
“ Kita mau kemana?” tanyaku kepadanya saat kami sudah berada diatas kereta kuda.
“ Ke kediamanku”, jawabnya.
“ Ngapain kita kesana? kalau ada yang ingin anda katakan, sekarang saja disini”
Dia hanya diam.
“ Kalau anda tidak mau, saya akan loncat dari ketera ini”, ancamku kepadanya.
Dia menatapku dengan sisi matanya,namun tidak ada pergerakan darinya, akupun mengeser dudukku ke arah pintu dan bersiap membukanya sebelum tanganku dihadang oleh tangannya.
“ Kau”, ucap dengan suara agak keras, “ Ada beberapa hal yang harus aku sampaikan?”
“ Tidak bisakah disini saja? pokoknya saya tidak mau pergi ke kediaman anda, entah apa yang sedang anda rencanakan di belakang saya”.
Dia tergelak sambil memegang wajahnya dengan tanggannya.
“ Imajinasimu terlalu jauh”, ujarnya disela-sela tawanya, aku memerah.
“ Siapa yang tau” sungutku kesal namun sebuah suara gemuruh dari dalam perutku menghentikanku.
Dia tertawa lebih keras.
‘ Ya ampun, malunya, kenapa malah sekarang sih perut? ngak bisa kompromi sebentar apa?’ teriakku di dalam kepala sambil menutup wajahku dengan tangan.
‘ Gila, ini benar-benar gila’.
Dia berhenti tertawa lalu meminta kusir untuk menurunkan kami disebuah hotel dan restoran yang terlihat mewah, dia membantuku untuk turun dari kereta kuda tersebut, ketika aku memperhatikan sekitarku hanya bangsawan dan saudagar yang terlihat makan disana mengingat aura yang keluar dari cara mereka berjalan dan menyantap hidangan, terlihat anggun dan berkelas.
Aku menarik lengan bajunya, “ Ngapain kita makan disini?” bisikku.
“ Kita cari tempat yang aja, disini pasti mahal banget, setidaknya kasihanilah sakuku yang punya isi terbatas ini”, bisikku lagi kepadanya.
“ Tenang aja, biar aku yang bayar”, jawabnya sambil duduk di tempat duduk yang berdekatan dengan jendela.
“ Tetap saja saya tidak mau anda yang bayarin, saya masih mau hidup lama, ini sama saja saya berfoya-foya menghabiskan uang yang sudah susah payah saya kumpulkan”, ucapku masih berbisik karena aku tidak mau ada yang mendengarnya, walaupun aku bukan dari kalangan masyarakat kelas atas tapi aku tidak mau ada yang merendahkanku karena tidak mampu makan ditempat yang mahal.
“ Selamat datang tuan dan nyaoya”, ujar seorang pelayan menghampiri meja kami lalu dia menyerahkan buku menu, aku mengambilnya sambil mengucapkan terima kasih, makanan yang tertera disana terlihat benar-benar menggugah selera namun saat aku mengecek harganya tiba-tiba aku merasa kasihan pada koin emas yang akan hilang dengan begitu mudahnya.
“ Parfait satu, Chocolate cake dan ice cream satu, macaroninya satu, oh iya tambah tiramisu satu lagi ya, tambah puding straberry dan melon ini satu, terakhir satu tea dan satu lagi jus mangga”, ucap Z kepada pelayan yang dijawab dengan anggukan ramah oleh pelayan tersebut kemudian dia mengulang semua pesanan tersebut sebelum pamit meninggalkan kami.
“ Apa anda akan makan semuanya?” tanyaku sambil menghitung koin emas yang akan dikeluarkan untuk makanan manis tesebut dikepalaku.
‘ Oh ya ampun, harganya melebihi dari pendapatan ku menjual obat herbal selama setahun’ pikirku.
“ Kau yang akan memakannya, aku cukup minum teh aja”.
“ Jangan bilang anda membeli saya pake makanan manis ini?” tanyaku dengan curiga.
“ Kau sudah jadi milikku tanpa harus membelimu pakai semua ini”, jawabnya sarkas.
“APA!?” teriakku, kemudian merendahkan suaraku karena orang-orang yang ada disana memperhatikanku.
“ Sudah berapa kali aku bilang, aku milik diriku sendiri, bukan milikku”, tambahku kali ini aku menggunakan bahasa santai karena sudah muak dengan sikapnya kepadaku.
