
Saat ini Arjun tengah berada di kantornya, Arjun sangat sibuk dengan segudang pekerjaan yang menguras otak dan waktunya.
Arjun juga harus di tuntut untuk selalu on time dalam setiap kesempatan, Arjun memaklumi kewajiban dan tanggung jawab yang harus ia jalani.
"Kerja, kerja! " Ucapnya menyemangati diri sendiri.
Jika boleh memilih Arjun ingin menjadi orang biasa saja, namun apa daya ia di lahirkan dan di takdirkan menjadi seorang yang harus bertanggung jawab penuh atas keberlangsungan perusahaannya.
"Jika aku boleh memilih, rasanya aku ingin menjadi mereka yang hidup sederhana tanpa beban berat di pundaknya. Yang bebas berkelana kemana pun ia inginkan, tidak seperti aku yang harus sibuk bekerja dan bekerja saja. Ups! " Ucapnya, hampir saja Arjun mengeluh dengan keadaan ini.
Bagaimana tidak!
Menjadi seorang CEO tidaklah mudah, Arjun harus bisa berfikir dengan kreativ dan memiliki fikiran yang luas. Arjun juga selalu di tuntut untuk selalu disiplin dan juga on time.
"Andai aku terlahir dari orang biasa, mungkin saat ini aku menjani hidup dengan bebas tanpa mengemban tanggung jawab yang berat ini! " Gumamnya.
Arjun adalah satu-satunya pewaris Yogi Pratama, sehingga mau tak mau Arjun harus menjalani tanggung jawab ini. Arjun adalah Putra tunggal dari Novitasari dan Yogi Pratama. Jika bukan Arjun, lalu siapa yang akan memimpin perusahaan Pratama Grup. Hal itulah yang menjadi pertimbangan Arjun, sehingga Arjun menuruti keingin kedua orang tuanya untuk berkuliah di bidang bisnis.
"Jika bukan kau, lalu siapa lagi Arjun? " Ucap Yogi kala itu.
"Kan ada Mama, ada Papa! " Sahut Arjun.
"Jika Mama dan Papa tiada? " Ucap Yogi.
"Ya, ya. Baiklah. Aku mau! " Ucap Arjun kala itu.
Akhirnya Arjun meneruskan pendidikannya di sebuah perguruan tinggi ternama, ia mengambil bidang bisnis.
Saat fikiran Arjun sedang sibuk berkelana, tiba-tiba ponsel miliknya bergetar. Arjun meraihnya dan mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo! Mam. Ada apa? " Ucap Arjun, sesaat sambungan telepon berlangsung.
"Papa. Arjun! " Sahut Novi seraya terisak.
Arjun menjadi cemas dengan isakan sang Ibu pun, lantas berdiri. " Hallo, Ma. Ada apa ini? Kenapa, Mama menangis? " Tanya Arjun cemas.
Terdengar helaan nafas disebrang sana. " Papamu. Masuk rumah sakit! " Jawabnya.
Sontak saja Arjun membulatkan matanya. " Apa! Masuk rumah sakit? Kenapa? " Tanyanya.
Namun bukannya mendapatkan jawaban, justru Novi kian menangis membuat Arjun tak tega dan tak bisa berfikir dengan jernih.
"Oke. Mama tunggu disana! Aku akan segera ke rumah sakit. Mama tenang dan jangan cemas! " Ucap Arjun.
Sesat kemudian Arjun menutup panggilan teleponnya, lantas membereskan berkas-berkasnya. "Ah, ada-ada saja! " Gerutunya.
Selesai membereskan berkas-berkasnya, lantas Arjun bergegas menuju lobi. Namun tiba-tiba ia tak sengaja menabrak Clara.
"Sorry, sorry! Saya tidak sengaja. " Ucapnya seraya memandang Clara.
"Tidak apa! " Sahut Clara.
Arjun bergegas menuju mobilnya, dan melajukannya dengan cepat.
Clara memandang kepergian Arjun. " Sepertinya dia sedang terburu-buru! Kira-kira ada apa, ya? " Gumam Clara.
30 menit kemudian, Arjun telah sampai di halaman rumah sakit, lantas Arjun segera masuk ke dalam ruang inap Papanya.
"Ma! " Sapanya, sesaat sampai di ruangan.
Novi menoleh dan menghambur ke pelukan Putranya. " Arjun! " Panggilnya.
Arjun membalasa pelukan Ibunya, ia membiarkan Ibunya menangis di pelukannya sembari berusaha menenangkannya. "Mama yang tenang, ya! Papa pasti baik-baik saja. " Ucap Arjun.
Setelah di rasa situasi mulai tenang, Arjun melerai pelukannya. " Katakan padaku. Siapa orang yang tega melakukan ini pada Papa, Ma? " Tanya Arjun.
