Butterfly Trap

Butterfly Trap
Part 50


Menghilang tanpa bilang, itulah kondisi yang sedang aku rasakan saat ini, aku merasa seperti tawanan yang tidak memiliki hak untuk kembali ke Kapital, satu-satunya tempat yang bisa aku kunjungi adalah kerajaan Aquamarine dan aku sudah hilang minat untuk pergi kesana setelah kepergian Zurich.


Satu bulan telah berlalu namun hanya sekali kabar yang datang dari Zurich, dia memintaku untuk tetap bersabar dan dia akan segera menjemput ku, aku mulai gelisah, banyak kekhawatiran yang muncul di kepalaku dan aku bertanya-tanya kenapa Zurich tidak mengizinkanku untuk kembali ke Kapital bersamanya.


" Sebenarnya apa yang sedang terjadi di Kapital? apakah serangan dari para monster kembali terjadi? apa dia baik-baik saja?" gumamku sambil mondar-mandir di beranda kamar ku.


" Aku sudah bosan disini, Zurich kapan datangnya sih? Apa aku kabur saja dari sini? tapi bagaimana?"


Aku menggigit kuku ibu jariku, kemudian mengusap wajahku dengan kedua tangan, aku terdiam lama sambil memejamkan mataku.


" Ah, Sora! benar, aku bisa minta bantuan Sora" ujarku bersemangat.


Aku melangkah dengan cepat keluar dari kamarku untuk mencari keberadaan gadis pelayan tersebut namun orang yang aku cari tak kunjung aku temukan, di koridor aku bertemu dengan seorang pelayan laki-laki yang membawa sebuah lukisan.


" Apa kau melihat Sora?" tanyaku kepadanya.


Dia berhenti kemudian melihat kearah belakang lalu kembali menghadap kepadaku.


" Sora sedang ke kampung halamannya Miss, barusan dia pergi" jawabnya menunjuk ke arah belakang kastil.


" Kenapa dia tidak memberitahu ku?"


" Kalau itu saya juga kurang tau Miss"


" Baik, kembalilah bekerja!"


Dia membungkuk kemudian meninggalkan ku, aku bergegas menuju belakang kastil berharap gadis itu masih belum jauh, aku menuruni anak tangga dengan setengah berlari kemudian aku mempercepat langkahku menuju belakang kastil.


Sesampai disana, aku melihat Sora berdiri melihat kearah laut dan dengan sigap aku memanggilnya.


" Sora, tunggu!" teriak ku sambil terengah-engah.


Dia berbalik dan kaget melihatku yang berlari ke arahnya, dia juga berlari kearah ku.


" Apa yang terjadi Miss? kenapa anda ngos-ngosan begitu?" tanyanya sambil memapah tanganku karena kakiku sudah gemetar.


" Aku........hah....Aku...".


Aku mencoba mengatur nafas ku yang naik-turun, aku membungkuk sambil mengisyaratkan Sora untuk berhenti, beberapa saat kemudian barulah aku bisa berbicara dengan benar.


" Kau mau kemana? kenapa tidak bilang?"


" Saya sudah bilang ke kepala pelayan dan meminta Ana untuk menggantikan saya Miss" jawabnya kebingungan.


" Baiklah, mari kita lupakan soal itu, yang penting sekarang adalah kamu, aku membutuhkan bantuan mu Sora"


Aku menggenggam tangan gadi itu dan menatap sambil memohon kepadanya, dia yang tidak tau apa yang terjadi kebingungan dengan sikapku.


" Apa yang bisa saya bantu Miss?"


" Apa kau buru-buru pergi ke Aquamarine? bawa aku bersama mu!"


" Apa? bagaimana jika Grand Duke datang saat anda ikut dengan saya?"


" Dia tidak akan datang, setelah itu kamu bantu saya menuju Kapital " ucapku dengan penuh semangat.


Dia tampak bingung dan berusaha mencerna kata-kata yang aku ucapkan kemudian dengan ragu-ragu dia berbisik.


" Apa anda hendak pergi dari sini?"


" Iya!"


" Jangan Miss, nanti saya yang disalahkan jika Grand Duke kembali dan juga saya tidak akan mampu mengantar anda ke Kapital, walaupun saya Mermaid, perjalanan bawah laut juga sama mengerikannya dengan jalur darat Miss, ada Kraken dan Megalodon yang mengintai di sepanjang perjalanan".


" Jadi benar-benar tidak ada jalan lain selain menunggu?"


" Nampaknya memang begitu Miss" jawabnya dengan nada rendah.


" Ya sudah, hati-hatilah!" ucapku dengan nada kecewa kepadanya dn hanya bisa melepas kepergiannya.


Dia mengangguk kemudian memberi hormat kepadaku lalu berbalik dan meloncat kedalam laut, aku dapat melihat ekor ikan yang sangat besar saat Sora hilang di dalam air dan dengan lesu aku langkahkan kaki ku kembali ke kamarku.


