
Setelah menelepon Achazia, Alice bersiap untuk tidur. Tadi ia menelepon untuk menanyakan Achazia kemana. Tadinya ia berniat akan menginap di apartemen Achazia karena ia bosan di rumah. Pergerakannya di rumah sangat dibatasi membuatnya tidak betah. Saat ia menelepon Achazia, kakaknya itu tidak menjawabnya. Dan Alice sudah pergi ke apartemen Achazia. Tapi tidak menemukan pria itu. Pas sekali Abqari meneleponnya. Ia yakin pasti kakaknya itu bersama dengan tiga sahabatnya. Kalau tidak bersama dengan mereka dengan siapa lagi? Menginap di rumah Ashana? Ashana tidak akan melakukan hal bodoh dengan mengizinkan pria lain menginap di rumahnya.
Alice menghembuskan napasnya kasar. "Kapan aku keluar dari rumah ini? Aku sudah tidak betah. Pantas saja kakak memilih untuk tinggal di apartemen."
Alice melempar tubuhnya ke atas kasur. Pikirannya jadi melayang ke mana-mana. Ia membayangkan kalau ia sudah bekerja, ia akan hidup seperti kakaknya. Membeli apartemen dan sibuk dengan pekerjaan. Keluarga Comman terlalu kolot untuk Alice yang pemberontak.
Alice berdecak saat mendengar notifikasi ponselnya. Jangan bilang kalau itu adalah pesan dari Abqari. Beberapa minggu ini pria itu selalu mengganggunya. Mengatakan kalau dia mencintainya. Walaupun Alice sudah menolaknya berkali-kali, ia masih pantang menyerah. Lagipula Alice juga berpikir jika ingin menerima seorang pria. Tidak mungkin ia menerima Abqari yang notabene pria yang tidak cukup dengan satu wanita sebagai pacarnya. Alice bukan wanita yang pantas karena ia adalah pencemburu. Dan ia akan bersikap manja pada pria yang mencintainya.
Alice meraih ponsel yang masih dalam jangkauan. Ia mengernyit saat melihat notifikasi dari nomor tidak dikenal. Tidak mungkin salah sambung. Karena nomor keluarga Comman sangat di rahasiakan dan tidak sembarang orang mempunyai nya.
Dengan perasaan yang biasa saja, Alice membuka pesan itu. "Permainan ini baru dimulai?" Wanita itu mengerutkan keningnya. "Maksudnya apa?"
Setelah beberapa menit berpikir, Alice mengangkat kedua bahunya. "Ah tidak penting." Ia kembali menaruh ponselnya di atas nakas. Sebelum tidur, Alice memilih untuk pergi ke dapur dulu. Tiba-tiba saja ia merasa haus.
"Nona, anda belum tidur?"
Alice melemparkan senyum pada pelayan yang sedang membereskan dapur. Ia mengambil gelas lalu mengisinya dengan air. "Belum. Aku haus."
"Kenapa kau tidak meminta pelayan saja untuk membawakan air minum ke atas. Dari kamarmu menuju dapur itu sangat jauh." Ucap pelayan itu.
Alice menggeleng. "Tidak apa. Lagipula aku belum mengantuk."
"Mau aku bawakan camilan?"
Alice kembali menggeleng. "Tidak perlu."
"Hubungi aku saja kalau kau butuh sesuatu nona. Tidak perlu turun ke bawah."
Alice menyapu tatapannya. Kondisi rumah sudah sepi. "Kau belum tidur?"
"Tadi aku sudah kembali ke kamar, tapi tuan Arga membutuhkan sesuatu jadi aku kembali lagi." Ucap pelayan itu.
Alice menganggukkan kepalanya. "Yasudah kalau begitu, aku ke atas dulu. Kau cepatlah tidur."
"Baik, nona."
Alice mendudukkan bokongnya ke atas kasur. Tiba-tiba saja kantuknya hilang karena mendapatkan pesan yang tidak terduga itu. Sebenarnya ada perasaan khawatir walaupun ia berusaha untuk tenang. Alice menggelengkan kepalanya. Ia mengusir pikiran negatif yang tiba-tiba bersarang di otak.
