Bisakah Menjadi Kita?

Bisakah Menjadi Kita?
MENIKAH?


Ashana mengerjakan matanya berkali-kali. Ia tidak mimpi. Di hadapannya ini benar-benar Achazia. Bukan patung apalagi boneka.


"Memang semalam ada apa?" Gumam Ashana mengingat kejadian semalam.


"Ooh.. aku ingat," Gumamnya saat sudah mengingatnya.


Ashana menghela napas. Tadi wanita itu sudah mencoba untuk bangun tapi Achazia terlalu erat memeluk pinggangnya. Jika ia memaksa untuk bangun, Ashana takut Achazia akan terbangun nantinya.


"Jadi aku harus seperti ini sampai dia bangun?" Gumam Ashana pelan. Ya, mau bagaimana lagi. Ia hanya bisa pasrah sambil menunggu Achazia untuk bangun.


Ashana menatap Achazia yang mulai menggerakkan matanya. Takut kalau di anggap memperhatikan, wanita itu kembali memejamkan kedua matanya.


"Hmm..." Achazia membuka matanya. Pria itu sempat menyipitkan mata saat melihat Ashana berada dalam pelukannya. Tapi saat ia mengingat kejadian semalam, Achazia tersenyum kecil.


"Terima kasih, karenamu aku bisa tidur nyenyak," Ucap Achazia. Tangannya terulur mengusap lembut puncak kepala Ashana.


Ashana yang sebenarnya tidak tertidur hanya bisa menahan napas saat tangan Achazia menyentuh rambutnya. 'Bagaimana ini? Aku harus bagaimana?' Gumamnya dalam hati.


"Bangunlah, kau tidak pandai berbohong." Ucap Achazia yang membuat Ashana ingin menghilang saat itu juga.


"Hmm.. Hoaaam!!" Ashana kembali berakting. Wanita itu seakan-akan baru bangun dari tidurnya dengan tangan yang mengucek mata.


"Kau sudah bangun?" Tanya Ashana pada Achazia. Suaranya sengaja wanita itu serak-serakan. Biar terlihat baru bangun tidur.


"Aktingmu masih jelek." Ucap Achazia.


Ashana yang memang sudah ketahuan hanya bisa mengerucutkan bibirnya. Wanita itu mengalihkan tatapannya. Tidak mau menatap Achazia. "Kau tertidur memeluk tubuhku. Aku ingin bangun, tapi takut kau malah terbangun." Ucapnya sedikit malu.


"Baguslah." Balas Achazia.


Ashana menatap Achazia. Wanita itu mengerutkan dahi. "Bagus apanya?"


Achazia tidak menjawab. Pria itu malah menarik Ashana ke dalam pelukannya.


"Tu-tuan," Panggil Ashana terbata karena terkejut dengan apa yang dilakukan Achazia.


"Mulai sekarang jangan panggil aku tuan. Panggil aku dengan namaku,"


"A-Achazia, kau---apa yang kau lakukan?"


"Memelukmu,"


"Aku tahu, tapi---"


"Apa kau tidak bisa bertahan sebentar saja?" Tanya Achazia dengan suara beratnya yang khas.


Ashana meneguk salivanya. Wanita itu mengangguk. Membiarkan Achazia menelusup ke lehernya.


Achazia memejamkan kedua matanya. Pria itu menghirup aroma khas dari wanita yang ada di pelukannya sekarang ini. Ia merasa berbeda. Saat malam tidur di temani Ashana, mimpi itu tidak datang. Mimpi yang sering mengganggu tidurnya tidak datang saat ada Ashana di sampingnya. Achazia juga merasa lebih tenang jika ada wanita itu di sampingnya.


Achazia berdecak saat mendengar suara panggilan telepon. Pria itu dengan terpaksa melepas Ashana lalu beralih pada ponselnya.


"Ada apa?" Sapa Achazia ketus. Terdengar orang yang di ajak bicara itu terkekeh.


"Kau kenapa? Mood mu sedang buruk?"


"Cepat katakan apa yang mau kau katakan," Ucap Achazia yang tidak mau berbasa-basi.


"Baik, baik. Kau akan ke kantor?"


"Iya,"


"Sekarang kau dimana?"


"Di rumah,"


"Di rumah?!"


Achazia meringis. Pria itu menjauhkan ponsel dari telinga. "Kenapa memang?"


"Biasanya kau sudah ada di kantor jam segini."


Achazia melirik jam dinding yang ada di kamarnya. Benar, biasanya jam segini ia sudah berada di kantor.


"Ada sesuatu yang harus aku kerjakan."


"Wow, apa itu?"


"Kau tidak perlu tahu. Untuk apa kau menanyakan aku akan ke kantor atau tidak?" Achazia mengembalikan topik pembicaraan.