Novi menggeleng. "Mama tidak tahu, Arjun! " Jawabnya.
"Apa saingan bisnis Papa? " Tanyanya lagi.
"Mama rasa tidak mungkin, sebab Papa tidak memiliki musuh! " Sahut Novi.
Ya, memang benar apa yang di katakan oleh Novi bahwa Yogi tidak memiliki musuh, namun kenapa ada orang yang tega melakukan hal ini pada Yogi.
Arjun menghela nafasnya, bagaimana ia bisa mencari pelakunya. Sementara ia sendiri tidak memiliki bukti ataupun petunjuk sama sekali.
Kejadian ini memang sangat aneh, Arjun dibuat bingung dengan ini semua. Kemana Arjun harus mencari pelakunya? Ini semua bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami!
Arjun terlihat mengepalkan kedua tangannya, ia harus dapat menemukan pelaku itu secepatnya. Arjun tidak akan tinggal diam!
"Bagaimana caranya? " Gumamnya, tiba-tiba Arjun teringat dengan seorang teman yang biasa mencari informasi.
"Pasti dia bisa membantuku! " Ucap Arjun.
Arjun meminta izin pada Novi untuk keluar sebentar, Arjun ingin menghubungi temannya.
Lantas Arjun merogoh ponselnya dan menekan nomor temannya. " Hallo! Aku ingin kau mencari tahu siapa dalang dari semua yang terjadi pada Papaku! " Ucap Arjun.
"Baiklah, Arjun. Aku akan mencarinya untukmu! " Sahutnya di seberang telepon.
Arjun mengakhiri panggilannya, dan berjalan menelusuri koridor rumah sakit. Kemudian, Arjun tak sengaja bertemu dengan seseorang yang dia kenal.
"Pak Arya! " Sapanya.
Arya menoleh, dan menghampiri Arjun. " Pak Arjun! Apa kabar? " Ucapnya.
"Siapa yang sakit, Pak? " Tanya Arjun.
Arjun mengira ada saudara atau kerabat Arya yamg sedang di rawat di rumah sakit ini.
"Hanya korban tabrak lari! " Sahutnya.
Arjun mengangguk. " Baiklah. Aku kira ada keluarga mu yang di rawat di sini! " Ucap Arjun.
"Tidak! Anda sendiri sedang apa disini? " Tanya Arya.
"Papa sedang di rawat disini! " Sahut Arjun.
Tanpa Arjun sadari, Arya ternyum puas ke arah Arjun. Namun Arya berpura-pura tidak tahu apa-apa.
"Oh, baiklah. Jika begitu saya permisi! " Pamit Arya, lantas ia berjalan meninggalkan Arjun.
Arya pergi melangkah pergi seraya tersenyum miring.
Arjun pun pergi menuju kantin rumah sakit, sedari tadi ia lupa mengisi perutnya dengan makanan.
Arjun memesan sesuatu untuk sekedar mengganjal perutnya, sembari menunggu pesanannya datang Arjun mencoba mengirim pesan pada Rindu.
"Hallo, selamat siang! Apa kabarmu, Rindu? " Tulis Arjun.
Centang biru, tak lama kemudian terlihat Rindu sedang mengetik.
Tring..
Pesan masuk ke gawai Arjun. " Siang! Kabarku baik, bagaimana denganmu? " Balasnya.
"Kabarku juga baik! Apa aku mengganggu mu? " Tulisnya.
"Tidak! Santai saja. " Balasnya.
Arjun takut mengganggu waktu Rindu.
Setelah beberapa saat saling mengirim pesan, akhirnya Arjun segera kembali ke ruangan Papanya.
"Kau habis dari mana, Arjun? " Tanya Novi, sesaat Arjun tiba.
"Luar! " Sahutnya singkat.
"Apa kau menemukan siapa pelakunya? " Tanya Novi.
Arjun menggeleng. " Tidak. Bagaimana aku bisa menemukannya, sementara aku tidak punya petunjuk untuk hal itu. Tapi aku sudah menyuruh seseorang untuk menyelidikinya! Kita tunggu saja kabar dari dia. Semoga kita bisa menemukan pelakunya! " Ucap Arjun panjang lebar.
Novi mengangguk, dan ia pun berharap semoga pelakunya segera di temukan. Novi ingin tahu siapa pelaku dari ini semua. Orang dalamkah atau musuh dari saingan bisnis Suaminya?
Bagitu pula dengan Arjun, ia merasa aneh dengan semua ini. Jika memang saingan bisnis, mengapa hanya Yogi yang menjadi sasarannya? Entahlah ini semua baru fikiran Arjun.