BUKAN MANUSIA

BUKAN MANUSIA
EPISODE 107 #AKHIR SEBUAH CERITA ARJUN, ARYA DAN RINDU


Rindu terkapar lemah tak berdaya di lantai, tubuhnya penuh dengan cairan warna merah. Tembakan yang di sebabkan oleh Arya membuatnya tak bisa bertahan cukup lama.


Sementara Arya dan Arjun mereka berdua saling menyalahkan satu sama lainnya.


"Ini semua gara-gara kau, Arjuna! " Teriak Arya.


"Justru ini semua gara-gara kau, Arya. Kau yang telah menembak Rindu! " Sanggah Arjun.


Mereka berdua saling beradu argumen, mereka tak ingin kalah. Mereka sama-sama keras kepala.


Tanpa menunggu lagi, Arjun segera berlari menuju Rindu. Arjun bersimpuh di hadapan Rindu seraya meraung. " Rindu, Rindu!! " Ucap Arjun seraya menepuk-nepuk pipinya pelan.


Arya pun menghampiri Rindu yang saat ini berada di pelukan Arjun, lantan Arya memeriksa denyut nafas dan juga nadinya.


Arya mengggeleng lemah. " Tidak, ini semua tidak mungkin! " Ucapnya lirih.


Arjun melirik Arya dengan tatapan heran. "Katakan. Apa yang terjadi pada Rindu? " Tanya Arjun.


Arya tak menjawab ucapan Arjun, justru Arya menangis seraya bersimpuh di hadapan Rindu.


Arjun yang kesal karna Arya tak merespon ucapannya, lantas memeriksa nafas Rindu. Namun nihil, Rindu sudah tak lagi bernyawa. " Rindu!! " Teriak Arjun.


Arjun terus mengguncang tubuh Rindu, berharap Rindu kembali dan membuka matanya. Namun semua itu hanya perbuatan percuma.


"Bangunlah, Rindu. Aku sungguh mencintaimu! " Ucapnya di telinga Rindu.


Sayang, Rindu tak dapat mendengar ataupun merespon ucapan Arjun. Semuanya telah terlambat, Rindu telah pergi untuk selama-lamanya.


Arjun menyugar rambutnya seraya menangis sejadi-jadinya, sekali lagi Arjun harus menerima kenyataan pahit ini. Kenapa, tuhan tidak adil padanya? Kenapa?


"Bangunlah, aku mohon!! " Ucapnya lirih.


Arya sama kacaunya dengan Arjun, ia juga merasa bersalah sebab karna dirinyalah Rindu harus meregang nyawa.


"Rindu, bangunlah!! " Ucapnya.


Arjun melirik ke arah Arya lantas berdiri seraya mengepalkan kedua tangannya. Arjun maju dan menghampiri Arya, kemudian meraih kerah bajunya.


"Hentikan sandiwara mu, Arya. Aku muak mendengarnya!! " Ucap Arjun marah.


Arjun marah sebab ini semua adalah kesalahan Arya. Ya, hanya Aryalah yang bersalah dalam hal ini.


"Kau puas bukan? " Ucap Arjun.


Arya tak menjawab sama sekali ucapan Arjun, ia tahu bahwa dirinya bersalah dalam hal ini. Tapi ini semua bukan di sengaja.


Arjun melayangkan sebuah pukulan tepat di wajah tampan Arya, Arya sama sekali tak membalas pukulan Arjun. Arya membiarkan Arjun melampiaskan amarahnya.


Hingga akhirnya Arjun lelah memukuli Arya, lantas ia terduduk tak berdaya. "Tuhan! kenapa kau ambil Cintaku, hidup ku dan juga nafasku? Kenapa? " Teriaknya.


Arjun merasa bahwa tuhan sungguh tidak adil padanya. Tuhan selalu memisahkannya dengan orang-orang yang dia sayangi, termasuk Ibu, Ayah dan kini Rindu.


Entah bagaimana hancurnya perasaan Arjun saat ini yang jelas Arjun benar-benar hancur. Raganya seolah tak bernyawa, hidupnya sudah tidak ada artinya lagi. Mungkin akan lebih baik baginya jika harus pergi dari dunia yang begitu kejam ini.


"Mungkin akan lebih baik jika aku mati, agar tuhan tak lagi menghukum kesalahan yang tidak pernah aku lakukan! " Ucap Arjun frustasi.


Arjun hanyalah seorang manusia yang lemah, ia bisa menangis dan juga bersedih. Berkali-kali duka menghampiri Arjun, namun tak pernah sekalipun kebahagiaan menghampirinya. Apakah Arjun tak pantas bahagia?


"Apakah takdir selalu ingin aku terluka dan terluka saja? " Ucapnya putus asa.


Hidupnya hancur, ini semua karna sang Papa. Arjun harus kehilangan segalanya, kini tuhan memberikan hukuman untuk sesuatu yang tidak pernah Arjun lakukan.