"Tenang Alice, itu bukan apa-apa."
*****
Ailee berdecak lalu menaruh ponselnya ke atas kasur. Kenapa sih Adrian selalu mengganggu disaat ia sedang mati-matian berusaha melupakan pria itu? Ailee lelah di permalukan. Ia tidak bisa terus begini.
Kini Ailee sudah berada di kontrakan miliknya. Sebelum pulang, Achazia berpesan kalau ia tidak akan pulang ke apartemen, jadi mungkin besok pagi Ailee tidak perlu berangkat ke apartemen Achazia.
Rencananya Ailee akan membeli apartemen yang berada tidak jauh dari apartemen milik Achazia. Apartemen yang akan ia beli tidak semewah apartemen milik tuannya. Ailee bisa membeli apartemen hasil uang ia bekerja.
Ailee menoleh saat notifikasi pesan di ppnselnya berbunyi. Ia mengerutkan kening. Ailee hanya memiliki nomor Achazia, Ashana dan Ibu pemilik kontrakan. Tidak ada nomor lain selain itu. Lagipula Ailee memang tidak punya kenalan selain itu. Keluarga besar ayahnya tidak mau mengurusnya setelah ayahnya meninggal. Sedangkan ibunya meninggal saat melahirkannya. Hubungan antara Ayah dan Ibu Ailee tidak di restui oleh keluarga besar sang ayah. Sedangkan keluarga besar sang Ibu, tidak ada yang tahu. Bahkan ayahnya pun tidak tahu soal itu.
Ailee meraih ponselnya. Ia membaca pesan dari nomor yang tidak di kenal. "Pasti salah kirim." Gumamnya. "Eh, tapi tunggu." Jarinya terhenti saat akan menghapus pesan itu. Ia kembali membacanya ulang. "Permainan baru saja di mulai?" Ailee mencoba mencerna kalimat itu. Tapi ia tidak mengerti. "Mungkin benar salah sambung." Tanpa berpikir panjang Ailee langsung menghapus pesan itu.
"Apakah itu penting?" Ailee menaruh ponselnya lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah cuci muka dan gosok gigi, Ailee bersiap untuk tidur.
Ailee mengambil selimut yang ada di dalam lemari. Entah kenapa malam ini terasa dingin. Tidak adanya Achazia di apartemen tidak menjadikannya sebagai alasan untuk bangun pagi. Mau libur atau tidak pun ia wajib bangun pagi.
Ailee meraih ponselnya lalu menaruh ponsel itu tepat di sebelahnya. Ia susah memasang alarm agar ia tidak telat untuk bangun pagi.
Saat matanya sudah terpejam, suara notifikasi itu mengganggu indera pendengarannya yang membuat matanya kembali terbuka. Ailee berdecak lalu membuka ponselnya.
Ailee menatap ponselnya tidak percaya. "Bagaimana dia bisa tahu?" Ucap Ailee. Ia menoleh ke sekitar, apakah orang itu menaruh kamera di kamarnya? Tapi tidak mungkin. Kontrakannya selalu ia kunci dan Ibu pemilik kontrakan tidak mungkin membiarkan orang tidak kenal masuk ke dalam kontrakan.
"Tenang Ailee, tenang. Semua akan baik-baik saja." Di pesan itu tertulis kalau ia tidak boleh menganggap remeh pesan yang baru saja tadi di kirimkan dan yang membuat Ailee takut adalah orang itu tahu kalau Ailee sudah menghapus pesannya.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Lebih baik aku tidur." Ailee memilih untuk tidak memikirkannya dan tidur. Jika panik begini, ia pasti akan berpikir yang tidak-tidak. Jadi ia memilih untuk tidak memikirkannya dan tertidur. Mungkin besok pagi ia akan menghubungi nomor itu dan menanyakan apa maksudnya mengirim pesan seperti itu. Dan ia akan menanyakan apakah orang yang mengirim pesan itu mengenalnya atau tidak.
'Tidak ada yang perlu di khawatirkan Ailee. Sekarang tidurlah dan jangan berpikir macam-macam.' Gumam gadis itu dalam hati sebelum masuk ke alam mimpi.
*****