
" Apa kau bepergian sendirian?" tanyanya dengan nada datar.
" Ah, tentu saja tidak, saya terpisah dari rekan-rekan saya karena sebuah keadaan Tuan" jawabku berbohong namun aku berusaha memperlihat wajah sepolos mungkin.
Wajah pria tersebut berubah menjadi cerah, dengan tersenyum dia turun dari tempat duduknya dan mengatur barang bawaannya.
" Naiklah, anda tidak perlu membayar!" ucapnya kepadaku.
' Syukurlah dia percaya', pikirku sambil mengurut dada kemudian membalas senyumannya lalu naik atas kereta tanpa atapnya tersebut.
" Jadi anda hendak kemana Nona?" tanyanya saat kereta itu sudah berjalan.
" Saya hendak ke Kapital, apakah ini masih daerah kekuasaan Grand Duke Dagaras, Tuan?" tanyaku dengan ragu-ragu.
" Benar, bagian paling Timur dari wilayah Dagara, tidak banyak desa yang berada di sekitar sini, jika anda bertanya begitu artinya anda seorang pengembara, benar begitu?"
" Begitulah Tuan" jawabku sambil tersenyum.
" Apa yang membawa anda ke Kapital?"
" Saya hendak mendaftar ke fraksi dua belas zodiak!"
" Hmmm benar, masa depan akan lebih cerah jika anda bisa bergabung dengan mereka, tapi saya tidak bisa memberi tumpangan sampai Kapital".
" Tidak apa-apa Tuan, anda sudah sangat membantu saat ini".
Dia terkekeh sesaat kemudian dengan nada bersahabat di kembali melanjutkan percakapannya.
" Desa saya tidak jauh dari sini, anda bisa beristirahat sebentar disana lalu ikut dengan rombongan pedagang yang hendak ke Kapital, mereka pasti dengan senang hati menerima anda, dan juga anda pasti tau bukan sebentar lagi perayaan ulang tahun kerajaan Dakota, tentu saja banyak yang akan ke Kapital untuk merayakannya."
" Terima kasih Tuan!"
Kereta yang aku tumpangi memakan waktu setengah hari untuk sampai di desa yang dia maksud, desa tersebut terlihat makmur dengan penduduknya yang saling mengenal satu sama lain, pria yang memberiku tumpangan itu mengenalkan ku dengan Marko, pemimpin rombongan yang hendak pergi ke Kapital.
Marko sangat ramah dan baik hati, dia juga mengenalkan ku dengan keluarganya dan meminta putrinya yang hampir seumuran dengan ku untuk membantu segala keperluanku.
Keesokan hari kereta rombongan Marko pergi ke Kapital bersama-sama, kami melakukan perjalanan menggunakan kereta kuda karena tidak ada seorang pun yang memiliki scroll teleportasi dan kalaupun ingin menggunakan portal teleportasi, hanya awakener yang mampu membuka portal tersebut.
Perjalanan ke Kapital memakan waktu beberapa hari namun karena mereka sangat ramah dan bersahabat, aku tidak memiliki kesulitan di sepanjang perjalanan.
" Sebentar lagi kita akan sampai di gerbang, kita akan istirahat dulu semalam disini!" tegas Marko.
Semua rombongan mengikuti perintahnya dan segera menuju penginapan terdekat, aku tidak ingin pergi duluan walaupun Kapital sudah di depan mataku, aku tidak ingin mereka berpikir bahwa aku adalah seorang yang tidak tau terima kasih.
" Sisi, Mari kita antar barang ke kamar sebelum turun untuk makan malam" ujar Sabrina yang merupakan putri Marko.
Aku menganggukkan kepala dan mengikutinya menaiki tangga menuju kamar kami, Sabrina anak yang ramah dan ceria, dia selalu mengajak ku berbincang supaya aku tidak merasa seperti orang asing di tengah-tengah kelompok mereka, tanpa menghabiskan waktu yang lama, aku dan Sabrina sudah menjadi sangat dekat.
Setelah kami meletak barang-barang di kamar, aku mengikuti Sabrina kembali ke bawah, di sana ibunya melambaikan tangan dari meja di pojok ruangan, Sabrina menarik tanganku untuk bergabung dengan mereka.
" Tahun ini akan banyak para gadis yang akan patah hati" celetuk seorang pria yang duduk di meja sebelah kami.
" Kenapa?" tanya temannya dengan penasaran.
Aku menggeser dudukku ke dekat mereka supaya aku bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas, wajahku terasa memerah karena aku tidak tau kalau Zurich tengah sibuk mempersiapkan pernikahan kami.
