Bisakah Menjadi Kita?

Bisakah Menjadi Kita?
PESAN ALICE


"Apa yang ingin kau katakan?"


Ashana menatap Andini lalu menghela napas. "Kau tidak mau makan dulu?"


"Kau tahu Ashana? Aku sudah menahan diriku selama bekerja agar tidak menerkammu karena tidak langsung mengatakan hal yang membuatku penasaran. Dan sekarang kau menyuruhku untuk makan dulu?" Ucap Andini.


Ashana terkekeh. "Kita mengobrol sambil makan." Ucap wanita itu.


"Baiklah," Andini memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulut.


"Jadi begini," Ashana berdeham sebelum melanjutkan ucapannya.


"Alice mendapat pesan yang sama seperti kita."


Andini yang akan memasukkan suapan kedua langsung terhenti dan menatap Ashana dengan mata yang membulat. "Benarkah?"


Ashana mengangguk. "Kau tahu kalau Comman adalah keluarga terpandang mendapatkan pesan yang salah kirim." Ucapnya. Di pikir-pikir keluarga Andini juga terpandang, tapi Andini tetap mendapatkan pesan itu. Biasanya keluarga terpandang akan di jaga privasinya. Tapi Ashana tidak mau mengatakan itu. Takut membuat Andini marah.


"Ya, benar. Tidak mungkin Alice mendapat pesan yang tidak masuk akal seeprti itu."


"Apakah orang itu mempunyai rencana terhadap kita?"


Andini langsung memukul punggung tangan Ashana pelan. "Kau ini. Yang benar saja. Jangan berpikiran macam-macam."


"Aku hanya bertanya." Elak Ashana.


"Sama saja. Berarti hal seperti itu sudah kau pikirkan."


"Aku hanya takut Andini."


Andini menggelengkan kepalanya. "Untuk apa takut? Itu hanya pesan." Ucapnya. Sebenarnya ia juga takut. Tapi ia tidak bisa menunjukkan rasa takutnya di depan Ashana yang sedang takut. Yang ada Ashana malah tambah takut.


"Hanya pesan? Hei, pesan juga ada pengirimnya?"


"Memang siapa pengirimnya? Zombie? Atau valak sampai kau harus takut?"


"Haish, dia manusia."


"Ya sudah, dia manusia sama seperti kita kenapa harus takut?"


Ashana mendekatkan wajahnya. "Bagaimana kalau dia melakukan sesuatu pada kita?"


"Ya tinggal kita lakukan sesuatu padanya. Memangnya kita tidak bisa melakukan sesuatu?"


Ashana menepuk jidatnya. "Ah sudahlah. Lelah aku bicara denganmu." Kesal, Ashana langsung melahap nasi gorengnya.


Andini menahan diri untuk tidak tertawa. Setidaknya Ashana akan lupa soal pesan itu. Andini takut, tapi ia tidak bisa membuat Ashana tambah takut. Memang siapa yang tidak takut setelah mendapatkan pesan misterius, di tambah orang-orang yang di kenal pun mendapatkannya juga.


Setelah selesai makan mereka kembali ke tempat bekerja lalu fokus pada pekerjaan masing-masing. Keduanya tampak serius sampai waktu pulang mengalihkan perhatian mereka. Setelah selesai, mereka bersiap untuk pulang.


"Kau pulang bersama Achazia?" Tanya Andini saat Ashana akan berjalan melewatinya.


Ashana mengangguk. "Kau pulang sendiri?"


"Y-ya, sendiri."


Ashana menatap Andini dengan alis yang mengerut. Andini menjawab pertanyaannya sambil berpaling. "Apa ini? Ada yang kau rahasiakan dariku?" Tanya Ashana. Dahinya mengerut dengan mata yang memicing.


"Ah, tidak ada. Ak-aku memang pulang sendiri. Biasanya juga memang seperti itu kan?"


"Baiklah, baiklah. Traktir aku makan jika ada sesuatu yang kau sembunyikan dan aku mengetahuinya."


"Y, ya! Tentu saja."


Ashana berjalan melewati Andini dengan kedua mata yang terus menatap Andini. Ia melayangkan dua jarinya ke arah Andini setelah menunjuk kedua matanya. Bergaya seperti orang yang akan terus mengawasi.


Andini berdecak setelah Ashana hilang dari pandangan. "Dasar anak itu. Haish, lagipula kenapa aku harus gugup?" Setelah semua barangnya masuk ke dalam tas, Andini beranjak pergi setelah berpamitan dengan beberapa orang yang masih ada disana.


