jawabanku.
" Ah, ngomong-ngomong tadi saya melihat Miss Helwise, dimana dia sekarang?" tanyanya kepada kepala pelayan.
' Apa dia ingin mengajak Castella untuk bergabung disini? tidak please jangan Baginda, berada di hadapan anda saja sudah menguras semua energiku, apalagi ditambah dengan Castella?'
" Dia sudah pergi beberapa saat yang lalu Baginda" jawab kepala pelayan tersebut.
Aku mengurut dada lega, ada senyuman kecil yang tersungging di ujung bibirku saat kepala pelayan mengatakan Castella sudah pergi.
" Jadi apa anda datang hanya untuk minum teh, Baginda?" tanya Zurich akhirnya.
" Well, aku hanya ingin melihat-lihat Kapital sebentar dan mampir untuk menyapa mu, tapi kau tidak ada di rumah, alih-alih aku bertemu dengan kekasih mu, tapi ini sangat menyenangkan!" jawabnya sambil menyeruput teh yang ditangannya.
Dia melirik kami secara bergantian kemudain tersenyum dengan aneh, aku tidak bisa membaca apa yang dipikirkan oleh pria itu, sekilas dia tidak terlihat seperti penguasa malah lebih seperti rakyat biasa yang memiliki kharisma.
" Saya hendak menemui anda di istana, namun ajudan anda mengatakan anda sedang sibuk dengan event yang akan segera tiba, tapi siapa yang menyangka anda akan muncul di taman kediaman saya dan membuat kekasih saya berlutut" ujar Zurich tersenyum namun aku bisa mendengar kata-kata sarkas dalam ucapannya.
' Oh my god, apa tidak apa-apa bicara seperti itu ke Emperor? walaupun kalian sepupu bukankah ada batasannya dalam bicara?'
" Haha kau benar, siapa pun yang melihat kejadian itu pasti akan salah paham" jawabnya dengan santai tampaknya dia tidak terpengaruh dengan ucapan Zurich.
" Saat aku datang, aku melihat kereta keluarga Helwise juga datang makanya aku pergi ke taman untuk menghindarinya karena akan buruk jadinya jika keluarga Helwise melihatku disini, saat aku menikmati pemandangan kediaman Dagaras, mataku malah teralihkan oleh sosok wanita yang mengintip dari balik tumbuhan mawar kemudian aku mendekatinya dan kami ngobrol sebentar, yah cukup menyenangkan saat aku mengetahui identitas si pengintip yang merupakan kekasih Grand Duke".
" Well, kalau kalian hanya mengobrol mengapa aku melihatnya berlutut?"
" Itu karena kepala pelayan mu memanggilku Baginda, padahal aku tidak mempersalahkanya jika dia tidak berlutut" jawabnya masih sesantai tadi.
Aku meminum tehku untuk menghilangkan kecanggungan yang terasa, aku tidak berani melihat ke arah Felix.
" Jadi kapan kalian akan menikah?" tanyanya yang membuatku terbatuk dan menumpahkan teh yang sedang aku minum.
" Kau tidak apa-apa Sisi?"
Zurich segera mengelap wajah ku yang basah oleh air teh, kemudian memegang kedua pipiku yang memerah dan memutarnya ke kiri dan ke kanan, aku merasakan pedih di hidungku karena kemasukan air dan juga mataku juga mengeluarkan air mata.
" Aku tidak apa-apa" jawabku masih terbatuk-batuk kecil.