Butterfly Trap

Butterfly Trap
Part 44


" Apa tidak ada cara lain Sir, satu tiket pun tidak ada yang tersisa?"


" Maaf nona " jawabnya dengan menggelengkan kepala.


" Atau anda bisa menukarkan tiket anda dengan seseorang yang akan berangkat jam tujuh, biasanya para penumpang akan menginap di penginapan yang itu, coba nona ke sana dan mencari tau"


" Benarkan bisa pak? Kalau begitu tiket ke pelabuhan Lowen untuk satu orang, jam sepuluh"


" Baik, tunggu sebentar "


Setelah membayar tiket aku masuk ke penginapan yang sudah disarankan oleh si petugas pelabuhan. Di penginapan itu terlihat banyak pria yang sedang tertawa sambil minum arak dan beberapa perempuan yang risih dengan kelakuan mereka, beberapa lagi terlihat berdiskusi santai. Aku langsung menuju meja konter, nampak seorang wanita tengah melayani beberapa orang pelanggannya.


" Apa masih ada kamar yang kosong ?" tanya ku saat pelanggan yang dilayaninya tadi melangkah keluar penginapan dengan wajah lesu.


" Hanya satu kamar yang tersisa, nona"


" Saya juga sendirian " jawab ku tersenyum, dia menatapku dengan wajah tidak percaya.


" Nona, apa anda bercanda? Mana ada gadis yang berpergian sendirian? Itu berbahaya"


" Saya sama teman kok, nginap disini nya yang sendirian"


" Oh iya, iya" ucapnya kemudian menulis sesuatu di buku tamu.


Aku memberikan beberapa satu keping emas, dia memanggil anaknya untuk mengantarkan ku ke kamar setelah mengembalikan uang ku dengan beberapa keping koin perak dan perunggu.


" Ngomong-ngomong, apa anda dengar seseorang yang hendak ke Dagaras jam delapan tidak?"


" Kenapa?"


" Saya mau berangkat ke pelabuhan Lowen segera, tapi dapatnya tiket jam sepuluh, saya butuhnya jam tujuh atau jam delapan"


" Hmm" dia mengerutkan dahinya menatapku lekat- lekat, aku balas memandangnya dengan wajah memelas dan cemas.


" Sebentar! " ujarnya kemudian pergi menghampiri seorang pria yang tegah tertawa di pojok ruangan, dia berbicara sebentar, kemudian melihat ke arahku, sesekali si ibuk penginapan mengeraskan suaranya. Mereka terlihat berargumen hebat, aku merasa tidak enak dan memalingkan wajah dari mereka.


Kemudian si ibuk kembali diikuti oleh si pria yang tadi beradu mulut dengannya.


" Hello, saya Dave, kenapa nona membutuhkan tiket kapal jam tujuh?" kata si pria itu tanpa basa-basi.


Wajahnya tirus dengan keriput paruh baya di wajahnya yang tegap dan kulitnya yang putih pucat, penampilannya terlihat seperti pria Flamboyan yang terkenal diantara gadis-gadis.


" Bukan urusan anda, kalau anda bersedia membantu saya, saya mau membayar lebih!"


Dia berpikir sejenak, kemudian senyuman nakal tersungging di wajahnya.


" Jarang sekali orang yang tidak tertarik datang ke festival Dagaras, kabarnya Grand Duke Dagaras juga ikut serta dalam arak-arakan, aku rasa para gadis akan berdesak-desakan hanya untuk dapat bertemu dengannya, bukankah juga begitu?" tanyanya seraya melihatku dari bawah ke atas.


" Anda sangat tidak sopan Sir! jika anda tidak niat untuk membantu saya, pergilah dan urus saja urusan anda sendiri!" aku sangat tersinggung dengan pandangannya yang menilai ku dari sepatu yang ku kenakan sampai ke jubah ku.


" Saya minta maaf Nona, itu karena anda tidak terlihat seperti penduduk biasa" jawabnya sambil terkekeh.


