BUKAN MANUSIA

BUKAN MANUSIA
1.Prolog


ALVIN KAVINDAR, pemuda yang berperawakan tinggi tegap dengan wajah tampan itu adalah cucu sulung dari pengusaha terkenal yaitu KAVINDAR PRAHASTA. Banyak yang mengatakan jika dia beruntung dengan semua itu, namun siapa sangka bahwa dia hanyalah pemuda kesepian yang merindukan orangtuanya.


*****


MENTARI AULIA, seorang gadis baik hati yang selalu bersikap ramah kepada siapa saja yang dia temui, gadis yang tidak pernah mendapati catatan buruk sedikitpun dari setiap guru pembimbingnya, membuatnya disukai banyak orang.


*****


Landon - Inggris


Alvin melajukan mobilnya membelah jalanan yang saat itu tidak terlalu padat, sedangkan Dion yang kini duduk disampingnya hanya bisa menggeleng kesal.


Dion Aldebaran adalah adik sepupu Alvin yaitu anak dari adik sang ayah, sementara dia mempunyai satu adik angkat yaitu Elang Aditya.


" Gaya lu..." pekik Dion saat mereka memasuki gerbang Mansion megah itu dengan cepat.


" Lu bedua cepetan masuk, udah ditungguin Oppa" suara Elang memekik dari atas balkon membuat Alvin mengangguk.


" Pagi oppa.." sapa Alvin.


" Tumben oppa ngumpulin kita pagi pagi" cetus Dion mendudukan dirinya tepat disamping Alvin.


" Di.. bisa diem dulu" ucap Sandi Aldebaran(Ayah Dion).


" Dua jam lagi kita akan berangkat ke Indonesia, tanpa terkecuali" ucap KAVINDAR setelah menghembuskan nafasnya.


krik.. krik.. krik.. krik..


" APA.." pekik semua orang yanga ada didalam ruangan tersebut.


" Apa.. gak masalah pa, terus yang handle perusahaan disini siapa pa" tanya Sandi berusaha menolak dengan halus.


" Kamu tenang saja San, disini sudah ada Ardi dan beberapa orang kepercayaan papa" jawab Kavindar membuat Sandi terperangah, ternyata semua sudah dipersiapkan matang matang oleh sang Ayah.


Ternyata karena itu.. pikir mereka.


" Itulah Alasan sebenarnya, Al.." batin Kavindar. " Oppa juga akan membuka rahasia yang selama ini oppa tutupi"


" Kita akan rayakan disana Al, oppa juga akan bawa kamu kunjungi makam ibu kamu" ucap Kavindar membuat Alvin berhenti mengelak. Sudah lama dia tidak pernah lagi mengunjungi makam sang ibu.


Namun yang menjadi tanda tanya besar, adalah ketika semenjak kecil dia tidak pernah tau bagaimana rupa sang Ayah, bahkan untuk mengenal sang ibu dia hanya bisa menatap foto wanita yang telah melahirkannya tanpa pernah melihat wujudnya.


" Baiklah Oppa.." jawab Alvin berjalan menuju kamarnya meninggalkan mereka yang kini masih berkumpul.


" Elang, Dion.. kalian berkemas lah" titah Kavindar kepada kedua cucunya itu.


" Baik Oppa.." keduanya mengangguk sambil meninggalkan Kavindar dan Sandi di ruangan tersebut.


" Sandi, segera siapkan beberapa botol ramuan sirih untuk perjalanan kali ini" ucap Kavindar membuat Sandi mengangguk.


" Terutama untuk Alvin, buat sebanyak mungkin untuk menekan aurahnya, sebisa mungkin kita menghalau penyerangan mereka" sambung Kavindar serius membuat Sandi kembali mengangguk.


" Pa.. apakah perjalanan kali ini memakan waktu lama" tanya Sandi.


" Papa tidak bisa memprediksikan nya Sandi, yang jelas perjalanan kali ini tidak akan mudah" jawab Kavindar.


" Semoga perjalanan kali ini berjalan lancar pa" ucap Sandi.


" Papa pun berharap hal yang sama sandi, karna keselamatan Alvin adalah tanggung jawab Papa" jawab Kavindar berlalu menuju Kamarnya diikuti Sandi yang juga menuju kamarnya.


Akhirnya mereka memilih untuk mengerjakan tugas masing masing karna satu jam lagi mereka akan langsung menuju bandara.


TBC....