
hari mulai berganti minggu. acara lamaran Clara dan Arjun akan segera di laksanakan esok pagi.
Clara sedang sibuk menyiapkan segala serba serbi acara. ia pun menyiapkan surat undangan untuk para tamu.
"sepertinya seru! jika aku mengundang Rindu. " terlintas dalam fikiran Clara untuk mengundang Rindu.
Ia pun tersenyum dan berencana akan memberikan undangannya secara langsung.
"kamu akan segera patah hati, Rindu. " ujarnya.
sementara Arjun. ia masih terjebak dengan perasaan Cintanya terhadap Rindu.
"aku belum bisa melupakan mu Rindu, tapi kau sudah mampu hidup tanpa ku! ". ucap Arjun.
Arjun lebih memilih tak masuk kantor hari ini. ia tak ingin melihat kemesraan antara Rindu dan juga Candra. karna dirinya belum sanggup.
Arjun meraih ponselnya dan menelpon seseorang.
[hallo, Rina. untuk saat ini saya tidak bisa datang ke kantor! ]. Ucap Arjuna.
[baik, pak. ] Ucap Rina.
Arjun pun mematikan teleponnya. Arjun, duduk di sebuah kursi sembari memandang Foto Rindu di ponselnya.
"terkadang, takdir memang lucu. tuhan, memisahkan kita ketika aku mencintaimu dengan tulus. kenang-kenangan, yang aku lalui bersamamu masih aku simpan hingga kini. walau kau sudah berhasil melupakan diriku, tapi aku yakin, kau belum sepenuhnya bisa melupakan diri ini! ". gumam Arjun.
Arjun merasa miris dengan hidupnya sendiri. mengapa selalu hidupnya yang di permainkan oleh takdir dan juga keadaan. tak bisakah, tuhan berbaik hati padanya.
"tuhan, aku tahu kau tidak tidur, maka dari itu. aku mohon satukan hatiku dan hati Rindu! aku mencintai dirinya dengan segenap jiwa dan ragaku. " ucap Arjun.
Arjun berharap, tuhan bisa menyatukannya dengan Rindu dikemudian hari. walau hal itu tak mungkin terjadi. namun sebagai manusia, Arjun hanya bisa berharap dan berdoa pada sang pencipta.
"aku sungguh tak berdaya dengan semua ini! aku merasa sebagai manusia yang kurang beruntung di dunia ini. " gumamnya.
Arjun, merasa di tampar habis-habisan oleh keadaan. di paksa memilih hal yang tak di kehendakinya dan di tenggelamkan oleh lautan penyesalan.
"andaikan saja aku manusia biasa, maka aku takan berada di posisi sulit ini, tanpa harus memilih apa yang tidak aku sukai dan aku berhak menentukan takdirku sendiri."
kini Arjun merasa tak berarti. ia menjalani hidup dengan rasa hambar dan sunyi. tak ada kebahagiaan di dalamnya. hanya ada kesunyian dan kehampaan jiwa.
sementara Clara, kini dirinya mulai masuk kerja kembali. mungkin ia akan bekerja Sampai hari dirinya menikah dengan Arjuna.
ia sengaja masuk kerja, hanya untuk memberikan undangan pada karyawan kantor dan juga Rindu.
Clara mulai menyebarkan undangannya pada seluruh karyawan kantor. ia pun akan memberikannya pada Rindu.
"Rindu, ini surat undangan saya dan juga Arjun. kami akan melaksanakan lamaran secara resmi esok pagi! ". ucap Clara.
Clara menyimpan undangan tersebut di atas meja kerja milik Rindu.
Rindu yang sedang duduk pun menatap mata Clara.
ia mengambil undangan tersebut dan membacanya.
engagement
Ajuna Pratama
and
Clara ayuni putri.
hati Rindu bagaikan tersayat sembilu, perih menjalari hatinya, ada rasa sesak dalam dadanya. mata rindu mulai berkaca-kaca, namun sebisa mungkin ia menahan air matanya, agar tidak jatuh.
"tuhan, kuatkan aku! ". gumam Rindu dalam hatinya.
Clara tersenyum senang melihat keadaan Rindu. ia tahu saat ini Rindu tengah menahan air matanya. ia tahu Rindu sedang terluka.
"ya, sudah Rindu! aku pergi dulu, ya. " Ucap Clara. ia pun menuju Ruangannya.
Clara, sengaja pergi. ia memberi waktu untuk Rindu menangis dan bersedih.
