
hari ini, kebetulan Cindy sedang lewat di depan rumah Clara. ia pun memutuskan untuk mampir ke rumah Clara.
"bukannya, ini dekat rumah Clara, ya? " . Cindy berucap, sembari memegang dagunya.
Cindy pun akan datang ke rumah Clara, ia akan memberikan kejutan pada Clara. sengaja Cindy tak mengabari kedatangannya pada Clara.
Cindy, sudah sampai di depan rumah Clara. ia pun memencet bel yang berada tak jauh dari pintu.
ting.. tong.. ting.. tong!
Clara, yang tengah asyik menyantap makannnya pun terganggu oleh tamu, yang terus memencet bel.
"iiih, siapa sih yang bertamu? ganggu aja! ". gerutu Clara, sambil berdiri dan membuka pintu.
Clara terkejut dengan kedatangan sahabatnya, Cindy. ia pun melirik ke arah dapur yang tak jauh dari ruang tamu.
"eh, Cin! loe ngapain kesini? ". ucap Clara, sembari terlihat salah tingkah.
"gue gak sengaja lewat sini, terus gue kepikiran mampir ke rumah loe! ". ucap Cindy dengan santainya.
Cindy, pun hendak masuk. namun Clara bergegas menghalangi langkah Cindy.
"eh, Cin! mendingan loe tunggu aja dulu di luar. di dalam masih berantakan, belum gue beresin! ". ucap Clara dengan gugupnya.
"gak papalah, gue masuk! dari pada disini, panas. " ucap Cindy, sembari mengipasi wajahnya menggunakan telapak tangannya.
Cindy pun masuk ke dalam rumah Clara, Clara tak bisa menghentikan langkah Cindy.
"kenapa, tadi Clara bilang rumahnya berantakan? padahalkan bersih gini. " gumam Cindy dalam hatinya.
"yaudah, loe duduk aja disini! gue buatin loe minum, pasti loe haus kan? ". Clara berkata, sembari melenggang pergi menuju dapur.
Clara pun cepat-cepat menuju dapur dan segera membersihkan semuanya. ia pun lama terdiam di dapur.
"kenapa sih si Cindy pake kesini segala? ". gerutu Clara sembari membuatkan minuman.
sementara Cindy, kini dirinya tengah duduk di ruang tamu. ia pun menunggu Clara cukup lama.
"ko lama banget sih, si Clara? Aku nyusul aja deh ke dapur. siapa tau dia butuh bantuan? ". Cindy pun menyusul Clara ke dapur.
Cindy, begitu terkejut dengan pemandangan di depannya. ia munutup mulutnya dengan tangannya.
"ya tuhan, apa itu? ". ucap Cindy terkejut.
ketika Cindy hendak berbalik kembali ke ruang tamu. tiba-tiba, Clara melihat kehadiran Cindy di ambang pintu.
"Cindy? ". ucap Clara tak kalah terkejutnya.
Cindy terlihat salah tingkah, dan juga ketakutan.
"ii-itu apa, Clara? ". ucap Cindy, sembari menunjuk tumpakan sampah yang berisi tulang ayam yang masih berdarah.
Clara pun melirik ke arah yang di tunjuk oleh Cindy. ia pun terlihat gugup dengan pertanyaan Cindy. namun segera mungkin, Clara menguasi kondisinya.
"oh itu, tadi aku habis fillet ayam! ". ucap Clara memcari alasan.
"oh, aku kira kamu makan ayam mentah, hehe! ".
Cindy, akhirnya bisa bernafas dengan lega. ternyata fikirannya tentang Clara. tidaklah benar.
"nggklah, Cin! masa iya, aku makan ayam mentah! ". ucap Clara dengan sedikit kekehan.
"kali aja, Ra! ".
"udah ah, yuk masuk lagi ke ruang tamu! kebetulan minumannya udah jadi. " ucap Clara, sembari berjalan lebih dulu.
Cindy, mengikuti langkah kaki Clara dari belakang.
merekapun menuju ruang tamu, mereka bercakap-cakap cukup lama. banyak hal yang mereka bicarakan.
setelah beberapa saat kemudian, Cindy pun berpamitan untuk pulang.
"udah sore nih, Ra. aku pulang dulu, ya! ". ucap Cindy, sembari melirik jam tangannya.
"oke, aku anter kamu sampe depan pintu! ".
Cindy berjalan lebih dulu dan di ikuti oleh Clara dari belakang.
"bye, Ra! " . Cindy, melambaikan tangannya dan pergi menutup kaca mobilnya.
"bye! ". Clara pun melambaikan tangannya dan masuk kembali ke dalam rumah, setelah mobil Cindy melaju.
"untung saja, Cindy gak curiga tadi! ". ucap Clara, ia mengelus dadanya dan menghela nafas lega.