Sedangkan di tempat lain, Ashana tersenyum melihat Achazia sedang menunggunya di depan pintu mobil pria itu. Ia tersenyum lalu berjalan cepat menghampiri Achazia. Ia sendiri yang meminta Achazia untuk menunggu di parkiran saja karena kebetulan Achazia sudah ada di bawah.


Achazia merentangkan kedua tangannya saat Ashana mendekat. Ia mengernyit saat Ashana berhenti beberapa senti di hadapannya.


"Kau tidak mau memelukku?"


"Aku tidak peduli." Achazia menarik Ashana ke dalam dekapannya. Ia memeluk Ashana erat, tidak mau wanita itu jauh darinya.


Ashana terkekeh di dalam dekapan Achazia. "Biasanya pun kau tidak pernah peduli."


"Ayo masuk."


Ashana mendongakkan kepalanya dalam keadaan masih di pelu Achazia. "Kau menyuruhku masuk setelah aku nyaman? Kau memelukku, membuatku nyaman lalu kau ingin melepaskannya?"


Achazia terkekeh. Kekasihnya ini benar-benar menggemaskan. "Lalu kau mau terus disini, menjadi pusat perhatian?"


Ashana mengedarkan pandangan. Banyak orang yang menatap mereka walaupun malu-malu karena takut Achazia akan marah. "Kau yang mengajariku seperti ini."


Achazia mencubit hidung Ashana. "Kau ini. Mau aku gendong atau masuk sendiri?"


"Memang kau bisa menggendong ku? Aku berat loh."


"Wah, kau meremehkanku ternyata."


Ashana tertawa pelan. "Aku hanya bertanya. Aku tidak meremehkanmu."


"Sama saja." Tanpa basa-basi Achazia langsung mengangkat Ashana membuat Ashana refleks berteriak. Teriakan itu mengundang atensi orang lain. Tapi semua orang langsung kembali normal saat tahu siapa pelakunya.


"Kau gila?"


"Walaupun gila kau tetap mau menjadi kekasihku." Ucap Achazia. Ia membawa Ashana ke kursi sebelah pengemudi lalu mendudukkan nya. Ia memasang sabuk pengaman lalu mengambil ciuman sekilas dari bibir Ashana. Membuat Ashana melebarkan kedua matanya.


Achazia mengedipkan sebelah matanya. "Cuman sekali." Sebelum Ashana mengamuk, Achazia langsung menutup pintu lalu masuk ke dalam mobil.


"Kita akan ke mana?" Tanya Achazia setelah memasang sabuk pengaman.


"Pulang. Menurutmu akan kemana?"


"Ya aku berpikir kau ingin mengajak ku pergi kemana dulu. Ke suatu tempat."


"Kau ini ada-ada saja. Aku tidak punya uang untuk mengajakmu ke suatu tempat."


"Kau lupa siapa kekasihmu hm?"


"Oh jadi kau ingin memamerkan kekayaan mu?"


"Untuk apa? Semua orang juga tahu aku kaya. Tidak perlu di pamerkan."


Ashana menghela napas. "Sudah cepat jalan. Makin lama ucapanmu makin melantur."


Achazia menjalankan mobilnya. Kedua orang itu tidak tahu kalau ada orang yang memerhatikan mereka dari dalam mobil. Andini menghela napas saat mobil Achazia berjalan keluar. "Hampir saja kita ketahuan."


Abercio menatap Andini tidak mengerti. Ia tidak mengerti kenapa Andini tidak mau hubungannya di ketahui orang-orang. "Lagipula Achazia sudah mengetahui hubungan kita."


"Tapi Ashana belum."


"Kau tinggal katakan padanya."


"Tidak semudah itu. Aku harus menyiapkan mental dulu."


"Memangnya kau akan presentasi sampai menyiapkan mental?"


Andini berdecak. Ia mencubit lengan Abercio membuat pria itu meringis. "Kau ini. Kenapa kau selalu punya jawaban untuk menjawab ucapanku?"


Abercio menatap Andini aneh. Kenapa ia bisa jatuh cinta dengan wanita seaneh ini? "Aku punya otak yang bisa mencerna ucapanmu dan langsung menemukan jawabannya."


"Kapan pikiranmu buntu? Katakan padaku. Aku sangat menantikan nya."


Abercio menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Pertanyaan yang tidak masuk akal. Bisa-bisanya Andini menanyakan hal tidak masuk akal seperti itu.


Cup.


Andini melebarkan kedua matanya. Abercio baru mengambil kecupan singkat darinya. Dan dengan polosnya pria itu langsung melakukan mobilnya.


"ABERCIO!!"


*****