
Beberapa minggu kemudian, Cavin sempat sadarkan diri.
Ia sempat berpesan pada Arjun untuk berhati-hati dengan lawannya. " Ha-hati, Arjun! Lawanmu bukan sembarang!! " Ucapnya terbata.
"Siapa? " Tanya Arjun penasaran.
"A-aryaaaa..... " Setelah menyebutkan nama Arya tak berapa lama kemudian Cavin kembali tak sadarkan diri, dan Dokter mendiagnosa bahwa Cavin koma.
"Cavin, bangun!! Kau belum mengatakannya padaku. " Ucap Arjun sembari mengguncang tubuh Cavin.
Arjun keluar dari ruangan Cavin, belum sempat ia mengorek informasi dari Cavin, tapi kini Cavin telah koma. " Ya tuhan, apa lagi ini? " Gumamnya frustasi.
"Tapi tunggu, tunggu. Bukankah tadi Cavin sempat mengatakan Arya? " Gumamnya di sela fikiran yang kacau.
Ya, Arjun mengingat bahwa sebelum penembakan itu terjadi, Cavin pernah mengatakan bahwa Arya. Tapi Arya siapa?
Apakah Arya orang yang sama yang telah menembak dan Putra Yogi?
"Lebih baik aku selidiki semuanya sendiri!! " Gumamnya.
Arjun telah mengantongi nama targetnya, yaitu Arya Aditya Pratama. Nama itu terdengar tidak asing di telinganya.
"Apa dia Arya kolega bisnisku? " Tanyanya.
Fikiran mengenai Arya mulai melintas di benaknya, ia mengaitkannya dengan Arya yang merupakan rekan bisnisnya.
Nama Arya memenuhi fikiran Arjun, sepertinya ia harus mencari tahu siapa Arya yang di maksud oleh pembunuh Ibunya dan juga Cavin, sahabatnya?
Arjun akan menyelidiki Arya terlebih dahulu, siapa tahu Arya yang di maksud adalah Arya rekan bisnisnya.
Keesokan harinya, Arjun telah bersiap dengan kemeja birunya. Arjun akan memulai misinya mulai dari Arya.
Arjun sengaja lewat depan rumah Arya, kemudian dengan sengaja Arjun mengempeskan ban mobilnya sendiri. "Berhasil!! " Ucapnya senang.
Arjun berpura-pura mencari bantuan, hingga akhirnya ia bertemu dengan Arya di depan rumahnya. "Pak, Arjun. Kau! Sedang apa, Anda disini? " Tanya Arya saat melihat Arjun.
Arjun menoleh ke arah sumber suara. " Pak, Arya. Kau disini? " Arjun malah balik bertanya.
"Ya, memang ini rumah saya!! " Sahutnya.
"Oh, Kebetulan sekali. Tadi saya tidak sengaja lewat disini dan Ban mobil saya kempes!! " Ucap Arjun.
"Pasti akan lama itu, apalagi saya lihat Bannya bocor!! " Ujarnya.
Lantas Arya mengajak Arjun mengunjungi rumahnya, tentu saja Arjun menyetujuinya sebab ini adalah tujuan awal Arjun datang kemari.
"Mari masuk!! " Ajak Arya.
Arjun mengangguk dan sibuk menelisik setiap sudut rumah Arya, Arjun sempat terpana dengan instruktur bangunan rumah Arya.
"Arjun. Kau harus ingat, apa tujuan awalmu datang kemari? " Gumamnya.
Rumah Arya cukup bersih dan nyaman, tapi terasa sepi seperti tidak ada kehidupan di dalamnya.
"Apa, kau tinggal sendiri di rumah besar ini? " Tanya Arjun.
"Ya, aku tinggal sendiri! Dulu, aku tinggal bersama seorang pengasuh tapi sekarang sudah ku pecat! " Sahutnya seraya berjalan masuk.
Arjun mengangguk dan tak banyak bertanya, ia pun mengikuti langkah kaki Arya dari belakang.
Arya mempersilakan Arjun duduk di sofa ruang tamu, kemudian Arya pergi ke belakang untuk membuatkannya minuman.
"Saya tinggal ke belakang, sebentar! " Ucapnya.
Arjun mengangguk, ia hanya duduk sembari mengamati isi rumah Arya. " Aku yakin, disini ada sebuah petunjuk!! " Gumamnya dalam hati.
Sepertinya Arya akan lama berada di dapur, akhirnya Arjun memutuskan untuk bangkit dan mencari sesuatu yang bisa di jadikan bukti.
Arjun berjalan menyelinap, dan pelan-pelan agar tidak menimbulkan bunyi.
Arjun masuk ke dalam ruang kerja Arya, disana semuanya terasa normal-normal saja tak ada yang mencurigakan.
Yang menarik perhatian Arjun adalah sebuah figura yang terbalik di dinding, saat Arjun ingin membaliknya tiba-tiba Arjun mendengar derap langkah kaki seseorang. "Gawat! Itu pasti Arya? " Ucapnya.
Arjun segera kembali ke kursinya semula, agar Arya tak curiga padanya. Beruntung, Arjun tepat waktu.
"Minumlah!! " Titah Arya seraya menyodorkan segelas jus.
Arjun tersenyum seraya menikmati jus buatan Arya. "Terimakasih!! " Ucapnya.
"Maaf, saya jadi merepotkan Anda!! " Lanjutnya lagi.
"Siapa bilang kau merepotkan? Justru saya senang Anda kemari!! " Sahutnya.
