
" Lagian jika kau berniat kabur pun itu tidak akan mudah" ujarnya sambil tersenyum lalu menggandeng tanganku menuju ke kereta kuda yang terparkir tidak jauh dari tempat kami berada.
" Sudah aku bilang aku tidak berencana kabur, lagian tanda ini dapat memungkinkan kau untuk mengetahui keberadaan ku, jadi apa gunanya aku mencoba melarikan diri dari sini" jawabku mengelak.
Kami berhenti tepat di pintu kereta itu, dia melihat ku sekilas lalu membelai rambutku sambil tersenyum.
" Pintar!"
' Sial sial, ck pokoknya rencana keduaku aku harus berhasil, ya harus berhasil'
" Kenapa melamun? ayo naik" ujarnya sambil mengulurkan tangan.
Aku menjabat tangan yang memiliki jemari panjang dan kurus itu, jiwa perempuanku merintih melihat tangannya yang lebih indah dari tanganku, kami duduk berhadapan, sebenarnya jarak tempat kami berada dengan kediaman tidaklah jauh namun aku enggan untuk mengajaknya berjalan kaki, aku tidak sabar untuk sampai di kediaman dan membuat perhitungan dengan Zeju.
" Aku dengar, ada banyak surat yang ditujukan untukku, apa kau yang menerimanya?" tanyaku membuka pembicaraan.
Aku tidak ingin kecanggungan membuat perjalanan yang singkat itu terasa lama.
" Oh, tidak ada surat yang penting!"
" Tapi itu ditujukan kepadaku!".
" Well... kalau kau ingin debut di dunia sosial maka aku akan memberikan semua surat itu kepadamu, tapi kau debut sebagai tunanganku, kau menginginkan itu?"
" Itu.... sudah pilihan tepat kau tidak memberikannya kepadaku" jawabku dengan senyuman canggung.
Sesampainya di kediaman, dia membantuku turun dari kereta dan menggenggam tanganku sampai ke dalam bangunan, walaupun aku sudah berkali-kali mencoba menarik tanganku dari genggamannya namun dia menjalin jemarinya dengan jemariku dengan kuat.
" Ngomong-ngomong, kami sudah menangkap dalang di balik penculikan mu".
Aku yang tadinya kesal langsung menoleh kepadanya.
" Benarkah?"
Dia mengangguk.
" Hanya saja sebelum kami sempat mengorek informasi, seseorang sudah lebih dulu membunuhnya".
" Jadi dia bukan dalangnya?"
" Dia dalangnya"
" Lalu kenapa dia dibunuh? Bukankah dia dibunuh untuk membungkam mulutnya?"
" Kau benar, tapi dia hanyalah bidak catur dari permainan yang dimainkan seseorang dari belakang layar, melihat kau yang berkeliaran di kediamanku membuatnya meyakini kalau kau adalah kekasihku, walaupun itu memang benar adanya" ujarnya sambil tertawa kecil.
" Ck kita lagi ngomong serius nih yang mulia".
" Lah? kan aku juga serius!"
" Jadi kau sudah mengetahui siapa di yang memainkan caturnya?"
Dia menggeleng, " Kami masih menyelidikinya, tapi yang pasti kita sudah berhasil mengetahui rencana musuh, itu artinya jika tiba-tiba perang pecah kita sudah mempersiapkan diri terlebih dahulu, ini juga berkat informasi darimu".
Dia menatapku sambil tersenyum yang membuat wajah ku memerah.
" A...aku hanya membantu sebisa ku" gumamku kemudian berjalan dengan cepat mendahuluinya.
" Aku akan kembali ke kamarku!" ujarku kemudian dengan cepat menaiki tangga menuju kamarku tanpa sekalipun menoleh ke belakang.
Aku membanting pintu dengan keras sesampainya aku di kamar ku, disana terlihat Zeju tengah santai duduk di dekat jendela sambil memejamkan matanya.
" Kau..... Kau pengkhianat!" teriakku padanya sambil menunjuk dan berjalan dengan cepat ke tempatnya berada.
" Ngomong apa sih" jawabnya dengan santai.
" Zeju, kita adalah partner in crime, bisa-bisanya kau meninggalkan aku disana padahal kau sudah janji mau membantuku".
Dia tertawa.
" Siapa suruh kau jadi bego begitu, harusnya kau lihat dulu kondisi di seberang sebelum merangkak ke lobang itu, punya otak tapi tidak di pakai"
" Oh ayolah, ini berhubungan dengan kebahagiaan kita bersama, kenapa kau malah ngak kompromi begitu?"
" Kenapa kau begitu ngotot buat pergi dari sini?"
" Tentu saja disini berbahaya".
" Bukankah kau menyukai si Zurich itu?"
" Apa!? su....su.. siapa juga yang menyukai dia, aku.... aku hanya terpesona sama wajah tampannya, sama seperti aku menyukai wajah tampanmu", jawabku tergagap kemudian membuang muka darinya.