"Aku sekarang sudah berada di kantormu. Tepatnya di ruanganmu,"


"Aku ada urusan denganmu,"


"Baiklah, aku akan kesana." Setelah mematikan sambungan teleponnya, Achazia menoleh ke samping. Pria itu mengernyit saat tidak menemukan Ashana di sampingnya. "Kemana dia?"


Achazia turun dari atas ranjang. Pria itu memilih untuk membersihkan diri dulu dan bersiap. Setelah itu ia akan keluar mencari Ashana.


Achazia keluar kamar dengan tangan yang masih sibuk mengancing kemeja. Bahkan dasi dan jas pun masih tersampir di bahu. Entah kenapa ia khawatir saat melihat Ashana tidak ada di sampingnya.


"Ternyata kau disana," Ucap Achazia saat melihat Ashana sedang membuat sarapan di dapur.


Ashana yang merasa terpanggil menoleh. Wanita itu tersenyum saat Achazia berjalan menghampirinya. "Kau mau sarapan apa?"


"Apa saja," Ucap Achazia. Biasanya pria itu akan sarapan di kantor. Tapi entah mengapa ia ingin sarapan di apartemen.


Selama menunggu sarapannya selesai, Achazia duduk di meja makan dengan tangan yang sibuk memainkan ponsel. Sesekali pria itu menatap Ashana yang sibuk membuat sarapan. Dan bersamaan dengan senyuman kecil keluar.


"Sudah siap," Ashana membawa dua piring nasi goreng untuknya dan Achazia. Wanita itu menaruhnya satu di hadapan Achazia.


"Dimana Ailee?" Tanya Ashana. Karena wanita itu tidak menemukan Ailee dimanapun.


"Dia akan datang ke apartemen nanti, sekitar jam delapan." Jawab Achazia.


"Oh,"


Saat Achazia sibuk melahap nasi goreng yang dibuat Ashana, tanpa pria itu sadari sedari tadi Ashana memperhatikannya. 'Dia tidak seburuk yang ku kira,' Gumam wanita itu dalam hati. Tidak sadar kalau Achazia sudah menatap ke arahnya.


"Kau kenapa?" Tanya Achazia yang melihat Ashana senyum-senyum sendiri.


Ashana yang baru sadar langsung menggelengkan kepalanya. Wanita itu tersenyum kikuk. "Tidak, tidak. Aku tidak papa." Ucapnya yang sebenarnya malu sendiri.


"Aku mau ke kantor, kau mau ikut?" Tanya Achazia.


Ashana mengangkat pandangannya. "Boleh?"


"Sebenarnya sih tidak. Tapi karena kau adalah asisten ku, jadi kau harus ikut. Terserah kau mau apa disana. Yang penting saat aku membutuhkanmu kau harus ada di hadapanku."


"Termasuk menjadi karyawan lagi?"


"Kau ingin menjadi karyawan lagi? Apa gaji nya masih kurang cukup?"


"Aku terlalu nyaman dengan pekerjaan itu sampai aku tidak bisa meninggalkannya."


"Terserah kau. Yang penting saat aku membutuhkanmu kau harus ada."


"Aku akan ikut!" Balas Ashana senang.


"Mm.. tapi, apakah tidak akan ada orang yang membicarakan kita kalau kita tinggal serumah seperti ini,"


Achazia tersenyum. "Justru itu yang aku inginkan."


Ashana mengerutkan dahi tidak mengerti. "A-aku masih tidak mengerti."


"Adrian sudah memberitahukan semuanya padamu."


"Tapi ini tidak ada dalam pembicaraan kami sebelumnya."


"Ini masih berhubungan."


Ashana tampak berpikir. Tapi wanita itu tetap tidak mengerti. "Aku tetap tidak mengerti."


Achazia menghela napas. Pria itu meneguk airnya sampai tandas. "Agar Ibuku tahu dan tidak jadi menjodohkan ku dengan wanita pilihannya."


"Oh, begitu. Eh, tapi kalau keluargaku tahu bagaimana?" Tanya Ashana panik. Ia teringat pada keluarganya. Mereka pasti akan kecewa kalau ada berita seperti itu menimpa Ashana.


"Tenang saja. Itu tidak akan terjadi. Aku sudah merencanakan semuanya." Ucap Achazia.


"Lalu kalau kau sudah tidak di jodohkan?"


"Aku tidak akan jadi menikah."


"Kalau ibumu tetap memaksamu menikah?"


Achazia menatap Ashana. "Aku akan menikah denganmu."


Uhuk uhukk!!


Ashana yang baru saja memasukkan suapan nasi goreng ke dalam mulutnya langsung tersedak. Wanita itu menatap Achazia dengan mata yang membola besar. "MENIKAH DENGANKU?!"