Rindu tak menjawab ucapan Clara. sesak dalam dadanya begitu amat perih. Ternyata kebersamaannya selama ini, hanya Arjun anggap sebuah permainan. ucapan Cinta yang dulu, Arjun katakan adalah sebuah bualan semata.
tak terasa air mata Rindu mentes membasahi undangan tersebut.
"tega sekali kamu, Mas! dasar laki-laki, semuanya sama saja. mereka hanya bisa mengucapkan kata cinta. tapi itu semua hanya bualan! ". ucap Rindu.
Candra menghampiri Rindu, ia terlihat begitu khawatir pada keadaan Rindu.
"Rin, kamu kenapa nangis? ". Ucap Candra.
"nggak, ko. siapa yang nangis? aku cuma kelilipan doang! ". ucap Rindu, ia hanya mencari alasan.
Candra tak sengaja melihat sebuah undangan beratas namakan Arjuna dan Juga Clara. Candra, bisa menebak bahwa Rindu menangis sebab undangan tersebut.
"kamu menangisi Arjun? ". ucap Candra dengan nada dingin.
Rindu menggeleng lemah, namun Candra tahu! Rindu tengah berbohong.
tanpa kata lagi, Candra segera berlalu dari hadapan Rindu sembari membawa surat undangan di tangannya.
"ini semua pasti ulah Clara? ". gumam Candra.
Candra berjalan menuju ruangan Clara. ia pun membuka pintu dengan kasar dan berjalan menghampiri Clara, Clara terlihat sedang sibuk dengan komputernya.
Clara begitu kaget dengan kedatangan Candra yang tiba-tiba.
"Dwi, mau apa kamu kesini? ". ucap Clara.
Candra atau Dwi, ia menghampiri Clara dengan raut wajah yang merah padam, bak kepiting rebus.
Candra melempar undangan yang Clara berikan pada Rindu.
"apa maksudmu? ". ucap Dwi dengan geramnya.
Clara meraih undangan tersebut dan Melihatnya.
"dari mana kau dapatkan ini? ". Clara heran dari mana Dwi bisa mendapatkan undangan tersebut.
"tidak penting aku tahu dari mana! yang jelas aku tahu semuanya. diam-diam kau akan melakukan lamaran dengan Arjun. wow, kau hebat! bisa memanipulasi semuanya." Dwi oun bertepuk tangan di sertai senyum mengejek.
Clara di buat melongo oleh ucapan Candra. ia tak mengerti arah pembicaraan Candra.
"apa yang kau katakan? ". ucap Clara heran.
"aku tahu, tentang tanda itu. kau hanya memanipulasinya, kan? dan pemilik tanda itu adalah Rindu. " ucap Candra.
Clara melotot ke arah Candra, ia pun mencoba menelan salivanya dengan susah payah.
"dari mana candra tahu kebenaran ini? ". gumam Clara dalam hatinya.
"jangan mengada-ada kau, Dwi! ". Teriak Clara marah.
Dwi Pangga, hanya bisa tertawa mendengar Ucapan yang dilontarkannya oleh Clara.
"hahaha, aku tidak salah dengar, kan? kau memang siluman berwujud manusia, yang pandai berubah-ubah dan memanipulasi, Clara! ". ucap Dwi.
"jangan asal bicara kau, Dwi. tunjukan padaku, apa buktinya! ". teriak Clara marah
"kau mau bukti, baiklah! akan aku kabulkan. "
Dwi berjalan menghampiri Clara, ia pun mengulurkan tangannya dan menyentuh leher Clara.
"hentikan, apa yang akan kau lakukan? ". Clara berusaha menepis tangan Dwi.
"bukankah, kau ingin bukti? ". ujarnya.
Dwi pun berhasil menyentuh leher Clara dan menggosok-gosok tanda yang berada di leher Clara.
Clara yang lanik setengah mati pun berusaha menepis tangan Dwi dari lehernya. namu. aksinya gagal.
"hentikan, Dwi! " teriak Rindu marah.
Dwi, hanya tersenyum miring melihat reaksi dari Clara.
"lihatlah, Clara. tanda itu memudar! kau telah membohongi Arjun dan semua orang. " ucap Dwi.
Clara pun marah dan mendorong tubuh Dwi hingga tersungkur ke lantai. ia pun berlalu pergi dari hadapan Dwi.
sementara Dwi, ia hanya bisa tersenyum dan puas. karna bisa membongkar kebohongan Clara.