
Sesampainya kami di Kapital, Zeju buru-buru pergi ke guild Humming bird, aku tidak tau apa yang terjadi, dia tidak mengatakan apapun selain memberikan sesuatu seperti sisik kepada ku, mulai dari saat kami memasuki pintu portal sampai ke Kapital, dia terlihat sangat khawatir, aku ingin bertanya namun aku tidak mau mencampuri urusannya walaupun begitu aku berharap dia memberi tahuku nantinya.
Aku tidak hanya diam di rumah tapi pergi mengunjungi Nabi dan Stella, pertama-tama aku mengabari kediaman Nabi sebelum aku mengunjungi kediaman Stella, karena menurut kepala pelayan para pasien yang terluka pasca serangan sudah di pulangkan ke kediaman masing-masing.
Aku mendapati Stella tengah berbaring di tempat tidurnya, dia memandang langit-langit dengan tatapan kosong.
" Stel" ujarku menyapanya saat aku sudah sampai di kamarnya.
Dia menoleh ke arahku dan tersenyum dengan lemah, tangannya memegang perutnya, wajahnya tampak masih pucat namun tanda-tanda dia sangat senang dengan kehadiran ku terpancar dari wajahnya.
" Kenapa kau baru datang sekarang? apa kau lupa kalau teman mu terluka?" tanyanya dengan nada sarkas tapi suaranya masih lemah.
" Aku minta maaf, malam hari saat serangan terjadi aku di panggil ke Kota Dagara, karena Grand Duke dalam kondisi berserk", jawabku sambil duduk di kursi sebelah tempat tidurnya.
" Apa!? aw.." dia mencoba untuk duduk namun berhenti karena luka di perutnya.
" Hati-hati, kau berbaring saja dulu".
" Aku kira kau sudah tidak peduli lagi sama kami".
" Ya ngak mungkinlah Stell, kau dan Nabi sudah seperti saudara ku bagaimana mungkin aku tidak khawatir kepada kalian?".
Dia menghela nafas.
" Bagaimana keadaan komandan sekarang?"
" Dia sudah normal, butuh beberapa hari untuk memurnikan kondisinya, tapi kenapa kau sudah pulang dari rumah sakit? sepertinya kondisi mu masih belum baik".
" Bagaimana mungkin aku berlama-lama di sana? korban dari serangan itu cukup banyak, bahkan rumah sakit tidak memiliki cukup kamar untuk para pasien, banyak yang lebih membutuhkan dariku, jadi saat aku tersadar aku meminta ayah untuk membawaku pulang".
Beberapa saat kemudian pintu kamar di ketuk dan seorang gadis melangkah kearah kami dengan senyuman lebar walaupun dia berjalan dengan pincang sambil bertumpu pada tongkat di sisinya.
" Aku kira kau menghilang lagi Si, sebab pasca serangan kami tidak mendengar kabar tentang mu, untung saja ksatria yang ada di tempat kejadian mengatakan kalau kau baik-baik saja!" ujar gadis itu sambil mengambil sebuah kursi dan duduk di samping tempat tidur berdekatan dengan ku.
" Bagaiman keadaan mu Bi?"
" Lebih baik dari Stella dan yang lain!" jawabnya dengan senyuman kecil menghiasi wajahnya.
" Sisi, apa kau......" Stella berhenti bicara kemudian dia melihat ke arah Nabi.
" Aku apa?"
" Apa kau punya kekasih?" tanya Stella dengan hati-hati.
" Ap...apa yang ka..kalian bicarakan?"
Aku terkejut dengan pertanyaan mereka , muka ku langsung terasa panas, aku menelan ludah karena gugup.
' Bagaimana mereka bisa tau? apa ada yang mendengar percakapan ku dengan Zurich sehingga rumor tentang kami sampai ke Kapital? tapi bukankah orang-orang sudah tau kalau Zurich tengah menjalin hubungan dengan seorang wanita?'
" Kenapa kau menjawab terbata-bata begitu? apa kau sedang merasa bersalah?" tanya Nabi dengan nada curiga.
" Apa maksud mu terbata-taba? dan kekasih apa yang kalian bicarakan? apa ada lagi rumor tentang ku yang beredar di Kapital? aku tau siapa yang menyebarkannya"
" Benarkah? siapa?"
" Castella Helwise!"
" Apa!?" teriak mereka serentak namun Stella kembali mengerang menahan sakit.
" Bentar Sisi, rumor seperti apa yang kau maksud? bukankah rumor tentang wanita Grand Duke memang sudah menghebohkan dari bulan lalu?" tanya Nabi
" Dan kenapa kau mengira Nona Helwise yang menyebarkan rumor itu?" tanya Stella ikut-ikutan.
" Tapi Stell, kau bertanya tadi apakah aku punya kekasih atau tidak, kalian tau hubungan seperti apa antara aku dan Grand Duke kan?".