" Apa!?", sungutku tidak nyaman.


" Walaupun pakaian yang Anda kenakan terlihat sederhana, tapi bahannya bukan produk yang dapat ditemukan di pasaran, well aku mengatakan ini karena saya mengkhawatirkan anda, jika anda pergi sendirian, anda menjadi makanan lezat bagi para bajingan di luar sana!"


' Mengkhawatirkan apanya, cih! dan lagi kenapa orang ini tajam juga sih?' pikirku.


' Jangan bilang dia adalah salah satu ksatria yang mengejar ku?'


Aku menaikan penjagaanku dan menatapnya dengan wajah curiga, tiap kali dia bergerak aku akan bergerak mundur sambil memeluk tubuhku dengan tangan.


" Anda tidak perlu sewaspada itu, saya mengatakan nona bukan penduduk biasa bukan karena saya mencurigai nona, hanya saja pakaian yang anda kenakan mungkin memang terlihat sederhana tapi hanya para bangsawan yang mampu membeli bahan seperti ini, bukankah beberapa orang akan mulai penasaran dengan identitas anda? Kalau anda tidak pergi ke Dagaras berarti anda mau ke Kota Sabra atau Kota Mali?"


Aku menatapnya dengan kesal, merasa tersinggung dengan perlakuan dan perkataannya, dan juga merasa dia terlalu mencampuri urusan ku, aku mulai berfikir bahwa mempercayakan orang ini untuk membantuku bukanlah pilihan yang tepat, aku menarik nafas beberapa kali.


" Baiklah Miss, saya akan mendapatkannya untuk anda " ujarnya akhirnya seraya tertawa terkekeh melihat reaksiku dan caraku menatapnya.


" Saya akan mengabari anda sebelum jam tujuh pagi" tambahnya lagi kemudian meninggalkan ku begitu dan menghilang di balik pintu masuk penginapan.


" Tidak usah di ambil hati, Dave memang begitu, tapi percayalah, dia orang yang baik dan bisa diandalkan" ujar si ibu penginapan sambil menepuk lembut pundak dan aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya.


" Antar tamu kita ke kamar nomor delapan belas di sayap kiri" katanya pada anak yang menggantikannya di konter.


" Baiklah! " jawabku mengangguk kemudian pergi mengikuti si anak ibu penginapan.


Selama menginap tidak hal yang terjadi, tidak ada yang mengganggu dan si ibu penginapan juga sangat baik dalam melayani pelanggannya, hanya saja yang menjadi pikiran bagiku adalah bagaimana cara melewati para ksatria yang patroli di pelabuhan? Aku menarik nafas, beberapa menit kemudian aku pun terlelap.


Aku terbangun oleh suara gedoran pintu kamarku, dengan mata yang masih terasa sangat berat aku melangkah menuju pintu, aku melirik jam dinding yang menunjukan pukul empat dini hari.


" Siapa?" tanya ku sebelum membuka pintu dan menekan telingaku ke pintu untuk mendengar suara si tamu dengan jelas.


" Dave! " jawab suara di luar.


" Ini! " dia menyodorkan tiket kapal yang bertuliskan keberangkatan pukul tujuh kepadaku.


Aku tercengang melihat kertas yang sekarang sudah berada di tanganku, dari bentuknya aku yakin ini bukanlah tiket yang dipalsukan.


" Jangan bilang, anda semalaman mencari tiket ini?" Ujarku dengan wajah tidak percaya.


" Ya ngak mungkinlah, anda pikir saya gila?" jawabnya sambil terkekeh.


" Bukankah begitu? "


" Saya mau mengantarnya tadi malam, hanya saja saya pikir anda sudah tertidur "


" Lalu kenapa jam sekarang anda antar? Memangnya anda pikir saya tidak tidur?" tanyaku dengan senyuman kesal.


" Apa!?"


Dia menatap ku tidak percaya, kemudian terkekeh beberapa saat.