“ Kau sekarang berbicara santai kepadaku?” tanya dengan senyuman tipis.
“ Kau yang membuatku begini, kau tidak menghormatiku lalu kenapa aku harus mempertahankan kesopananku, huh?”.
“ Kau terlihat marah, tidak buruk juga”, jawabnya saambil tertawa.
Beberapa menit kemudian pelayan yang tadi datang membawa pesanan kami.
“ Silahkan dinikmati”, ucapnya sebelum pergi meninggalkan kami, melihat berbagai jenis makanan yang menggiurkan diatas meja membuatku melupakan kekesalan ku kepada Z, aku menarik parfait ke dekatku kemudian dengan gembira menikmatinya.
“ Jangan pikir aku akan memaafkan mu hanya gara-gara kau membelikan ku makanan ya! aku tidak segampang itu” ujarku melihatnya dengan sisi mataku kemudian kembali menikmati parfaitku.
“ Yo siapa ini?” ujar suara dari depanku yang aku kenali sebagai suara Nabi, aku mengangkat wajhku dari parfai yang sedang aku nikmati dan melihat kearah sumber suara, Nabi dan Stella berdiri di samping meja antara aku dan Z.
“ Setelah menghilang satu bulan, sekarang teman kita udah bisa ngedate Stel” ujar Nabi sarkas.
“ Jadi siapa pria yang tidak beruntung ini?” ujar Stella lalu mereka menoleh ke arah Z, mereka yang melihat pria didepanku kaget dan dengan cepat mereka membungkukan badan.
“ Salam kepada Grand Duke Zurich Dagaras” ucap mereka serempak yang membuat mataku terbelalak tidak percaya.
“ Ap- Apa maksud kalian Gra- Grand Duke?” tanya ku terbata-bata.
“ Santai saja, apa kalian temannya Butterfly?” tanya Z alias Zurich sambil mengibaskan tangannya dengan senyuman ramah setelah dia mempersilahkan mereka berdua berdiri.
‘ Siapa oran ini? senyuman macam apa itu? bleh’ ucapku didalam kepala sambil melihat caranya memperlakukan Nabi dan Stella.
“ Butterfly?” tanya mereka dengan nada heran.
“ Duduklah dulu”, jawabnya, Stella mendorongku untuk bergeser duduk ke ujung.
“ Diutara orang-orang memanggilnya dengan sebutan miss Butterfly”, jawabya, senyuman manis nan ramah masih belum hilang dari wajahnya.
“ WAAAHHHHHHHHH, PARFAIT INI ENAK BANGET” teriakku memotong ucapan Nabi sambil menginjak kakinya.
“ Si Bajingan gila?” tanya Stella yang dari tadi sibuk memandangi wajah Zurich.
“ Ap-apa ya-yang ka-kamu bicarakan Stel?” tanyaku tergagap sambil tertawa canggung lalu mengisayaratkan dia untuk diam dengan mataku.
Zurich tertawa.
“ Apa istriku mengatakan aku bajingan gila?” tanyanya masih tertawa.
“ Istri?” tanya mereka serentak.
“ Istri?” tanyaku juga kepadanya, aku menggelengkan kepalaku kepada dua pasang bola yang memintaku untuk memberikan penjelasan.
“ Bu-bukan begitu guys”, jawabku geleng-geleng kepala.
“ Bukankah kau bilang itu hanya kontak majikan dan pelayan Si?” tanya Nabi kepadaku.
“ Kontrak apa?” tanya Stella kebingungan.
“ Oh jadi temenmu sudah tau tentang tanda ditanganmu rupanya? sekarang karena sudah ada teman-temanmu yang jadi saksi, biarku perjelas”, ujarnya sambil menyilangkan kaki lalu menyeruput tea yang dipesannya.
“ Tanda Marking ditanganmu adalah tanda imprint yang artinya kita adalah pasangan, secara hukum kau sudah sah menjadi istriku, karena tanda itu tidak akan terbentuk jika kau tidak setuju dengan perjanjiannya, maksudnya ini adalah perjanjian atas suka sama suka”
“ Apa? bagaimana tanda ini bukti pernikahan? ini tidak masuk akal sama sekali, iyakan?” tanyaku pada Nabi dan Stella.
