BUKAN MANUSIA

BUKAN MANUSIA
episode 44


setelah pemakaman pak yogi selesai. Arjun merasakan hal yang sama dengan Arya. ia pun merasa kehilangan papanya. namun, ia tak terima karna papanya lebih menyelamatkan arya, dari pada nyawanya sendiri. Arjun akan menuntut dendam pada Arya. bagaimana pun ini adalah kesalahan arya.


"kau harus mati ditanganku, arya! ". Arjun meremas foto papanya dan membuangnya ke tempat sampah. amarah Arjun belum jua reda, ia masih menyimpan dendam terhadap arya.


Arjun merebahkan dirinya di atas kasur. ia begitu lelah seharian ini. ia ingin menenangkan diri. lantas arjun mengunci dan penutup seluruh pintu dan juga jendela.


"andai papa tak pasang badan untuk iblis itu. mungkin saat ini papa masih disini, dan iblis itu yang mati! ". gumam arjun, kebencian arjun terhadap arya sudah mendarah daging. hingga sulit melupakannya.


"dasar iblis! kau pembunuh, arya! pembunuh. ". ucap arjun dengan marah.


mata arjun tak bisa terpejam walau sudah lama ia terbaring di atas kasur. namun matanya sulit sekali di ajak berkompromi. hingga arjun memutuskan untuk membuka tirai kamarnya, arjun hendak menuju balkon kamarnya.


tiba-tiba ada sebuah bayangan. di belakang arjun. sontak saja arjun menoleh ke belakang. namun tak ada siapapun, ketika arjun hendak menoleh ke depan. tiba-tiba arwah Rio datang di hadapan arjun.


hal tersebut membuat arjun terkejut dan berteriak.


"aaaaaaahhh, pergi kau dari sini! ". ucao arjun.


"kau jahat, arjun! ayo, kau ikut denganku! ". ucao arwah Rio, Rio mulai mendekat ke arah Arjun. sontak saja arjun mundur beberapa langkah.


"pergi, bukankah kau sudah mati. untuk apa kau mengganggu ku? ". teriak arjun.


Rio terus berjalan ke arah Arjun. semakin dekat, dan mulai dekat. hingga akhirnya.


brug.. !


arjun tersungkur ke lantai. ia menutupi wajahnya dengan tangannya. sambil meracau.


"pergi dari sini! pergi! ".


"arjun.. arjun! bangun, nak ". tiba-tiba bu wina yang mendengar arjun meracau, segera masuk dan menepuk-nepuk pipi arjun.


arjunpun terbangun dari mimpi buruknya. arjunpun bisa bernafas dengan lega. ternyata itu semua adalah mimpi.


"syukurlah! ". gumam arjun


"kamu kenapa, Arjun? ". bu wina duduk ditepi ranjang dan memandang cucu satu-satunya.


"nggak ppa ko, nek! ". ucap arjun berbohong.


"yaudah nenek tinggal ke bawah ya! nenek mau buatkan kamu makan malam. " Arjun mengangguk dan bu wina pun pergi dari kamar arjun.


sebelum benar-benar pergi, bu wina menoleh ke kamar Arjun. namun tak ada yang aneh disana. mungkin Arjun saat ini tengah terpukul dengan kepergian papanya, pikir bu wina.


"mimpi tadi seolah-olah nyata, aku bisa dibuat gila gara-gara ini! ". gerutu arjun, ia pun bangun dari ranjang dan segera masuk kedalam kamar mandi. ia ingin membersihkan dirinya.


setelah berpakaian, arjun pun menuju lantai bawah. karna anggota keluarga yang lain tengah menunggunya. ia pun turun dan duduk di dekat neneknya.


makan malam kali ini terasa begitu sunyi. arjun hanya mengaduk-aduk makannya, tanpa mau menyentuhnya.


"jangan di mainin aja makanannya, sayang lho! ". bu wina memperhatikan gerakan arjun.


Arjun tak berselera makan, hingga ia menyimpan sendok di piring makan yang belum sama sekali ia sentuh. arjun hendak berdiri dan pergi dari meja makan.


tiba-tiba langkah arjun terhenti oleh sebuah ketukan didepan pintu utama. arjun mengerutkan dahinya heran, siapa yang bertamu dijam segini.


"siapa yang bertamu? ". gumam arjun, ia pun segera menuju pintu utama dan membuka pintu. namun tak ada siapapun disana.


"dasar, orang tak ada kerjaan! ". ucap arjun, ia hendak melangkah masuk ke dalam rumah. namun, arjun tak sengaja melihat sebuah paket, tepat di depan pintu.


