
Dua jam kemudian, kini mereka semua sudah berada di bandara, terlihat puluhan anak buah mereka kini berbaris rapi, untuk sekedar melepas kepergian sang pemimpin. Tiga orang pria kini berdiri didepan Kavindar sambil membahas sesuatu.
" Semua sudah sesuai rencana Tuan" ucap salah seorang dari mereka yang bernama Ardi.
" Lakukan yang terbaik Ardi" ucap Kavindar menepuk bahu tangan kanannya itu.
" Ardi, Roger, Agra... saya menyerahkan tanggung jawab ini sama kalian" ucap Kavindar membuat mereka mengangguk.
" Baik tuan" jawab mereka serempak sambil membungkuk.
Sedangkan Kavindar, berjalan mendahului mereka menuju tangga pesawat, terlihat Alvin dan yang lainnya sudah berada di dalam pesawat tersebut.
Alvin terus menatap kearah luar jendela, mengamati setiap sudut yang pernah dia lalui.
..._____ _____ _____ _____...
Kini Kavindar, Sandi, Elang dan Dion sedang berkumpul diruangan Kavindar. Sementara Alvin mereka tinggal karena sedang tertidur dikamar pribadinya.
" Siapkan semua keperluan Alvin, kita harus waspada terhadap revolusi Alvin" ucap Kavindar membuat Sandi mengerutkan keningnya.
" Maksudnya paa" tanya Sandi bingung.
" Didalam kitab leluhur, dijelaskan bahwa sebelum umur Alvin 17 tahun, dia akan mengalami revolusi tiga hari sebelum hari itu tiba" jelas Kavindar.
" Lalu bagaimana perkembangan Mansion disana Sandi" tanya Kavindar kembali.
" Papa tidak perlu cemas, semuanya sudah Galih siapkan, keamanan serta kelengkapan yang kita perlukan sudah mereka sediakan" Jelas Sandi membuat Kavindar mengangguk.
" Bagaimana dengan perkembangan kamu Di" tanya Kavindar.
" Sejauh ini bagus Oppa, hanya kadang aku masih perlu ramuan Ayah untuk menenangkannya" jelas Dion.
Elang yang mengerti maksud Kavindar, berpindah posisi yang tadinya dipojok kini duduk dihadapan Kavindar.
" Oppa berharap kamu terus disamping Alvin, Lang.. setidaknya mereka tidak sampai mencurigai Alvin" ucap Kavindar membuka suara.
" Oppa tidak perlu cemas, Elang akan selalu jaga Alvin Sampai dia bisa mengontrol dirinya " jawab Elang mantap.
" Bukan berarti kamu melupakan keselamatan kamu sendiri Lang" ucap Kavindar mengingatkan.
" Oppa tidak perlu cemaskan itu, aku sendiri tidak akan keberatan menyerahkan nyawaku demi Alvin" ucap Elang mantap.
" TIDAK.. kamu tidak perlu melakukannya, mau bagaimana pun, keselamatan kamu juga penting" tegas Kavindar membuat Elang menunduk. "Kamu juga cucuku Elang..." sambungnya membuat Elang semakin menunduk.
" Tapi aku berbeda Oppa.. aku terlahir dari klan yang berbeda, tapi dengan tangan terbuka kalian menerimaku, tidak ada yang bisa aku lakukan selain mengabdi kepada kalian" ucap Elang membuat Kavindar mengangguk paham.
" Ada satu rahasia lagi yang belum Oppa ceritakan Elang" ucap Kavindar membuat Elang mendongak menatap Kavindar.
Kamar
" Kenapa gua mimpi itu sih, dan siapa dia" gumam Alvin mengacak rambutnya frustasi.
" Siapa dia, kenapa mukanya gk keliatan" sambungnya kembali mengingat ingat mimpinya tadi, dimana dia melihat wanita itu diikat disebuah kursi, terlihat pula dua orang sedang berkelahi dengan wajahnya yang menyeramkan ditemani taring yang menghiasi Wajah keduanya. Alvin terkejut ketika melihat wajah salah satu dari mereka sama persis dengan wajahnya. Terlebih mata yang berwarna Kuning seperti menyerupai mata hewan.
" Arrggh... Bomat" kesal Alvin membaringkan tubuhnya sambil mencoba menetralkan perasaannya. Dengan Perlahan Alvin memejamkan matanya, namun nihil bayangan wanita itu justru kembali mengelilingi kepalanya.
" Arrggh sial.. sial.. sial..." kesal Alvin kembali terbangun. Wajahnya tampak sekali menggambarkan keterkejutannya.
TBC.....