
Dahulu Yogi pernah mencintai Arum dengan sangat dalam, bahkan Yogi sempat melupakan Novi dan juga keluarganya, namun seiring berjalannya waktu Yogi tersadar, ia pun ingin kembali pada kelurganya.
"Aku mencintaimu, tapi aku tak bisa selalu ada di sini untukmu! " Ucap Yogi.
Arum menatap wajah Yogi, ia mencari penjelasan tentang ucapan Yogi. "Apa maksudnu? Apa kau akan meninggalkan aku? " Tanyanya.
Yogi memalingkan wajahnya, kemudian kembali memandang Arum. "Maaf, Arum. Sebenarnya aku sudah memiliki istri! " Ucap Yogi jujur.
Duaaarr...
Dunia seakan runtuh bagi Arum, ia tak menyangka jika Pria di hadapannya telah membohongi dirinya. Arum sangat mencintai dan menyayangi Yogi sepenuh hati, ia telah menyerahkan jiwa dan raganya hanya untuk Yogi. Tapi beginikah balasan yang harus ia dapatkan?
"Kau pembohong! Kau pendusta! " Teriak Arum seraya mundur beberapa langkah.
Yogi menundukan wajahnya, ia pun merasa bersalah pada Arum. " Maafkan aku! " Ucapnya lirih.
Arum tak ingin mendengar penjelasan ataupun pembelaan Yogi atas semua ini. Hingga akhirnya Yogi pergi meninggalkan Arum, sesaat Yogi mengetahui bahwa Arum bukanlah manusia.
"Ternyata kau bukan manusia, Arum! " Ucap Yogi tak percaya.
Kali ini Yogi dibuat terkejut oleh kebenaran tentang Arum. Ia tak menyangka bahwa wanita yang telah ia nikahi merupakan jelmaan siluman.
Seberapa kerasnya Arum menyanggah hal itu, namun kenyataan sudah terungkap. Yogi sudah mengetahui bahwa Arum bukanlah manusia.
Hingga akhirnya Yogi pergi meninggalkan Arum sendiri. Hal itu tentu saja mengisahkan luka dan derita pada diri Arum, namun sebisa mungkin ia menepisnya.
Hingga beberapa bulan berlalu, tanpa Arum sadari ternyata dirinya tengah berbadan 2 dan itu adalah anak dari Yogi.
Gejala orang hamil mulai di rasakan oleh Arum, hingga ia merasa lemas dan tak berdaya. "Apa aku hamil? " Tanyanya pada diri sendiri.
Ternyata benar apa yang di bayangkan oleh Arum bahwasanya ia sedang mengandung, namun ia juga bimbang kemana harus mencari Yogi.
"Kemana aku harus mencarimu, Mas? Apakah kau akan menerima ku? " Gumamnya.
Arum tahu Yogi tidak akan menerima dirinya, oleh sbeba itu ia memilih menjalankan masa mengandungnya seorang diri.
Bulan demi bulan ia lalui, hingga akhirnya usia kandungan Arum sudah menginjak 9 bulan. Itu artinya sebentar lagi ia akan segera melahirkan Putra Yogi.
Beberapa hari berlalu, perut Arum mulai terasa mulas rasanya ia ingin melahirkan. Arum segera pergi ke tempat biasa orang-orang disana melahirkan.
"Tolong, tolong Saya! " Teriak Arum di sertai rintihan.
Seorang Nenek tua menghampiri Arum dan membawanya masuk ke dalam gubuk miliknya.
"Sepertinya kau akan melahirkan! " Ucap Nenek tua.
Arum hanya merintih kesakitan. "Tolong! " Teriaknya.
"Bersabarlah! " Sahut Nenek tua seraya mengelus perut Arum.
Hingga tiba waktunya Arum benar-benar merasakan kontraksi yang luar biasa, nampaknya ia akan melahirkan.
"Berbaringlah, dan mengejan! " Perintah Nenek tua.
Arum melakukan apa yang di perintahkan oleh Nenek tua tersebut.
Sekuat tenaga Arum mengejan dan mengeluarkan tenaga ektra untuk mengeluarkan sang jabang bayi.
"Dorong! " Ucapnya.
Dengan sekuat tenaga Arum berusaha, ia menaruhkan jiwa raganya untuk mengeluarkan bayinya. Hingga akhirnya seorang bayi mungil telah lahir.
"Bayinya laki-laki! " Ucap Nenek tua seraya memberikan bayi itu ke gendongan Arum.