"siapa yang mengirim paket? ". arjun mengambil paket tersebut dan membawanya masuk kedalam. didalam paket tersebut tertera untuk dirinya.


bu wina yang sudah selesai makanpun melirik ke arah arjun yang tengah membawa sebuah paket di tangannya.


"paket dari siapa, Arjun? ".


setibanya arjun di kamar, ia pun penasaran dengan isi di dalam paket tersebut. Arjun segera mengambil gunting dan perlahan membuka paket tersebut.


"aaaakkhh ". Arjun berteriak dan melemparkan paket tersebut ke sembarang arah.


"bagaimana mungkin? kemeja ini sama persis dengan yang aku gunakan saat itu. tapi, bukankah aku sudah membakarnya bersama jasad Rio. " gumam arjun setelah melihat isi paket tersebut.


paket tersebut berisikan sebuah kemeja putih, yang persis dengan yang arjun pakai saat menghabisi Rio! bahkan terdapat noda darah di kemeja tersebut.


"siapa, yang berani mempermainkan ku? siapa yang tau soal pembunuhan itu? apa dia Arya? akkkhhhh, sialan! ". ucap arjun marah, sembari berdiri dari posisi duduknya.


sementara seseorang, tengah mengawasi Arjun dibalik sebuah jendela dekat kamar Arjun.


"perlahan tapi pasti".


ia telah berhasil, membuat Arjun begitu marah sekaligus ketakutan.


ia telah menyusun skenario untuk membuat Arjun kacau.


"bagus, sebentar lagi rencana ku akan berjalan lanacar! ". ucap seseorang di balik jendela. ia terus memperhatikan gerak gerik Arjun.


ia sudah tau soal pembunuhan yang dilakukan oleh Arjun. ia sengaja meneror Arjun, agar mental Arjun terganggu.


"ku pastikan, sebentar lagi kau akan di kirim ke rumah sakit jiwa, Arjun pratama! ". ia tersenyum miring, sebelum pergi meninggalkan Arjun.


besok ia akan membuat sebuah kejutan yang akan mengguncang Arjun. ia tahu kelemahan Arjun. ia akan membuat Arjun tersiksa jiwa maupun batinnya.


"aku tak sabar menunggu hari esok! ". sesekali seseorang itu melirik ke arah kamar Arjun, sebelum ia benar-benar pergi.


teror demi terus ia lakukan untuk mengguncang jiwa Arjun.


hari demi hari, ia terus mengirim paket ke rumah Arjun.


bukan paket biasa, ia mengirim paket yang berisikan sebuah ancaman dan juga benda-benda aneh.


walau arjun tidak percaya dengan semua itu. namun jika terus menerus, bahkan sampai setiap hari. arjun di pastikan akan kehilangan akal sehatnya.


seperti saat ini, Arjun mendapatkan sebuah paket, yang berisikan sebuah boneka berdarah dengan kepala terpisah, dan sebuah pesan disana.


"lebih baik kau mati, Arjun! " sebuah pesan terselip di dalam boneka.


sontak saja hal tersebut membuat Arjun ketakutan dan juga tertekan. karna hampir setiap hari terror itu datang.


"aaahhhh, hentikan! ". teriak Arjun, ia pun terjatuh ke lantai sembari menutup kedua telinganya dan menutup matanya.


"arjun, kamu kenapa nak? ". bu wina yang melihat Arjun begitu ketakutan, segera menghampiri sang cucu.


"jauhkan benda itu, nek! ". ucap arjun sembari menunjuk kotak paket.


"kamu tenang dulu ya, Arjun! ". ucao bu wina berusaha menenangkan cucunya.


bu wina segara mengambil isi paket dan ia melihat isi di dalamnya. ia pun sama takutnya dengan Arjun. ia segera membuang paket tersebut ke tong sampah.


"lagian siapa sih yang ngirim paket kayak gitu". gumam bu wina


bu wina segera kembali ke dalam rumah, ia takut Arjun kenapa-kenapa. sebelum bu wina sampai di hadapan Arjun, Arjun telah lebih dulu melukai tangannya sendiri.


tak berapa lama kemudian, darah segar mulai mengalir dari tangan arjun. bu wina yang begitu ketakutan pun segera membawa Arjun ke rumah sakit.


beruntung, Arjun masih bisa selamat. bu wina bergerak cepat membawa Arjun ke rumah sakit.


namun, keadaan mental Arjun sedang tidak baik-baik saja. ia terlihat begitu murung dan juga tertekan.


"sepertinya cucu anda begitu tertekan. mentalnya begitu terguncang, hingga mengakibatkan ia seperti itu". tutur dokter tentang kondisi Arjun.