Clara pun menuju kamarnya di lantai atas, ia ingin mendengar suara Arjun. ia rindu sekali dengan calon suaminya tersebut.
Clara
tut.. tut.. tu..!
panggilan pun berdering, setelah beberapa saat menunggu. Arjun pun mengangkat Telepon daru Clara.
"hallo! ". ucap Arjun di seberang sana
"Hallo, pak Arjun. " ucap Clara dengan senangnya, karna akhirnya bisa mendengar suara Arjun.
"ada apa? ". Arjun berkata dengan nada malas, ia berharap Rindulah yang menghubungi dirinya.
"bisa kita bertemu malam ini? ". ucap Clara.
"maaf, Clara. aku tidak bisa! aku sedang sibuk. maaf, ya! ". ucap Arjun mencari alasan. padahal hari ini Arjun sedang Free.
"baiklah! ". ucap Clara dengan nada lesu dan sedikit kecewa.
"oke, aku tutup teleponnya. selamat malam! ". ucap Arjun mengakhiri teleponnya.
Clara menyimpan kembali Ponselnya di atas nakas. mengapa sikap Arjun masih sama kepadanya, padahal sebentar lagi mereka akan melangsungkan pernikahan.
"mengapa sikap mu masih saja seperti ini, Arjun? ". ucap Clara, ia menghela nafas berat.
namun dengan segera, Clara menepis fikirannya. karna misinya adalah bisa menikahi Arjun dan memiliki Arjun adalah sebuah bonus.
Clara pun masuk ke dalam kamar mandi, ia ingin membersihkan dirinya.
"lebih baik aku mandi saja! ". ucap Clara sembari berjalan menuju kamar mandi.
setelah beberapa menit kemudian, ritual mndi Clara pun selesai. ia keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk sebatas lutut.
"kau! untuk apa kau datang kembali? ". ucap Clara. kepada Dwi yang duduk manis di ranjang milik Clara, sembari membaca sebuah buku.
sontak saja Dwi tersenyum ke arah Clara, ia begitu takjub melihat pemandangan di depan matanya.
"hay, kau begitu menggoda! ". ucap Dwi sambil mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum penuh arti.
sontak saja, Clara yang diperhatikan sangat intens pun menutup belahan dadanya. Clara, melotot sempurna ke arah Dwi.
"dasar tidak sopan! ". ucap Clara.
"apakah seorang siluman harus sopan? ingat, sayang! kita bukan manusia, tapi kita adalah siluman. paham! ". ucap Dwi, ia pun bangun dari ranjang dan melangkah mendekati Clara.
"mau apa kau? jangan kurang ajar padaku! ". ucap Clara sembari menunjuk ke arah Dwi.
"tenang, mengapa kau begitu ketakutan. aku tidak akan berbuat jahat padamu! ".
tanpa menunggu aba-aba, Clara merubah wujudnya menjadi siluman Ular.
Sttt... stts.. stss.. !
Clara bersdesis, ia mulai menyerang Dwi dengan menggunakan ekornya. namun, Dwi sama sekali tak berasa gentar. ia malah senang bermain-main dengan Clara.
"untuk apa kau membuang-buang waktumu untuk melawanku, sayang! ". Dwi tersenyum sembari meladeni serangan Clara dengan tangan kosong.
Clara tak mendengarkan ucapan Dwi. ia terus saja menyerang Dwi, hingga tenaganya hampir habis.
namun, Clara sama sekali belum menyerah. ia terus saja menyerang Dwi.
Hingga akhirnya, Clara berhasil melilit tubuh Dwi dengan ekornya. ia melilit tubuh Dwi dnegan sangat kencang.
"lepaskan aku! ". ucap Dwi, ia mulai kehabisan nafas di buatnya.
"tidak akan aku lepaskan. lebih baik kau mati! ". ucap Clara, sambil terus melilit tubuh Dwi dengan amat kuat.
tak ada pilihan lain, Dwi pun mengeluarkan Cincin yang di pakainya. ia pun mengarahkan cincinnya ke arah mata Clara.
tiba-tiba, cincin tersebut mengeluarkan sebuah cahaya putih dan mata Clara pun menjadi silau.
"aahhhh ". Clara berteriak dan menutup matanya. Clara pun melepaskan tubuh Dwi dari lilitannya.
Dwi pun berhasil selamat dari Clara. dan Clara pun kembali ke wujud manusianya.
"kau hampir saja membuatku mati, Clara! apa kau sudah gila? ". ucap Dwi dengan nada marah.
Clara tak menanggapi ucapan Dwi. ia pun segera bangkit dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
"awas, kau Dwi! ". Clara memandang ke arah Dwi dengan sorot mata tajam.
sementara Dwi, ia hanya menggelengkan kepalanya. ia terkekeh geli melihat tingkah Clara.
harusnya dirinya yang marah, namun ini malah sebaliknya.
visual Dwi pangga