Arum menerimanya dan memeluknya dengan sangat erat, ia pun tersenyum bahagia. "Kau akan ku beri nama Arya! " Ucapnya.
Beberapa hari berlalu sejak kelahiran Arya, tiba-tiba Arum mendapat serangan dari musuh yang tengah mengincar Arya kecil.
"Aku harus memberikan Arya pada Mas Yogi, sebelum mereka membunuh Putraku! " Ucapnya.
Arum terpaksa mencari keberadaan Yogi, hingga akhirnya ia bisa menemukannya. Ia pun memberikan Arya dan sebuah surat yang di tujukan untuk Yogi.
Beberapa tahun kemudian, saat Arum tahu Yogi menyerahkan Arya pada orang lain hatinya sangat marah dan kebenciannya semakin besar.
"Kurang ajar kau, Yogi. Beraninya kau memberikan Putraku pada orang lain! " Ucapnya marah.
Hati seorang Ibu mana yang tega melihat Putranya tak di akui oleh Ayah kandungnya, begitu pula yang di rasakan oleh Arum saat ini.
"Aku akan membalasmu! " Janjinya.
Hingga Arum mendapatkan kesempatan, saat itu perusahaan Yogi tengah benar-benar berada di ujung tanduk, ia pun menyamar menjadi seorang Pria untuk menunjukan kesesatan terhadap Yogi.
Yogi dan Arum pun melakukan sebuah perjanjian. Arum akan memberikan kekayaan yang tak terkira, sementara Yogi harus mengorbankan Putranya menjadi bagian dari para siluman. Tentu saja hal itu membuat Arum sangat bahagia.
"Ternyata mudah mengelabui manusia! " Gumamnya.
Memang benar manusia adalah makhluk yang paling mudah di tipu daya oleh siluman maupun setan. Hal itu pula yang terjadi pada Yogi.
Saat Yogi dan Novi mencari solusi dengan menggunakan Dukun, saat itu pula Arum datang dan membunuh sang dukun dengan perantara Arjun sendiri.
Beberapa tahun berlalu semenjak kemeninggalnya Bi Ijah, Arum memiliki kesempatan untuk masuk dan menyamar untuk mengasuh Arya.
"Ini adalah kesempatan ku untuk masuk ke dalam kehidupan Arya! " Ucapnya.
Arum pun telah berhasil masuk dan menjadi pengasuh bagi Arya, namun Arum sering kali mempengaruhi Arya agar membenci Yogi.
Ia sering mempengaruhi hal buruk pada Arya, sehingga Arya mudah terhasut dengan ucapan Arum.
Arum memalsukan identitas yang sebenarnya, ia telah merubah namanya dengan Arumi agar Yogi tidak curiga padanya.
Sebenarnya Arya adalah Anak yang baik sebelum bertemu dengan Arum, namun saat ada Arum kini Arya menjadi manusia jahat bahkan tak segan membunuh.
Arya yang memiliki emosi labil dengan mudahnya menerima hasutan Arum, ia menuruti semua perkataan Arum sehingga ia membenci Yogi.
"Kenapa kau jadi seorang Anak yang membangkang, Arya? " Ucap Yogi tak percaya, padahal dulu ia adalah seorang Anak yang baik dan penurut.
Arya membuang wajahnya. " Bukankah kau yang mengajariku begini? " Sahut Arya.
Yogi benar-benar tidak mengerti dengan ucapan Arya. " Apa maksudmu, Arya? " Tanyanya heran.
Arya tersenyum sinis. " Bukankah kau sudah bahagia bersama Istri dan keluarga barumu! " Ucap Arya.
"Bukan begitu, Arya. Papa hanya.. "
"Sudahlah, sebaiknya kau pergi dari sini! " Potong Arya seraya mengusir Yogi dari rumah, lalu Arya berlalu pergi menuju kamarnya dan meninggalkan Yogi yang masih mematung di tempat.
"Arya, dengarkan Papa!! " Teriaknya, namun Arya tak merespon atau pun berhenti.
Yogi mengira kemarahan Arya ini adalah kemarahan sementara, lambat laun Arya akan bisa menerima segalanya dengan mudah. Namun sepertinya Yogi telah keliru menganggap semuanya baik-baik saja.
Yogi terlalu santai menghadapi kemarahan Arya, tanpa ia sadari bahwa seseorang telah mempengaruhi Arya untuk membenci dirinya.