" Ehm kali ini akau akan memaafkan mu tapi kalau kau masih mengkhianati ku nantinya, aku tidak akan pernah lagi memberikan darahku padamu, alih-alih aku akan meracuni mu dengan garaga Q, biar mampus!"
Dia tertawa dengan keras beberapa saat kemudian mengusap air mata yang keluar dari sisi matanya karena menertawakan ku.
' Si aneh ini kenapa lagi dah? memangnya ada yang lucu dari ucapanku? diancam bukannya takut eh malah tertawa ck ck, sayang sekali padahal cakep'
" Jadi apa rencanamu selanjutnya?"
" Untuk saat ini tunda dulu rencana B kita, mari pura-pura jadi anak baik dan patuh saja dengan perintahnya".
" Terserah kau saja!"
" Tapi kenapa kau duduk disana? bagaimana kalau seseorang melihatmu dari luar?"
" Kenapa memangnya?"
" Kau bercanda ya? apa kata orang kalau melihat pria berada di kamar wanita, terlebih lagi wanita itu dirumorkan sebagai wanitanya Grand Duke Dagaras, kau niat sekali untuk mencemarkan nama baikku", ucapku tersenyum sarkas sambil menyembunyikan kekesalanku.
Dia dengan malas beranjak dari jendela kemudian bergerak ke sofa dekat tempat tidur, lalu rebahan disana dengan menggunakan kedua tangannya sebagai bantal.
' Kelinci sialan ini kerjanya malas-malasan saja'
****
Beberapa hari yang lalu, setelah percobaan melarikan diriku gagal, Nabi mengirimiku surat dan memintaku untuk bertemu ditempat pertemuan kami biasanya, tapi kali ini pertemuan kami dalam rangka piknik dan perayaan selesainya masa orientasi dia dan Stella.
Aku bergegas menemui dua sahabat yang sudah jarang aku temui itu, kami sudah tidak pernah lagi mengadakan pertemuan untuk bergosip setelah mereka bergabung ke fraksi Taurus, ditambah aku tidak lagi bisa pergi kemanapun sesuka hatiku.
" Ini dia calon Grand Duchess sudah datang" ujar Nabi saat saat sampai ditempat mereka.
" Oh ayolah Girls, itu hanya rumor", jawabku sambil memeluk mereka.
" Udah lama banget kita ngak jumpa seperti ini" ujar Stella membalas pelukanku, " Bagaimana luka mu?"
" Udah ngak apa-apa, tinggal ngilangin bekasnya aja, itupun kalau bisa".
" Apa kau selalu membawanya kemana-mana Si?" tanya Stella menunjuk kelinci yang ada di sampingku.
" Ah, kalian belum pernah ketemu ya? ini kelinci yang dikasih Zurich, aku membawanya karena dia pintar".
" Pintar?" tanya Nabi penasaran dengan kelinci putih itu, dia mengulurkan tangannya untuk memegang Zeju tapi ditepis dengan keras oleh kaki kecilnya.
" Aduh".
" Dia pemalu dan pemarah, jadi jangan asal menyentuhnya", ujarku mengangkat Zeju ke pangkuanku.
" Harusnya kau bilang itu dari tadi Si" ujar Stella sambil tertawa melihat ekspresi kesakitan Nabi.
Kami pun tertawa bersama-sama, memang sudah lama moment seperti ini tidak terjadi lagi, di mulai dari semenjak aku ditangkap oleh anggota Zurich, kalau di pikir-pikir mungkin sudah hampir lima bulan kami tidak berkumpul seperti ini.
" Jadi... bagaimana rasanya hidup di kediaman pria idaman para wanita se Kapital?" tanya Nabi.
" Iya Si, aku juga penasaran gimana rasanya serumah dengan Grand Duke Dagaras, membayangkan bisa melihat wajahnya setiap hari saja sudah membuatku puas untuk hidup" tambah Stella.
" Bukankah kalian anggota fraksinya? harusnya kalian bertemu dengannya setiap hari di markas kan?"
" Bertemu apanya, dia hampir tidak pernah berada disana", jawab Stella yang diiringi anggukan kepala oleh Nabi.
" Masa? aku bahkan jarang bertemu dengannya di kediaman".
" Bukankah kau pasangan imprintnya? apa dia tidak pernah memintamu untuk memurnikannya?" tanya Nabi dengan heran.
Aku menggelengkan kepala, selama aku berada di kediaman Zurich, aku tidak pernah melihatnya dalam kondisi berserk walaupun itu stadium satu, apalagi memintaku untuk memurnikannya, bahkan sebelum aku diculik aku jarang bertemu dengannya di kediaman, hanya setelah insiden itulah dia mulai rajin mengunjungi dan mengajak ku berjalan-jalan di taman.