“ Tapi Si, jika tanda marking muncul saat anda membuat kontrak antara awakener dan purifier maka artinya kecocokan kalian diatas lima puluh persen” ujar Nabi dengan suara agak berat, “ Dan jika tanda terbentuk maka pasangan itu disebut telah menikah!”
“ Purifier? Sisilia adalah purifier?” tanya Stella yang terkejut dengan informasi yang muncul secara tiba-tiba.
“ Stel-“
“ Tunggu,” ujarnya memotong ucapanku, “ Sisilia adalah seorang purifier yang sudah mengikat kontrak imprint dengan yang mulia Granduke Zurich Dagaras, dan lagi kontraknya meninggalkan marking yang berarti kecocokan kalian melebihi lima puluh persen? plot twis macam apa ini?”
“ Itu-“
“ Kamu bahkan menyembunyikannya dariku dan Nabi mengetahui itu? Si apa kamu malah menganggapku sebagai teman?” ujarnya sambil berdiri, tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi.
“ Bukan gitu Stel, dengar aku-“ aku berhenti.
Dia berdiri dan membungkukkan badan kepada Zurich lalu pergi meninggalkan kami.
“ Stella” teriakku hendak mengejarnya namun tanganku ditarik Nabi.
“ Kamu disini aja Si, selesaikan dulu urusanmu dengan yang mulia, biar aku yang akan menjelakannya kepada Stella” ucap Nabi, kemudian dia membungkuk pamit kepada Zurich lalu pergi menyusul Stella.
Aku menghela nafas.
“ Apa kalian selalu dramatis seperti itu?” ujarnya dengan nada polos.
“ Ini semua gara-gara Anda” jawabku sambil memegang kepala, berfikir akan kejadian yang barusan terjadi.
“ Kenapa anda tidak memberitahu saya kalau anda adalah sepupunya Emperor dan komandan Fraksi Taurus? saya bahkan sudah-“ aku tidak melanjtkan ucapanku, kejadian sebulan belakangan ini sudah cukup menambah beban berat dipundakku, belum dia adalah orang harus aku hindari karena identitasku.
“ Memangnya apa yang berubah jika aku memberitahumu?”
“ Banyak “ jawabku cepat.
“ Contohnya?”
“ Contohnya saya akan tetap rendah hati dan berusaha sebisa mungkin tidak menyinggung yang mulia” jawabku, “ saya bahkan memaki anda di dalam kepala saya” tambahku pelan.
“ Sudahlah, sekarang kau sudah tau arti tanda itu kan? mari kita daftarkan pernikan kita besok!”
“ APA!?”
Dia menatapku heran.
“ Yang mulia, anda susah berjanji untuk tidak membuka identitas saya, apa anda lupa? satu pertanyaan, mengapa anda menipu saya untuk mengikat kontrak dengan saya?”
Dia tidak menjawab, dia hanya memandang jauh ke jendela, aku mengernyitkan dahi sambil menunggu jawaban yang akan keluar dari mulutnya namun bibir seksi itu tetap terkatup rapat.
“ Sir, bisakah anda menjawab saya?” teriakku tapi tidak sampai terdengar oleh tamu yang tengah makan disana.
“ Aku akan menjawabnya, tapi tidak disini”, jawabnya, “ Mari kita lanjutkan diskusi ini di kediaman saya”
“ Apa? tapi-“
“ Stop, terserah kau saja jika kau tidak ikut, bukan aku yang rugi” jawabnya sambil bangkit kemudian melangkah menuju pintu keluar, aku ternganga mendengar jawaban yang setengah hati itu dari mulutnya.
‘ Hei, anda pikir siapa yang membuat saya diposisi sekarang? saya ngak minta anda untuk jadi suami saya, memangnya mentang-mentang anda tampan, kaya dan berkedudukan, anda bisa semen-mena saja sama orang, huh?” protesku dalam kepala.
“ Apa yang kau pikirkan? ayo!” panggilnya kepadaku, aku segera menyusulnya ke pintu keluar, meninggalkan makanan manis yang masih belum tersentuh.
‘ Maafkan aku Puding, tiramisu, cake dan maraconi, aku benar-benar tidak ingin meninggalkan kalian tapi si psikopat gila itu yang memaksaku, padahal aku belum menyicip kalian sedikitpun, sayang sekali’ ucapku dalam hati sambil menoleh kembali ke restoran mewah tersebut.