
" Iya deh, si paling kaya tapi hidup numpang ke orang lain" jawabku berjalan mendahuluinya namun dia menarik pinggang ku ke dekatnya karena sebuah kereta kuda yang melaju sangat cepat hampir menabrak ku.
" Kau gila ya? kalau jalan pake mata jangan pake dengkul !" ucapnya dengan keras kepada ku.
" Ah, terima kasih Zeju" jawabku sambil mengurut dada.
" Jangankan kabur dari Zurich, kau akan mati duluan karena kecerobohan mu itu".
" Er... oke tapi bisakah kau melepaskan tangan mu dari pinggang ku? kita jadi tontonan orang-orang nih" ucapku dengan senyuman canggung.
Dia memerah saat menyadari tangannya masih di pinggangku kemudian segera melepaskan ku dan dengan canggung dia membuang muka dariku, aku tertawa melihat reaksinya yang polos itu.
" Hei Zeju, kenapa kau tersipu malu begitu? apa kau belum pernah memegang perempuan sebelumnya?"
" Kau mau mati ya? bukan urusan mu!" jawabnya melangkah meninggalkanku yang masih tertawa .
" Zeju... tunggu!" teriak ku setengah berlari mengejarnya.
Kami menyusuri jalanan tempat dimana banyak para pedagang yang tengah menjajakan barang dagangannya, ada banyak orang asing yang singgah disana untuk sekedar berwisata atau untuk melakukan bisnis perdagangan.
Keadaan kota terlihat baik-baik saja pasca serangan dan sepertinya tidak banyak kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan itu dan para penduduk tampaknya telah melupakan serangan yang telah terjadi karena terlihat dari suasana pelabuhan yang sibuk seakan tidak pernah terjadi apapun disana.
" Kenapa kau berkeliling di sini?" tanya Zeju saat kami sampai di jembatan penghubung dua sungai yang mengalir kelaut.
" Tentu saja karena aku mau menghindari Miss Castella!"
" Gadis yang punya aura seperti ular itu?" tanyanya.
Aku melihat ke arahnya dengan heran, Zeju sangat jarang mengomentari seseorang, dia bahkan terkesan apatis terhadap apapun itu, aku juga tidak tau rencana apa yang ada di kepalanya dan mengapa dia memilih untuk tetap berada di sampingku walaupun dia mengatakan kalau dia sudah mulai pulih, dia tidak pula mengatakan sakit apa yang di deritanya bahkan dia tidak mengizinkan ku untuk sekedar memeriksa denyut nadinya.
" Bagaimana bisa kau melihatnya seperti itu? orang-orang pasti bakal mengira dia adalah wanita cantik yang baik hati, aku bahkan berpikir seperti itu saat pertama melihatnya!"
" Baik hati apanya, di lihat dari manapun dia seperti satu sen koin yang bermuka dua dan tak berharga!"
Aku terkekeh mendengar ucapannya, aku tidak heran dengan setiap ucapan pedas yang keluar dari mulutnya, tapi bukan berarti dia adalah orang yang jahat, terkadang kita lebih baik berhati- hati dengan orang yang menunjukan keramahan kepada kita di bandingkan orang yang terang-terangan menunjukan ketidak kesukaannya kepada kita.
" Lihat kesana, mereka memakai pakaian yang sama seperti yang kau pakai, apa mereka juga bangsa siluman?" tanya ku menunjuk ke arah beberapa orang yang baru turun dari kapal.
" Aku rasa tidak, mereka adalah ras manusia dari daerah selatan!"
" Tapi bagaimana bisa kalian memiliki gaya berbusana yang sama?"
Dia membelakangi pemandangan pelabuhan itu dan memandang jauh ke arah kastil Zurich, dia diam untuk beberapa saat kemudian menoleh ke arahku namun hanya kepalanya saja sedangkan badannya masih di posisi yang sama.
" Dunia kami sebenarnya seperti dunia replika dari tempat manusia tinggal, kami memiliki budaya bahkan bahasa yang hampir sama dengan kalian, dahulu saat perang terjadi membuat pembatas dengan dunia manusia hancur, itulah mengapa muncul portal penghubung antara wilayah monster dan manusia".
" Sama hal nya dengan kalian, kalau manusia di bagi menjadi penduduk bagian utara, selatan, barat dan utara dan setiap wilayah memiliki ciri khas masing-masing bukan? sedangkan di wilayah kami di bagi menjadi wilayah monster, siluman, elf dan kurcaci dan terkadang juga sering terjadi perang antara kami".
Aku menganggukkan kepala tanda mengerti.
" Jadi di wilayah kalian ada monster yang tidak mengganggu dan membuat kerusakan?"
Belum sempat Zurich menjawab pertanyaanku, sebuah suara menghentikan pembicaraan kami.
" Wow siapa ini?"
Kami menoleh ke sumber suara tersebut, disana terlihat Castella dan Zurich berjalan mendekat ke arahku.