" Jadi anda mau tiketnya atau tidak?"


" Ah, tentu saja, tunggu sebentar!"


Aku kembali ke dalam kamar mengambil satu kepingan koin emas.


" Terima kasih " ucap ku sambil memberikan satu koin emas tersebut kepadanya.


" Tapi alangkah baiknya jika anda membangunkan saya jam setengah enam nanti!" tambahku sambil menguap.


Dia kembali tertawa sambil melambaikan tangan dan pergi meninggalkan kamarku.


' Nah, sekarang aku punya dua tiket, yang jam sepuluh ini mau aku apakan?'


' Sudahlah, yang terpenting sekarang aku sudah satu langkah menuju kesuksesan rencana ku'


Aku meletakan kedua tiket itu di meja dekat tempat tidur, kemudian menarik selimutku untuk melanjutkan tidurku.


*********


Suara hiruk pikuk pelabuhan terdengar melegakan, beberapa anak-anak menjajakan koran, sebagian lain menjual bunga dan beberapa pedagang menawarkan dagangannya dengan bersemangat.


Aku memperbaiki kerudung jubahku sampai menutupi wajahku sepenuhnya, berjalan dengan waspada menyusuri keramaian pasar pelabuhan, aku menghindari beberapa prajurit yang tengah berpatroli. Aku menghindari sikap yang mencolok, tiap kali para prajurit melewatimu aku akan berpura-pura jadi pembeli di stand-stand pedangan di pinggir jalan.


" Buah segarnya nona" ujar pedagang itu, aku melambaikan tangan sambil mengatakan tidak terima kasih.


Aku memandang pelabuhan yang berjarak lima puluh meter dari ku, pertanyaannya adalah bagaimana melewati prajurit di tangga tempat menaiki kapal, walaupun petugas pelabuhan yang bertugas menangani cek in, tapi si prajurit juga berjaga- jaga disana.


' Mudah-mudahan mereka tidak mengenali wajahku'


' Haruskah aku membelakangi mereka?'


' Nah, itu akan sangat mencolok'


' Giman ini? Masak perjuangan ku cuma sampai di sini?'


' Atau aku menyerah aja kali ya? Mungkin dia masih akan berbaik hati mengampuni ku dan mungkin hukuman ku bakal di peringan'


' Tapi...'


Aku menggaruk kepalaku, menarik napas dalam-dalam, aku ragu antara lanjut atau kembali. Aku sadar apapun pilihan yang aku ambil, aku tidak akan bisa lari dari konsekuensinya.


' Mari kita coba saja, kita tidak akan pernah tau kalau tidak di coba'


Aku memantapkan niatku melangkah menuju tempat cek-in, berharap semua berjalan lancar sampai tujuan ku.


" Okay, silahkan " kata si petugas, sebelum masuk ke kapal aku melirik si prajurit yang berjaga, mereka menatapku hanya saja mereka membiarkan ku lewat begitu saja.


" Apa-apaan, ternyata akunya saja yang terlalu memikirkan, mereka bahkan tidak mengenaliku" ujarku sambil tertawa menuju kabin tempat duduk ku.


Aku membuka pintu dengan perasaan gembira, aku tidak menyangka rencanaku bisa berjalan dengan mulus tanpa kendala, dan para ksatria yang mengejar ku juga tidak ada yang menemukan ku.


'Yesssssss berhasil!' pikirku sambil tersenyum girang memasuki kabin.


" Permisi " ujarku sambil meletakkan barang ku di rak tanpa melihat penumpang lain di kabin itu.


" Haaah..." Aku duduk dengan perasaan lega dan melepaskan tudung jubahku dan menyandarkan tubuhku ke kursi dengan santai.


" Jadi... Apa kau sudah puas main petak umpet nya?" Ujar si penumpang itu menatapku sambil tertawa mengejek namun matanya dengan dingin menatap ke arahku.


Saat itu juga aku menyadari satu hal, lari!.