' Apa-apaan ini? apa dia berniat memberikan kejutan kepada ku? itulah mengapa dia tidak mengizinkan ku datang ke Kapital, ternyata dia romantis juga'
Aku berusaha menahan senyumku karena aku tidak mau orang yang ada di hadapanku mencurigai identitasku, dan orang di samping kami masih membahas tentang pesta pernikahan Zurich dan akhirnya pembahasan mereka sampai para arak-arakan fraksi dua belas zodiak yang akan di adakan dalam dua hari mendatang.
' Aku penasaran bagaimana reaksi Zurich saat dia melihat ku disini, apa dia akan langsung berlari memelukku dan mengatakan kalau dia sangat merindukan ku?kyaaa..... oh my god aku sudah tidak sabar untuk sampai ke Kapital'
" Apa anda sakit Nona Sisi? wajah anda sangat merah" ujar istri Marko kepada ku.
Sabrina yang tengah asik makan menoleh ke arahku dan segera menyentuh kening ku untuk memastikan aku demam atau tidak.
" Ah aku tidak apa-apa, wajah ku merah karena disini terasa sangat panas" jawabku berusaha menyembunyikan wajah ku yang bersemangat dan tersipu malu.
" Iya, badan tidak panas kok Bu" tambah Sabrina meyakinkan wanita tersebut.
" Mungkin anda kelelahan, makan lah pelan-pelan lalu kembali ke kamar untuk istirahat lebih awal, besok kita akan berangkat lebih pagi agar kita bisa sampai di Kapital sebelum arak-arakan di mulai" uap wanita itu kepada.
Aku menganggukkan kepala kemudian segera makan sebelum pamit kembali ke kamarku, sesampai di kamarku aku segera duduk di atas ranjang, jantung berdetak sangat cepat membayangkan pertemuanku dengan Zurich nantinya.
" Ah..akhirnya aku bisa bertemu kembali dengan mu, aku benar-benar merindukan mu" gumamku sambil menatap ke arah kalung yang di berikan Zurich kepadaku.
Aku menghempaskan tubuhku ke atas kasur, membayangkan pertemuanku dengan Zurich dan ekspresinya yang kaget sekaligus bahagia tersebut akan menambah suasana reuni kami menjadi sangat berkesan.
" Aku tidak percaya dia menyiapkan pesta pertunangan tanpa mengabari ku, kyaaa....."
Aku tersipu malu dan menutup wajahku dengan kedua tanganku, senyuman bahagia tidak menghilang sedikitpun dari wajahku, saking semangatnya aku bahkan tidak bisa tidur walaupun aku sudah memejamkan mata dan malam juga terasa sangat panjang.
Paginya rombongan segera beranjak menuju Kapital, wajahku memancarkan wajah cerah berseri, aku menyapa semua orang di rombongan dengan senyuman manis, aku benar-benar tidak mampu menyembunyikan kebahagiaanku.
" Anda terlihat sangat bahagia Sisi, apa ada kabar baik yang baru saja anda dengar?" tanya Sabrina kepadaku.
" Apa terlihat terlalu jelas?" tanyaku sambil memegang pipiku dengan kedua tanganku.
" Jelas sekali, anda bahkan tidak seceria ini kemarin"
" Kau benar, aku memang mendengar kabar yang sangat mendebarkan" jawabku sambil tertawa cerah.
" Saya senang melihat anda begitu ceria seperti ini, kalau begitu apakah anda mau menonton arak-arakan bersama saya? sekalian kita berkeliling untuk menyaksikan perayaan"
Sebenarnya aku ingin menolaknya karena aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Zurich namun karena keluarganya sudah banyak membantuku aku pun menyetujui ajakannya.
Kami sampai di Kapital saat perayaan sedang berlangsung, suasana di sana lebih ramai dari biasanya, banyak dekorasi-dekorasi yang menghiasi jalanan dan juga banyak para pedagang yang berjualan begitu juga dengan warga yang menikmati acara tersebut.
" Ayo sebelah sini Sisi, kita bisa melihat komandan fraksi dua belas zodiak dengan jelas dari sini!" ujar Sabrina seraya menarik tangan ku ke arah kerumunan penonton.
Aku mengikutinya sambil melihat kearah dimana Emperor yang memimpin arak-arakan akan muncul, para penduduk bersorak-sorai walaupun arak-arakan nya belum dimulai sehingga suasananya terasa sangat meriah.
" Aku datang kesini karena ingin melihat Grand Duke Dagaras, tapi siapa yang menyangka Pria tampan nan dingin itu akan segera menyelenggarakan pesta pertunangannya bertepatan dengan selesainya acara perayaan ulang tahun kerajaan" keluh seorang gadis di sebelahku kepada temannya.
" Mungkin sebentar lagi, hari pertunangannya akan dinobatkan sebagai hari patah hati nasional" jawab teman di sebelahnya.