" Apa Miss Sisilia tengah berkencan? " tanyanya dengan senyuman yang menghias wajahnya, namun jelas sekali kalau itu adalah pertanyaan sarkas mengingat Zurich ada di sampingnya.
Aku melihat ke arah Zeju yang pura-pura tidak tau dengan kehadiran mereka, ini adalah pertama kalinya Zeju bertemu Zurich dalam wujud manusianya, aku menarik lengan bajunya, mengisyaratkan dia untuk memberi salam kepada mereka, namun Zeju tidak bergeming.
" Apa yang kau lakukan disini?" tanya Zurich setelah dia menerima salam ku, dia tampaknya tidak terlalu memperdulikan tindakan Zeju, namun suaranya datar dan dingin.
" Ah bukankah saya tadi sudah bilang kalau mau jalan-jalan sambil melihat pemandangan kota kepada anda Yang Mulia?", jawabku.
" Oh ayolah Grand Duke, mereka sedang bersenang-senang, sebaiknya kita lanjutkan saja diskusi kita" ujar Castella sambil menggandeng lengan Zurich.
Zurich tidak bergerak, dia masih menatap kami dengan tajam, tatapannya dingin dan menurutku sangat menyeramkan, lalu dia mendekat dan mengulurkan tangannya kepada Zeju.
" Perkenalkan saya Zurich Dagaras" ucapnya sambil tersenyum yang terkesan di paksakan.
Zeju terperanjat, dia menoleh ke arahku sesaat kemudian menjabat tangan Zurich dengan senyuman yang di paksakan juga.
" Chyou Fengying!"
" Nama anda terdengar seperti nama bangsawan dari daerah selatan, apa anda berasal dari negara Sui?" tanya Zurich, dia masih belum melepaskan tangannya, alih-alih dia menggenggam tangan Zeju dengan sangat keras.
" Anda memang jeli Sir, apa anda adalah suaminya Miss Sisilia?" tanyanya masih tersenyum, kali ini dia membalas genggaman Zurich dengan keras juga.
Zurich tidak menjawab dan hanya tersenyum miring.
Aku melirik Castella beberapa saat, walaupun suasananya terlihat cerah dan menyenangkan namun aku dan Castella dapat merasakan suasananya menjadi tegang, aku melihat kearah mereka saling bergantian, setelah beberapa menit akhirnya mereka melepaskan tangan masing-masing.
" Lalu anda siapanya Sisilia?" jawab Zurich balik bertanya.
" Yah bisa di bilang hubungan kami sangat dekat" jawabnya dengan senyuman penuh makna.
" Ap... Apa yang kau katakan?" ujarku setengah berbisik sambil menarik lengan baju Zeju.
Aku bisa melihat wajah tidak senang yang terukir di wajah Zurich saat dia melihatku bersama Zeju dan sekarang Zeju juga mencoba untuk memprovokasinya.
' Apa kelinci sialan ini gila? kenapa dia mengatakan seolah-olah aku dan dia memang punya hubungan spesial?'
" Dekat seperti apa maksud anda?" tanya Zurich masih dengan senyumannya namun matanya menatap ku dengan tajam dan mengisyaratkan ku untuk melepaskan lengan baju Zeju yang aku pegang.
" Seperti yang anda pikirkan" jawabnya dengan tenang.
" Oh my god, Miss Castella, coba lihat disana, toko kue itu sangat rame, apa anda pernah ke sana? kalau anda tidak sibuk mau minum teh sebentar?" tanya ku dengan suara keras berusaha menghentikan ketegangan yang terjadi antara Zeju dan Zurich.
Mereka menoleh ke arahku, aku dengan tawa canggung menunjuk ke arah bangunan yang tidak jauh dari tempat kami berada, Castella menatapku dengan tajam.
' Apa yang sedang kau rencanakan?' begitulah kira-kira arti dari tatapannya.
Aku membalas menatapnya, ' Kita harus mencairkan suasana sebelum suasananya menjadi lebih tegang lagi'.
' Kenapa aku harus bekerja sama dengan mu?'
' Tentu saja supaya saya bisa memberikan waktu kepada anda untuk berduaan dengan Grand Duke!'
Dia berhenti sejenak kemudian melirik Zurich yang masih bersitegang dengan Zeju.
" Ah Miss Sisilia memang jeli, bukankah akan menyenangkan jika kita ngobrol sambil minum teh? saya juga penasaran dengan tuan tampan kenalan nona Sisilia ini, tapi kalau berlama-lama berdiri di sini rasanya penduduk sekitar akan merasa tidak nyaman" ucap Castella kepada mereka.
Dalam hatiku aku memuji gadis cantik itu walaupun sikapnya yang tidak sefrekuensi dengan ku namun setidaknya dia mampu memahami apa tujuanku dan dalam hal pemilihan kata untuk membujuk seseorang dia sangat bagus dan juga lebih bisa meyakinkan pendengarnya.