" Hubungannya sama Nona Helwise apa?" kali ini Nabi yang bertanya.
" Ya karena aku bertemu dengannya di Kota Dagara, jadi dia menyebarkan rumor tentang ku, jadi kalangan sosial tau tentang ku dan mereka mulai mencari cara agar hubungan ku dan Grand Duke berakhir".
Aku mengangguk menjawab pertanyaan Nabi.
" Mana mungkin dia melakukannya, walaupun semua orang tau kalau dia dulunya calon tunangan komandan, tapi menyebarkan rumor tentang mu tidak akan baik baginya, dia adalah orang yang sangat peduli dengan imagenya di dunia sosial, jadi dia tidak akan melakukan hal yang mencemarkan nama baiknya, terlebih jika dia tau kalau komandan sangat peduli kepada mu!"
" Kau seperti mengenalnya dengan baik, Bi!"
Stella tertawa.
" Mereka punya hubungan Love hate relationship Si, Nabi mengaguminya namun juga membenci sifatnya yang terobsesi dengan komandan sedangkan Castella menyukai kemampuan Nabi namun dia tidak menyukai Nabi yang bergabung dengan Fraksi Taurus", ujar Stella.
Walaupun suara Stella masih terdengar lemah namun dia masih tetap menanggapi percakapan kami dengan semangat.
" Lalu kalau bukan karena rumor, kenapa kalian bertanya aku punya kekasih atau tidak?"
Mereka saling pandang satu sama lain.
" Itu karena pria bak malaikat yang datang menyelamatkan kita saat serangan terjadi kemaren, melihat cara berpakaiannya aku rasa dia adalah bangsa Sui dari Selatan".
" Pria bak malaikat? "
" Iya, rambut peraknya yang panjang berkilau ditambah kulit putihnya yang dibalut pakaian serba putih, belum lagi mata coklat dan bibirnya yang berwarna peach, perawakannya antara cantik, gagah dan anggun digabung jadi satu, kalau tidak malaikat apa lagi coba?" tanya Nabi yang nampaknya benar-benar terpesona dengan Zeju.
" Memangnya kenapa dengan dia?"
" Bukankah kalian menjalin hubungan? dia datang menyelamatkan mu bahkan memarahi mu karena khawatir bukan?"
" Jadi karena itu kalian menanyakan apakah aku punya kekasih atau tidak?" tanyaku sambil tertawa.
Mereka mengangguk dan juga bingung melihat aku yang tertawa.
" Kekasih apanya? dia cuma teman biasa, karena sebuah kebetulan aku mengenalnya walaupun aku tidak terlalu mengetahui tentang identitasnya".
" Pria setampan itu hanya tem, ah......" ucap Stella terkejut namun ekspresinya berganti menjadi ringisan kesakitan.
" Stell, ngak usah terlalu bersemangat, kau masih terluka", ujar Nabi.
" Apa Komandan mengetahuinya?"
Aku mengangguk, " Grand Duke tau kalau dia adalah temanku".
" Siapa namanya Si?"
" Chyou Fengyin, tapi dia tidak berasal dari negara Sui".
" Bagaimana kau mengenalnya?"
Nabi tampak sangat bersemangat saat membahas tentang Zeju, matanya berbinar-binar melihat ke arahku begitu juga dengan Stella.
" Dia beberapa kali menyelamatkan ku" .
" Menyelamatkan tanpa imbalan?"
Aku mengangguk, " Sejauh ini dia tidak pernah meminta apapun dariku setelah dia menyelamatkan ku".
Mereka melihatku dengan pandangan tidak percaya, aku sudah mengatakan semuanya kecuali tentang Zeju yang rutin meminum darahku untuk penyembuhannya, aku masih belum bisa memberi tahu mereka identitas Zeju dan mengapa dia membutuhkan darah ku.
" Luar biasa!" gumam Stella.
" Selain menyelamatkan mu apa lagi yang dia lakukan untuk mu?"
Aku mengernyitkan dahiku atas pertanyaan Nabi, aku tidak paham mengapa mereka begitu tertarik dengan Zeju, tidak mungkin hanya karena wajah tampannya mengingat ada beberapa pria di kerajaan yang wajahnya tidak kalah tampan dari Zeju.
" Dia selalu mendengarkan keluh kesah ku, terkadang membantu ku memecahkan masalah dan juga memberikan ini kepadaku" jawabku sambil mengeluarkan kantong kain kecil dengan sulaman emas.
Nabi mengambil kantong kain itu dari tanganku dan mengeluarkan isinya, lalu dengan wajah terkejut dia mengangkat isi kantong yang berbentuk sisik dengan warna perak itu, bahkan Stella juga menunjukan wajah yang sama saat benda itu di depan kami.