Arya meminum minumannya, seraya melirik Arjun. "Aku yakin, kau datang kemari itu sengaja!! " Ucapnya dalam hati.
"Jika saya boleh tahu? Apakah orang tua anda masih ada? " Celetuk Arjun.
Arya melirik Arjun sekilas, lantas kembali memandang ke depan sembari menghela nafas berat. "sebenarnya, saya adalah seorang Broken home. Ibu dan Ayah pun saya tidak tahu!! " Sahutnya.
Arya tidak mungkin mengatakan pada Arjun bahwa Yogi adalah Ayahnya.
"Kenapa, begitu? " Tanya Arjun.
"Entahlah! " Sahutnya.
"Apa Ayahmu masih hidup? Maksudku, apakah dia ada disini? " Tanya Arjun.
Arya melirik Arjun. " Sudah ku duga. Kau pasti ingin mengetahui banyak hal tentang ku, Arjun!! " Ucapnya dalam hati.
"Ayahku sudah meninggal saat usiaku masih 5 tahun. " Sahut Arya berbohong.
Arya sengaja berbohong agar Arjun tidak semakin curiga padanya. Arya pun mengalihkan pembicaraannya ke arah lain.
"Bagaimana kondisi perusahaanmu, Pak Arjun? " Tanya Arya.
"Hebat! Perusahaan ku maju dengan pesat setelah bergabung dengan perusahaan mu, Pak Arya. " Ucap Arjun takjub.
Memang benar, semenjak Perusahaan Arjun dan perusahaan Arjun bekerjasama, kini perusahaan Pratama Grup maju dengan sangat pesat.
"O, ya. Syukurlah!! " Ucap Arya ikut senang.
Setelah berbincang-bincang cukup lama, akhirnya Arjun memutuskan untuk segera pulang sebab hari sudah mulai siang. Kebetulan mobil Arjun pun sudah selesai di perbaiki.
"Baiklah. Pak, Arya. Saya harus pergi!! " Pamitnya.
Arya mengantarkan Arjun sampai ambang pintu, kemudian Arjun masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan rumah Arya. " Sialan. Aku tidak mendapatkan apapun!! " Ucapnya kesal.
Arya masuk kembali ke dalam rumahnya, lantas bergegas pergi ke ruang kerjanya. Ia lupa belum sempat mengerjakan tugas kantornya yang sudah terbengkalai.
"Kenapa, foto ini sedikit berubah? Apa jangan-jangan Arjun datang kemari? " Ucap Arya seraya menyugar rambutnya.
Kecemasan mulai menghantu Arya, bagaimana jika Arjun mengetahuinya? Bisa-bisa ia gagal untuk menghancurkan Arjun.
"Aku harap dia tidak sempat melihat foto ini!! " Gumamnya.
Arya segera duduk di kursi kerjanya dan memulai pekerjaannya.
Arjun sedang mengemudikan mobinya, banyak pertanyaan dalam benaknya megenai Arya. Apakah Arya yang di maksud adalah Arya yang baru saja ia temui?
Arjun pulang ke rumahnya lantas menuju kamar Papanya.
"Pa, katakan siapa Arya?? " Tanya Arjun tanpa basa basi.
Yogi menoleh. " Ada apa? Kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu? " Sahutnya heran.
Arjun menghampiri Yogi dan menatapnya tajam. " Jangan berkelit! Aku tahu, Arya adalah Putramu dari siluman ular itu, bukan? " Ucapnya.
Deghhh....
Yogi kaget bukan kepalang, dari mana Arjun tahu mengenai Arya? Apakah Arjun diam-diam mencari informasi tentang itu? Banyak pertanyaan dalam fikiran Yogi saat ini.
"Apa maksud dari ucapanmu, Arjun? " Yogi malah balik bertanya.
Arjun tersenyum miring. " Jangan berpura-pura bodoh! Aku tahu yang sebenarnya terjadi. " Ucap Arjun.
Yogi membulatkan matanya, dan prasangkanya benar bahwa Arjun diam-diam menyelidi semua ini!!
"Ya tuhan, bagaimana dengan nasibku? " Gumamnya dalam hati.
Yogi tak tahu harus mencari alasan apa lagi, fikirannya benar-benar buntu saat ini.
"Kenapa diam? Cepat katakan!! " Gertak Arjun dengan nada tinggi.
Yogi membulatkan matanya, ia tak percaya bahwa Arjun telah berani membentak dirinya. " Sejak kapan? Kau berani membentak Papa, Arjun. Apa papa pernah mengajarkan mu seperti itu? " Tanya Yogi.
Arjun membuang wajahnya, memang benar Arjun tidak pernah membentak ataupun menentang Papanya. Ini adalah pertama kalinya Arjun berbicara dengan nada tinggi pada Yogi.
"Selama ini aku muak denganmu, Pa. Aku muak!! Kau telah menciptakan Boomerang dalam hidupku, dan kau telah mengkhianati Mama. Kemudian kau memiliki Anak lain dari wanita Siluman itu! Ck menjijikan. " Ucap Arjun dengan nada meledek.
Mendengar ucapan Arjun, emosi Yogi kian meradang. Kini Arjun telah berani menghina dirinya.
"Beraninya kau!!! " Teriak Yogi.
Plakkk...
Satu tamparan mendarat di pipi Arjun. Arjun menatap Yogi dengan tatapan marah, kemudian Arjun pergi meninggalkan Yogi tanpa sepatah katapun.