Saat Arjun tak tahu harus bagaimana, akhirnya Arjun meraih sebuah pisau yang berada meja lantas berusaha melukai lengannya dengan pisau tersebut, namun Arya berusaha merebutnya. "Jangan gila kau, Arjun. Apa yang ingin kau lakukan? " Tanya Arya seraya berusaha merebut pisau tersebut.


"Lepaskan tanganmu! Aku ingin mati. Aku sudah tak sanggup untuk hidup. Aku lelah! " Ucap Arjun.


Namun Arya masih bersikeras untuk merebut pisau itu dari tangan Arjun. Keduanya bersikeras mempertahankan pisau itu, hingga akhirnya pisau itu menancap di perut Arya.


Arya merintih kesakitan seiring darah yang keluar dari perutnya. Arya memegangi perutnya yang terkena pisau tersebut.


"Arjun! " Ucapnya lirih.


Arjun menggeleng. "Tidak, aku tidak mungkin membunuh mu! Arya, maafkan aku!! " Ucap Arjun menyesal.


Arya hanya tersenyum. "Mendekatlah! " Titahnya.


Arjun mendekat dan bersimpuh di hadapan Arya. " Arya, kau harus bertahan. Aku akan panggil ambulance untukmu! " Ucap Arjun seraya hendak berdiri, namun tangannya di cekal oleh Arya.


Arya menggeleng. " Ti-tidak usah, Arjun. Waktu ku takan lama lagi! " Ucapnya terbata.


Arjun menggeleng. " Tidak, kau tidak boleh mengatakan itu! " Ucap Arjun.


Arya sudah tidak kuat lagi, nafasnya mulai terasa sulit. " A-arjun! maafkan atas kesalahanku di masa lalu. Aku telah membunuh Ibumu, Papa dan juga Rindu. Aku minta maaf. Aku ingin kau tetap hidup dan bertahan demi Ma-mario. Jika bukan kau siapa yang akan menjaganya? Aku harap kau mau memaafkan aku! Aku menyayangi kaliaann.... " Ucapnya terbata, usai mengatakan hal itu lantas Arya menghembuskan nafasnya.


Arjun menangis di hadapan jasad Arya. "Apa lagi ini, Tuhan? Tidak puaskah kau melihatku menderita? " Teriak Arjun.


Ingin rasanya Arjun mengakhiri hidupnya saat ini juga, namun mengingat amanah dari Arya ia mengurungkan niatnya. Arjun berjanji akan menjaga dan merawat Mario dengan baik, ia akan menjadi Ayah sekaligus Ibu untuk Mario.


"Aku berjanji akan menjaga Mario dengan baik demi kalian! " Ucap Arjun.


Selama ini Arjun lupa menghargai kehadiran mereka semasa hidup, hingga tuhan mengajarinya sebuah arti kehilangan hingga Arjun merasa dunianya benar-benar runtuh seketika. Arjun lupa bahwa kematian itu ada dan nyata, namun Arjun lupa tak pernah mengungkapkan isi hatinya pada Rindu maupun Arya.


"Maaf, aku terlambat mengatakan ini padamu, Rindu. ketahuilah aku sungguh mencintaimu hingga detik ini. Untukmu Arya, aku sangat menyayangimu seperti saudara kandungku sendiri! Maaf untuk setiap masalah yang selalu aku timbulkan dalam hidup kalian! " Ucapnya di hadapan jasad keduanya.


Kehancuran demi kehancuran mulai dirasakan oleh Arjun, ia sudah lelah dengan permainan takdir yang selalu tuhan berikan untuknya. Akankah tuhan memberikan Arjun sebuah kebahagiaan? Atau justru kepelikan yang Arjun dapatkan?


Hingga akhirnya Arjun, Arya maupun Rindu. Mereka tak bisa lagi bersatu ataupun saling memiliki.


Mereka bertiga di pisahkan oleh sebuah takdir yang mengharuskan mereka berpisah untuk selamanya.


Arjun harus menelan pil pahit atas segala peristiwa yang terjadi. Apartemen miliknya menjadi saksi atas kematian Arya dan Rindu.


Di sini, di tempat ini segala kepahitan harus terjadi dan merenggut kebahagiaan Arjun. Arjun harus merelakan segala yang terjadi dan mengikhlaskan segalanya.


Arjun tak akan pernah lupa bahwa selama ini ada Rindu, Ibu dari Putranya dan Arya yang merupakan Saudara sekaligus penyelamat dalam hidupnya, kala ia tak ada.


Arjun bersimpuh di pusara Arya dan Rindu lantas menaburkan bunga di pusara keduanya seraya mengucapkan terimakasih, lantas Arjun pergi dari pusara keduanya.


Pada Akhirnya kisah ini harus berhenti sampai disini. Ingatlah, sebuah kematian itu pasti akan terjadi pada setiap makhluk yang bernyawa. Hargai sebelum pergi, jaga dan sayangi mereka yang masih ada bersamamu sebelum tuhan mengajari mu arti kehilangan.