" Apa memang sudah tidak ada harapan kah?" ucapku sambil menghempaskan badanku ke kasur.


" Sampai kapan aku akan berada di sini? apa aku akan berdiam diri saja disini? ah ya ngak lah, aku harus cari cara, tapi bagaimana?"


Aku melihat kearah cermin yang dekat tempat tidur, pantulan wajah lelah ku terlihat jelas disana.


" Lihatlah dirimu Sisi, kau sekarang seperti kupu-kupu yang terperangkap di dalam sangkar emas, menyedihkannya!" ucapku kepada diriku yang ada di cermin.


" Bahkan sampai sekarang kau masih percaya kalau dia akan menjemput mu, menggelikan! lihatlah dirimu, kau bahkan mengatakan identitas mu kepadanya, Betapa bodohnya kau! bagaimana bisa kau percaya dia tidak akan memberitahu sepupunya tentang identitas mu, huh?"


Aku segera duduk, tidak pernah terlintas di kepalaku kalau Zurich akan memberitahu Felix tentang identitasku, pikiran-pikiran negatif mulai merasuki kepalaku yang membuatku semakin cemas dan khawatir.


" Benar juga, jangan-jangan dia sengaja meninggalkan ku di sini sebagai hukuman awal sebelum dia memenggal kepala ku, bagaimana mungkin dia percaya kepala anak dari orang yang sudah membunuh ayahnya?" gumamku bergidik.


" Tidak, aku tidak bisa berdiam diri dan menunggu kematian ku begitu saja, aku harus ke Kapital bagaimana pun caranya, pasti ada sesuatu yang bisa aku gunakan".


Aku membuka laci disamping tempat tidurku dan mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil, disana ada barang yang dikasih Zeju kepadaku dan juga barang-barang pemberian Miranda.


" Ini gunanya apa ya? kenapa Zeju memintaku untuk selalu membawanya?"


Aku memperhatikan kantong kain tersebut dan menimang-nimang nanya untuk waktu yang cukup lama kemudian meletakkannya di atas tempat tidur, tiba-tiba aku teringat sesuatu.


Ps: Benda ini bisa membuka semua jenis pintu dan penghalang.


" Itu dia, benda yang di kasih Miranda kepada ku supaya aku bisa melarikan diri, benar!"


Aku mengangkat benda berbentuk jarum kompas tersebut tinggi-tinggi, entah mengapa benda tersebut seperti memberikan cahaya harapan kepada ku, cahaya yang menyilaukan yang dapat membutakan mataku, aku tersenyum lebar.


" Memangnya siapa yang bisa memenjarakan aku, Sisilia Agatha, huh? hahaha" teriakku sambil sambil tertawa dengan keras.


" Tapi yang jadi pertanyaannya adalah bagaimana caranya supaya aku bisa kabur tanpa ketahuan?"


Aku kembali menghempaskan badan ku ke kasur, aku sudah dapat memecahkan masalah perihal penghalang kastil tersebut namun bagaimana caraku menghindari mata para pelayan dan ksatria adalah hal yang masih membuat kepala ku pusing.


" Apa gunanya bisa membuka penghalang jika mereka tidak mengizinkan ku untuk keluar" gumamku dengan suara suram.


Aku kembali melirik benda berbentuk jarum kompas yang tadinya mengeluarkan cahaya terang sekarang terlihat kusam dan tidak menarik.


" Cih!" ucapku sambil melempar benda tersebut ke samping ku.


" Tuhan, kenapa gini amat sih? apa ini yang namanya cobaan dalam kisah cinta kami?"


Aku menarik nafas kemudian memutar badan ku menghadap ke benda yang tadi aku lemparkan.


" Cobaan cinta apanya? yang ada ini namanya tawanan!"


Aku bangkit dari tempat tidur ku dan kembali mengacak-acak isi kotak kecil tadi, berharap ada sesuatu yang dapat memberikan ku pencerahan untuk pergi dari kastil ini.


" Oh iya, bagaimana jika orang-orang disini aku kasih obat tidur saja? jadi saat aku pergi, mereka tidak akan tau, tidak, tidak, ini tidak akan berhasil!".


" Hmmm bisa saja berhasil bukan? bagaimana jika kita coba saja dulu?"


" Ah tidak, mereka pasti menghubungi Grand Duke saat mereka sudah sadar dan aku tidak tau apa yang akan dilakukan Zurich jika dia tau kalau aku kembali mencoba untuk kabur".


Aku terus-terusan berdebat dengan diriku sendiri, sesekali aku menghela nafas dan berdiam diri sejenak untuk kembali berpikir, namun tidak ada ide yang muncul di kepala ku, kepala terasa sakit karena aku terus-terusan memaksa otakku untuk berpikir.


" Akan lebih bagus jika Sora mau membantuku kabur jalur bawah laut" gumamku pelan kemudian memejamkan mataku.


" Jalur bawah laut...Sora? benar itu dia!" teriak ku dengan kegirangan.